Ketika realita tidak sama seperti apa yang kita harapkan, jangan memperburuk keadaan dengan keluhan.
Ketika realita tidak sama seperti apa yang kita inginkan, jangan semakin dalam kita membawa diri kita pada kekecewaan.
Ya, anggap saja begitu..
"Kenapa sih ini pake hujan segala malem minggu, pengen keluar tau! bosen dirumah!"
Ssttt… di luar sana banyak sekali orang yang dengan susah payah menerjang hujan demi membawa hasil untuk keluarga mereka di rumah. Mungkin Tuhan meminta kita belajar untuk tidak hanya membuang waktu dan uang untuk hanya sekedar senang dan penghilang rasa bosan. Anggap saja begitu.
"Kenapa sih harus sakit? Ada yang harus aku kerjain nih!"
Siapa tau, Tuhan meminta kita untuk sejenak saja beristirahat. Tubuh kita memiliki haknya untuk diistirahatkan, bukan? Anggap saja begitu.
"Ini apa-apaan sih pake ga ada duit segala, pengen nyalon tau! pengen beli baju, pengen beli sepatu"
Siapa tau, Tuhan tidak memberi rezekiNya kepada kita karena kita hanya akan menggunakannya untuk sebuah keinginan. Di luar sana, bahkan untuk makan hari ini saja mereka tidak dapat mencukupi. Apalagi esok hari. Anggap saja begitu.
"Ini kenapa lagi mobil pake gabisa dipake? Harus naik motor kan jadinya?!"
Bukankah yang naik motor masih patut disyukuri daripada yang naik sepeda? Bukankah yang naik sepeda masih patut disyukuri daripada yang jalan kaki? Anggap saja begitu.
"Kenapa siiiiihhhh aku disini-sini ajaaa. Berusaha udah, berdoa udah, semua udah. Tapi ga bisa kayak orang-orang itu. Sedikit aja dong pengen lebih tinggi kayak mereka!"
Siapa tau, kita akan lupa diri di tingginya posisi, itulah sebabnya kita tetap di sini. Bukan untuk disesali kok. Dimanapun kita berada, ketika kita memaksimalkan semuanya, tidak akan pernah menjadi sia-sia. Anggap saja begitu.
"Punya badan kok ngga banget sih ya. Ini perut gede banget, betis juga, bahu juga lebar banget. Ga ada bagusnya diliat!"
Hey…. Siapa tau, Tuhan menjaga kita dari hal yang tidak diinginkan, justru dari apa yang kita anggap sebagai kekurangan. Bayangkan kalau tubuh kita seindah yang kita mau, belum tentu kita bisa menutupinya. Mungkin saja kita akan dengan bangga memamerkan keelokan tubuh kita. Oh bukan, bukan soal agama yang membolehkan atau melarang kita memakai baju terbuka, tapiiiii bukankah wanita akan selalu menjadi mutiara di depan para pria? Anggap saja begitu.
"Kenapa waktu itu aku harus ngalamin hal yang ga enak banget kayak gitu? Sumpah! Jatuh tu ga enak banget!"
Tuhan memang menjatuhkan kita lewat dinamika kehidupan, agar kita mengambil pelajaran. Meminta kita menjadi pribadi yang lebih paham melalui pelajaran tersebut. Lebih paham apa? Lebih paham dalam segala hal. Bukan seberapa sering kita jatuh, namun seberapa banyak pelajaran yang kita ambil dari kegagalan yang kita alami. Kalau tidak sesakit itu, mungkin kita tidak akan sehebat ini sekarang. Anggap saja begitu.
Intinya…
Ketika ketidaksesuaian terjadi antara harapan dengan kenyataan dan kita masih bisa mengubahnya, maka usahakanlah. Ketika tidak, cara kita memandang suatu hal lah yang harus diubah. Semua hanya soal persepsi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar