Selasa, 26 April 2016

Bandara.


Bandara. 

Gadis itu tidak pernah menyangka, di sanalah tempat terakhir ia merasakan segalanya.... 

____

Bandara.
Selalu ada perasaan yang berkecamuk didada gadis itu ketika berada di tempat itu. Bahkan hanya dengan mendengar tempat itu disebut, perasaannya selalu mengharu biru.

Bagi orang lain, mungkin bandara tidak ada artinya. Apa istimewanya? Tapi tidak dengan gadis itu. 

Bandara adalah saksi bisu atas segala rasa yang pernah ada; adalah bukti bahwa ia - gadis itu pernah merasa begitu percaya; adalah bukti bahwa ia pernah merasa begitu yakin.

Bandara, 
Adalah tempat dimana ia bisa merasakan semuanya. Untuk terakhir kali. Terakhir kali......

____

Malam itu,
Gadis itu berada disana. Mengantar kepergian sosok yang ia anggap begitu berharga. Membiarkan jarak menjadi spasi diantara mereka.
Membiarkan langit menjadi perantara doa dan rindunya. 

Malam itu, 
Gadis itu berada disana. Mengantar kepergian sosok yang membuatnya merasakan segala rasa yang ada – sebelum kini semua tidak akan pernah sama. 

____

Pelukan erat – yang juga hangat itu harus segera dilepaskan dan jarak diantara mereka tercipta seiring dengan langkah kaki orang yang disayanginya itu memasuki ruang keberangkatan.

Meski begitu sesak, namun gadis itu masih mampu tersenyum yakin. Ia harus bisa membuktikan kepada orang yang meragukan lelakinya, bahwa dia bisa. Sungguh, gadis itu tidak ingin lagi ada orang yang memandang orang yang disayanginya itu dengan sebelah mata. Seluruh harapan baik yang dimiliki gadis itu, sungguh, hanya untuk dan tentang lelakinya. 

____

Namun, gadis itu tidak pernah menyangka bahwa malam itu – ditempat yang disebut bandara, adalah malam terakhir ia merasakan semuanya; termasuk hangat pelukannya. 

____

Apa yang terjadi? 

Inilah yang terjadi.
Semesta membawa mereka ke jalan yang berbeda - sebelum keduanya sempat kembali bertemu dan membicarakannya.

Inilah yang terjadi. 
Gadis itu diam dalam keramaian, mencoba mencari inti dari segala pemikirannya, sampai akhirnya ia menemukan sosok itu dalam angannya. 

Sosoknya – lelaki yang setiap mengingatnya, tidak ada lain yang gadis itu lakukan selain tersenyum dan berbisik lirik dalam diam. Berbisik, 

"Semoga kamu bahagia..."

Inilah yang terjadi. 
Meski tahun demi tahun sudah terlewati, ia masih mendapati sosok itulah yang ada dibenaknya. Tetap dibenaknya.........

Jumat, 22 April 2016

Matahari dan bulan.

Izinkan aku berbagi cerita tentang apa yang matahari dan bulan ajarkan padaku hari ini.


___

Hari ini, aku pergi bersama sahabatku. 
Mengurus segala keperluan untuk tugas akhirku dan menyempatkan duduk berdua membahas segala yang ada, termasuk rasa.

Di perjalanan pulang, 
Aku tertegun kagum oleh apa yang bersinar indah di langit malam ini.

Ya, bulan.
Aku sangat suka bulan. Cahayanya meneduhkan.
Indahnya membuat aku terlena. Rasanya tidak ingin satu detikpun aku melewatkan keindahannya. 

Lalu, aku teringat akan apa yang sempat aku keluhkan siang tadi; matahari. 
Sungguh, terik matahari membuat peluh tiada henti membasahi dahi.

Sontak aku berfikir, mengapa berbeda sedangkan yang ditawarkan sama, yaitu sinar - cahaya - terang. Mengapa?

Aku tersadar akan satu hal; aku lebih sering mendengar orang (bahkan aku sendiri) mencerca matahari dibandingkan dengan bulan.

Ketika matahari bersinar terang, terkadang keluhan akan sinar - cahaya dan terangnya lebih sering terdengar diawal. Namun, tidak dengan bulan. Orang selalu memuji sinar - cahaya dan terangnya.

___

Saat mataku tak melepaskan pandangan dari bulan di langit malam ini, aku dapat mendengar bulan berbisik, "Aku dan matahari ingin mengajarkanmu sesuatu. Namun, kami hanya akan memberi kata kunci. Kata kuncinya adalah: aku dan matahari adalah anugerah dan langit adalah apa yang ditakdirkan terjadi"

Ah… Lihatlah! Aku selalu suka cara semesta yang selalu membiarkan aku menyibak sendiri tabir di balik yang ada - untuk menemukan sebuah makna - pelajaran yang berharga.

Aku mengernyitkan dahi. Apa? Potongan-potongan makna kehidupan apa yang bisa aku temukan dari kata kunci itu? Hening……. aku diam dalam sebuah pencarian makna.

Dan ya! Sepertinya aku tau apa yang sedang diajarkan matahari dan bulan hari ini padaku.
"Bodoh sekali, semua jawaban ada dikata kunci itu sendiri", batinku.

Begini…

"Langit adalah apa yang ditakdirkan terjadi"

Ya! Aku mengibaratkan siang sebagai kebahagiaan, kemudahan, kesehatan, kesuksesan, keberhasilan, dan segala sesuatu yang sesuai dengan harapan. Malam, aku mengibaratkannya dengan sesuatu yang berlawanan dengan siang.

Lalu, apa hubungannya dengan matahari dan bulan yang menganggap dirinya sebagai anugerah?

Sadarkah dengan apa yang cenderung kita lakukan sebagai manusia?

"Kita cenderung mudah menyepelekan ketika dalam keadaan lapang"

Itulah mengapa kita lebih sering mencerca terik matahari - menyambut kehadirannya dengan keluhan. Mengapa? Karena langit masih siang, karena begitu banyak hal yang (sebenernya) membuat kita terlena - lupa.

Tapi, coba lihat bagaimana kita begitu mensyukuri sinar lilin ditengah kegelapan.
Disaat listrik padam dan hanya ada satu lilin yang bercahaya, pasti tak henti kita berkata, "untung ada lilin… gapapa deh walaupun cuma ada satu"

___


YA! Inilah yang sedang diajarkan matahari dan bulan padaku hari ini,
Tentang sebuah pemaknaan. Tentang bersyukur. Tentang menerima - apapun adanya.

Inilah yang sedang diajarkan matahari dan bulan padaku hari ini,
Untuk selalu ingat bahwa anugerah akan selalu ada - apapun yang terjadi - apapun bentuknya.

Sebenarnya, ketika kita merasa hidup kita sulit,
semua bukan karena keadaan yang tidak berpihak kepada kita.

Ujian. Kegagalan.
Kekecewaan. Pedihnya kehilangan. Dan segala sesuatu yang menyesakkan……

Andai kita bisa memaknai semua hal itu dengan baik, maka sungguh, mungkin kita tidak akan mengeluh. Sungguh, kita justru akan berharap mereka tinggal lebih lama. 

Mengapa?
Karena justru kehadiran gelaplah yang membuat kita mampu melihat sebuah cahaya - seredup apapun sinarnya.

Mengapa?
Karena cobaan-cobaan hiduplah yang justru membuat kita mensyukuri segala nikmat yang ada.