Sabtu, 30 Agustus 2014

Tentang sebuah tanya dan rasa.


Entah kata apa yang sesuai yang dapat mengungkapkan apa yang aku rasakan.
Berderai air mata ketika aku menulis ini.
Ada teriakan dari dalam hati tentang suatu keadaan yang kadang aku anggap sebagai sebuah ketidakadilan.
Terkadang hati ini menjerit. Bukan karena aku menyalahkan Sang Pemilik Kehidupan atas apa yang terjadi. Tapi jeritan itu adalah ungkapan sebagai manusia yang terkadang tidak mengerti maksud dan tujuan Sang Pencipta.

Begitukah kehidupan, Ya Allah?
Seperti inikah jalan cerita yang Kau gariskan untuk panggung kehidupan yang harus kami jalani?

Rasa-rasanya tidak ada yang tidak aku terima dikehidupanku. Rasa-rasanya tidak ada kebutuhanku yang tidak terpenuhi.
Semua nikmat dan anugerah yang Allah berikan, BEGITU LUAR BIASA.

Tapi kadang hati ini menjerit…… Ada satu kepedihan yang begitu luar biasa……..
Ya Allah……. Kenapa didepanku banyak sekali orang yang tidak seberuntung aku??????

Kenapa masih ada orang yang tidur beralaskan bumi dan beratapkan langit sedangkan aku tidur dikamar yang nyaman dengan tempat tidur yang menjanjikan mimpi indah untukku????

Kenapa masih ada orang yang harus mengais tumpukan sampah untuk mendapatkan makanan sedangkan aku kapan saja dapat menikmati nikmatnya rezekiMU hanya dengan membuka tudung saji????

Kenapa masih ada orang yang menjahit bajunya agar tetap layak pakai sedangkan aku bisa kapan saja membeli baju baru hanya karena rasa bosan dan sebuah keinginan???

Kenapa masih ada orang yang harus mengayuh becak dan sepedanya untuk menjemput rezekiMU ditengah panasnya sinar mentari sedangkan aku bisa saja disaat yang bersamaan sedang menikmati minuman dan makanan yang lezat disebuah cafe yang dingin dan nyaman????

Kenapa didepan mataku masih aku temukan orang-orang yang berjuang melawan sakit ditubuhnya sedangkan aku seringkali menyia-nyiakan sehatku????

Kenapa didepanku masih ada orang yang mempertanyakan dan menyuarakan rindu kepada orang tuanya sedangkan aku terkadang tidak sepenuhnya bersikap baik terhadap orangtuaku????

Kenapa didepanku masih banyak hal yang bahkan tidak sanggup aku jelaskan satu persatu??????? 

Aku manusia biasa, Ya Allah. Rasa-rasanya wajar kalau aku menganggap ini sebuah ketidakadilan. Bukankah memang terkadang apa yang terjadi adalah sebuah misteri? Wajarkan Ya Allah ketika aku mempertanyakannya?

Ya! Kadang aku merasa ini semua tidak adil. Aku marah! Aku merasa bersalah! Pedih!!! Ya Allah, pedih!!!!!
Tapi aku selalu berusaha menenangkan hati dan jiwaku agar aku tidak berkelanjutan menyalahkan kehidupan, dengan berfikiran bahwa mungkin ini adalah alasan kenapa Allah tidak menciptakan aku dan kita semua di ruangan hampa. Mungkin itulah kenapa Tuhan ciptakan kita berdampingan dengan orang-orang yang berbeda dengan kita. YA, KITA HARUS MENGAMBIL PELAJARAN ATAS KEHADIRAN MEREKA.

Ya Allah, terimakasih Kau telah ciptakan orang yang kurang sehat sehingga aku mampu dianggap lebih sehat.
Terimakasih karena Kau telah ciptakan orang yang kurang beruntung sehingga aku mampu dianggap lebih beruntung.

Ya Allah, 
Jika memang kehadiran mereka Engkau gariskan untuk memberi pelajaran bagi kami, maka jadikanlah kami menjadi hambaMu yang peka terhadap apa yang Kau sisipkan melalui mereka.

Ya Allah,
Jika memang segala kesulitan, kekurangan, kesempitan, dan kesakitan yang mereka terima adalah peringatan untuk kami agar lebih bersyukur, maka sudilah kiranya Engkau membayar mereka dengan kekuatan, kesabaran, dan kebahagiaan.

Ya Allah,
Jika memang kami diperkenankan merasa tidak adil, marah bahkan merasa bersalah dengan segala perbedaan yang ada, maka kami mohon perkenankan kami mengungkapkan apa yang kami rasakan tersebut dengan sesuatu yang baik. Perkenanlah kami mengungkapkan apa yang kami anggap sebagai ketidakadilan dengan rasa syukur yang tiada henti, dengan sikap dan perilaku ingin terus berbagi. Jangan jadikan kami sebagai hambaMU yang mengungkapkan perasaan yang kami rasakan dengan justru menjauhiMU.

Ya Allah,
Begitu beratnya yang harus mereka terima yang mana semua itu semata-mata hanya untuk memberikan pelajaran berharga bagi kami.
Maafkan kami yang masih sangat kurang mensyukuri nikmatMu ya Allah. Maafkan kami…… Sudilah kiranya Engkau membimbing kami agar kami menjadi hambaMu yang pandai bersyukur agar tidak ada murkaMU karena sebuah kufur, Ya Rabb..

--------------------------------------------

Tulisanku kali ini memang berbeda dengan tulisan yang sudah aku tulis sebelumnya.
Pada tulisan ini aku tekankan pada "aku". Ya, ini adalah tentang aku. Tentang apa yang aku rasakan, apa yang aku alami, dan apa yang aku pikirkan.
Bukan, ini bukan semata-mata menjual pikiran dan pendapatku akan sesuatu. Benar-benar aku niatkan semua untuk berbagi. Tidakkah aku mengharapkan sesuatu? Tentu saja aku mengharapkan sesuatu dari apa yang aku tulis ini untuk siapapun yang membacanya.

Setiap orang memiliki kehidupannya sendiri. Memiliki cerita yang membentuk kepribadian serta pola pikirnya masing-masing.
Itulah sebabnya kenapa ada satu hal yang ingin aku tekankan; AKU TIDAK MENUNTUT ORANG LAIN MENYETUJUI APA YANG MENJADI NILAI DAN PENDAPATKU. Semua karena kita memiliki pendapatnya masing-masing.

Disini aku hanya ingin mengajak serta mengingatkan bagi siapapun yang membaca ini khususnya diriku sendiri untuk selalu menjadi orang yang peka terhadap setiap apa yang terjadi baik pada diri kita sendiri maupun orang lain. Kenapa harus peka? Karena yang tersurat berbeda dengan yang tersirat, bukan? Kita harus mampu mencari apa yang tersembunyi. 

Semoga kita semua adalah orang yang peka terhadap apa yang terjadi. Semoga kita semua adalah orang yang tidak enggan untuk berbagi sebagai wujud rasa syukur atas nikmat dan anugrah yang tiada henti. Aamiin Aamiin Ya Rabbal'alamiin…. 

Rabu, 20 Agustus 2014

Pemaknaan mengubah kenyataan.

Sudah sepatutnya kita menyadari bahwa diri kita adalah sepenuhnya tanggung jawab kita. Kalau bukan kita yang menjaga hati dan pikiran kita, siapa lagi?

Apa yang terjadi tidaklah sama dengan apa reaksi kita terhadapnya. Berbeda pula dengan bagaimana kita memaknainya. Selain (mau tidak mau) menerima yang terjadi, kita juga harus bijaksana untuk menyikapi dan memaknai. Apa yang terjadi, apa yang kita terima, apa yang kita rasakan adalah sesuatu yang sudah menjadi  bagian kita. Menyakitkan? Menyedihkan? Mematahkan semangat? Menguras emosi dan air mata? Ya! Mungkin semua itu kita rasakan saat kita mengalami sesuatu. Tapi sebenarnya bagaimana reaksi kita selanjutnya terhadap sesuatu itulah yang paling penting.

Kita kehilangan sesuatu. Marah? Sedih? Jengkel? Itulah yang terjadi. Tapi mari kita maknai. Siapa tau dari kehilangan ini kita harus belajar untuk lebih berhati-hati. 

Hubungan kita harus berakhir dengan orang yang kita sayangi. Marah? Sedih? Merasa kehilangan bahkan habis harapan? Wajar. Kehilangan memang bukanlah hal mudah. Apapun bentuknya. Tapi mari kita maknai. Siapa tau dari kehilangan ini justru pintu untuk orang lain yang lebih baik untuk kita terbuka lebar.

Kita harus jauh dari orang tua untuk alasan pekerjaan ataupun pendidikan. Sedih? Berat hati? Pasti. Tapi mari kita maknai. Siapa tau itu mengajarkan kita untuk menyadari bahwa semakin kedepan, kehidupan semakin menuntut kita untuk mandiri. None of us are going to be here forever. 

Saat kita membutuhkan telinga untuk mendengar keluh kesah, tak satupun orang yang ada disamping kita. Marah karena merasa mereka tidak menyempatkan waktu? Sedih? Pasti kita rasakan itu. Tapi mari kita maknai. Siapa tau, Tuhan memang mengatur sedemikian rupa segala urusan mereka sehingga mereka bahkan sedetikpun tidak mampu meluangkan waktunya untuk kita. Supaya apa? Supaya kita tau bahwa ada yang selalu ada untuk mendengar keluh kesah dan resah kita. Siapa? Ya, DIA. Tuhan Yang Maha Kuasa. Ternyata, dari ketidakhadiran mereka itulah cara Tuhan meminta kita untuk mengingatNYA.

Sudah berusaha sekuat tenaga tapi tetap saja ditempat yang sama, tetap saja tidak bisa menjadi seperti orang lain. Merasakan ketidakadilan? Merasa sia-sia? Wajar. Itu pasti dirasakan oleh setiap kita yang mengharapkan hasil usaha kita selalu sesuai dengan harapan. Tapi mari kita maknai. Siapa tau, Tuhan tidak mengubah keadaan kita menjadi lebih seperti apa yang kita kehendaki karena Tuhan menjaga kita dari sifat tinggi hati. Bukankah kita manusia sering lupa bersyukur? Mungkin itulah cara Tuhan menjaga kita supaya tidak menjadi hambaNYA yang kufur. Sedikit tapi mencukupi adalah lebih baik daripada banyak tapi membuat kita lupa diri. Toh, apa yang orang lain punya, tidak akan mengurangi jatah kita. Begitu juga sebaliknya. Apa yang kita punya tidak akan menambah jatah orang lain. Semua punya porsinya masing-masing.

Itu adalah beberapa contoh dari sekian banyak hal yang terjadi dalam hidup ini yang sebenarnya selalu bisa dilihat dari sisi yang berbeda. 

Jangan terima utuh semua perasaan yang kita rasakan atas apa yang terjadi, terlebih membiarkannya menguasai hidup kita. Mari kita maknai. Dengan memaknai, waktu dan perasaan kita tidak akan terbuang sia-sia karena kita mampu mengambil hikmah dan pelajaran yang berarti dari apa yang terjadi. Dengan memaknai, yang menyakitkan akan terasa menjadi sesuatu yang menguatkan. Dengan memaknai, kegagalan akan menjadi motivasi untuk terus berusaha meraih keberhasilan. Dengan memaknai, yang berat akan menjadi ringan, yang sukar akan menjadi mudah, dan yang hitam akan menjadi putih.

Hidup bukan sekedar apa yang terjadi tetapi juga apa dan bagaimana kita menyikapi serta memaknai.