Selasa, 11 Maret 2014

Bukan apa, tapi bermakna!


Sebenernya, banyak banget hal yang membawa pelajaran berharga untuk kita. Sekecil apapun itu. Sesuatu yang ga pernah kita anggap bermakna, bahkan.

1. Bolpen favorit

Kalo aku sih punya satu bolpen favorit yang kalo ga nulis pake bolpen itu, rasanya ga enaaaakkkk banget.   Tulisannya jadi ga rapilah, terlalu tipislah, ketebelan lah, dll. Kalian punya? Kita bisa belajar satu hal tentang hidup lho. Coba deh, kita nulis pake bolpen yang paling ga kita suka. Walaupun ada bolpen favorit kita, jangan ganti. Buat keadaan seolah-olah kita ga punya pilihan lain selain bolpen yang ga kita suka itu. Apapun jadinya tulisan kita, mau jadi jelek, ketebelan, ketipisan atau apapun itu, biarin aja. Apapun hasilnya, terima. Coba terus cara ini. 

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari ini?
Kita bakal tau bahwa kadang dalam hidup ini kita dihadapkan pada satu pilihan yang ga sesuai dengan harapan dan keinginan. Dan….. kita ga punya pilihan lain selain menjalani apa yang harus kita terima (itulah kenapa tadi jangan ganti bolpen walaupun ada bolpen favorit yang bisa dipake. buat seolah-olah kita ga punya pilihan lain). Prosesnya? Mungkin ga akan sesuai sama yang kita harapkan. Tapiiiiiii, apapun itu, walaupun harus dengan sesuatu yang ga kita suka, tetap menghasilkan sesuatu kan?

2. Kertas kosong

Coba deh, ambil selembar kertas kosong. Tulis apa aja yang pengen kita tulis dikertas itu. Pake bolpen ya, jangan pake pensil. Dan gaboleh pake tip-ex. Apapun yang kita mau, tulisin disitu. Teruuuusss nuliiiiss. Nah, nanti kalo ada salah nulis, typo gitu, dicoret aja tulisannya. Diulang terus ya. Kalo bisa sih nulisnya yang panjang biar nanti jelas hasilnya. Kalo udah selesai, liat tulisan itu. Tau ga apa yang barusan kita tulis? GAMBARAN KEHIDUPAN. 

Kesalahan dalam penulisan yang kita lakukan, tidak akan bisa terhapus. Tapi, kita punya kesempatan untuk memperbaiki dibait atau dibaris selanjutnya. Begitu juga kehidupan. 
Apa yang sudah kita lakukan, tidak akan bisa terhapus. Kita memang diciptakan dengan kekurangan sehingga pasti melakukan kesalahan. Tapi, kita harus ingat satu hal bahwa kita diberi kemampuan dan kesempatan untuk memperbaikinya.

3. Pilih jalan yang macet!

Pernah ga kita sengaja pilih jalan yang macet? Selagi emang ga ada agenda lagi, sesekali perlu lho sengaja lewat jalan yang macet. Buang waktu? Engga kok sebenernya kalo kita mau ambil pelajarannya. Macet? Lama & rumit, tapi sampe juga. Tapi sadar ga kita kalo ada pelajaran hidup dari macet?

Hidup kita kan emang? Kadang kita harus nglewatin proses yang ga enak buat bisa mencapai sesuatu. Sama kayak macet itu tadi. Ga peduli selama apapun macetnya, kita akan sampe ke tempat yang kita tuju. Ga peduli gimana prosesnya, kita akan sampai pada tujuan kita.

4. Nah, dinomor ini aku mau cerita pengalaman liburanku ke Bali ya.

Waktu di Bali, aku jalan gitu di atas karang-karang sama mama. Aku yang di depan, gandeng mama. Tapi mama di belakang kasih komando, harus ke sana, ke sini, jangan nginjek karang yang ini, jangan yang itu, dll. Seketika aku tersadar. Begitulah kehidupan.
Akan ada saatnya anak di depan. Dihadapkan perjalanan yang ga mudah, harus bisa menentukan pilihan dengan baik karena ada orang yang bergantung sama kita. Iya kan? Kalo salah napak di karang, yang bakal jatoh ga cuma aku, tapi juga mama ku. Tapi walaupun anak di depan, bukan berarti orang tua berhenti mengarahkan jalan mana yang sebaiknya kita pilih. Ketika kita harus mampu menjadi pribadi yang mandiri, kita tetap membutuhkan nasehat orang tua. Harus dan perlu dinasehati. Tidak bisa menutup telinga dan mata untuk hal yang satu ini.
Hmmmm.. apalagi ya??? Banyak kok sebenernya. Banyak banget. Belajar jadi pribadi yang tidak mengabaikan hal yang tampak ga bermakna yuk, siapa tau ada pelajaran besar di baliknya :)

Minggu, 02 Maret 2014

Anggap saja begitu....


Ketika realita tidak sama seperti apa yang kita harapkan, jangan memperburuk keadaan dengan keluhan.
Ketika realita tidak sama seperti apa yang kita inginkan, jangan semakin dalam kita membawa diri kita pada kekecewaan.

Ya, anggap saja begitu..

"Kenapa sih ini pake hujan segala malem minggu, pengen keluar tau! bosen dirumah!"
Ssttt… di luar sana banyak sekali orang yang dengan susah payah menerjang hujan demi membawa hasil untuk keluarga mereka di rumah. Mungkin Tuhan meminta kita belajar untuk tidak hanya membuang waktu dan uang untuk hanya sekedar senang dan penghilang rasa bosan. Anggap saja begitu.

"Kenapa sih harus sakit? Ada yang harus aku kerjain nih!"
Siapa tau, Tuhan meminta kita untuk sejenak saja beristirahat. Tubuh kita memiliki haknya untuk diistirahatkan, bukan? Anggap saja begitu.

"Ini apa-apaan sih pake ga ada duit segala, pengen nyalon tau! pengen beli baju, pengen beli sepatu"
Siapa tau, Tuhan tidak memberi rezekiNya kepada kita karena kita hanya akan menggunakannya untuk sebuah keinginan. Di luar sana, bahkan untuk makan hari ini saja mereka tidak dapat mencukupi. Apalagi esok hari. Anggap saja begitu.

"Ini kenapa lagi mobil pake gabisa dipake? Harus naik motor kan jadinya?!"
Bukankah yang naik motor masih patut disyukuri daripada yang naik sepeda? Bukankah yang naik sepeda masih patut disyukuri daripada yang jalan kaki? Anggap saja begitu.

"Kenapa siiiiihhhh aku disini-sini ajaaa. Berusaha udah, berdoa udah, semua udah. Tapi ga bisa kayak orang-orang itu. Sedikit aja dong pengen lebih tinggi kayak mereka!"
Siapa tau, kita akan lupa diri di tingginya posisi, itulah sebabnya kita tetap di sini. Bukan untuk disesali kok. Dimanapun kita berada, ketika kita memaksimalkan semuanya, tidak akan pernah menjadi sia-sia. Anggap saja begitu.

"Punya badan kok ngga banget sih ya. Ini perut gede banget, betis juga, bahu juga lebar banget. Ga ada bagusnya diliat!"
Hey…. Siapa tau, Tuhan menjaga kita dari hal yang tidak diinginkan, justru dari apa yang kita anggap sebagai kekurangan. Bayangkan kalau tubuh kita seindah yang kita mau, belum tentu kita bisa menutupinya. Mungkin saja kita akan dengan bangga memamerkan keelokan tubuh kita. Oh bukan, bukan soal agama yang membolehkan atau melarang kita memakai baju terbuka, tapiiiii bukankah wanita akan selalu menjadi mutiara di depan para pria? Anggap saja begitu.

"Kenapa waktu itu aku harus ngalamin hal yang ga enak banget kayak gitu? Sumpah! Jatuh tu ga enak banget!"
Tuhan memang menjatuhkan kita lewat dinamika kehidupan, agar kita mengambil pelajaran. Meminta kita menjadi pribadi yang lebih paham melalui pelajaran tersebut. Lebih paham apa? Lebih paham dalam segala hal. Bukan seberapa sering kita jatuh, namun seberapa banyak pelajaran yang kita ambil dari kegagalan yang kita alami. Kalau tidak sesakit itu, mungkin kita tidak akan sehebat ini sekarang. Anggap saja begitu.

Intinya…
Ketika ketidaksesuaian terjadi antara harapan dengan kenyataan dan kita masih bisa mengubahnya, maka usahakanlah. Ketika tidak, cara kita memandang suatu hal lah yang harus diubah. Semua hanya soal persepsi.