Rabu, 20 Agustus 2014

Pemaknaan mengubah kenyataan.

Sudah sepatutnya kita menyadari bahwa diri kita adalah sepenuhnya tanggung jawab kita. Kalau bukan kita yang menjaga hati dan pikiran kita, siapa lagi?

Apa yang terjadi tidaklah sama dengan apa reaksi kita terhadapnya. Berbeda pula dengan bagaimana kita memaknainya. Selain (mau tidak mau) menerima yang terjadi, kita juga harus bijaksana untuk menyikapi dan memaknai. Apa yang terjadi, apa yang kita terima, apa yang kita rasakan adalah sesuatu yang sudah menjadi  bagian kita. Menyakitkan? Menyedihkan? Mematahkan semangat? Menguras emosi dan air mata? Ya! Mungkin semua itu kita rasakan saat kita mengalami sesuatu. Tapi sebenarnya bagaimana reaksi kita selanjutnya terhadap sesuatu itulah yang paling penting.

Kita kehilangan sesuatu. Marah? Sedih? Jengkel? Itulah yang terjadi. Tapi mari kita maknai. Siapa tau dari kehilangan ini kita harus belajar untuk lebih berhati-hati. 

Hubungan kita harus berakhir dengan orang yang kita sayangi. Marah? Sedih? Merasa kehilangan bahkan habis harapan? Wajar. Kehilangan memang bukanlah hal mudah. Apapun bentuknya. Tapi mari kita maknai. Siapa tau dari kehilangan ini justru pintu untuk orang lain yang lebih baik untuk kita terbuka lebar.

Kita harus jauh dari orang tua untuk alasan pekerjaan ataupun pendidikan. Sedih? Berat hati? Pasti. Tapi mari kita maknai. Siapa tau itu mengajarkan kita untuk menyadari bahwa semakin kedepan, kehidupan semakin menuntut kita untuk mandiri. None of us are going to be here forever. 

Saat kita membutuhkan telinga untuk mendengar keluh kesah, tak satupun orang yang ada disamping kita. Marah karena merasa mereka tidak menyempatkan waktu? Sedih? Pasti kita rasakan itu. Tapi mari kita maknai. Siapa tau, Tuhan memang mengatur sedemikian rupa segala urusan mereka sehingga mereka bahkan sedetikpun tidak mampu meluangkan waktunya untuk kita. Supaya apa? Supaya kita tau bahwa ada yang selalu ada untuk mendengar keluh kesah dan resah kita. Siapa? Ya, DIA. Tuhan Yang Maha Kuasa. Ternyata, dari ketidakhadiran mereka itulah cara Tuhan meminta kita untuk mengingatNYA.

Sudah berusaha sekuat tenaga tapi tetap saja ditempat yang sama, tetap saja tidak bisa menjadi seperti orang lain. Merasakan ketidakadilan? Merasa sia-sia? Wajar. Itu pasti dirasakan oleh setiap kita yang mengharapkan hasil usaha kita selalu sesuai dengan harapan. Tapi mari kita maknai. Siapa tau, Tuhan tidak mengubah keadaan kita menjadi lebih seperti apa yang kita kehendaki karena Tuhan menjaga kita dari sifat tinggi hati. Bukankah kita manusia sering lupa bersyukur? Mungkin itulah cara Tuhan menjaga kita supaya tidak menjadi hambaNYA yang kufur. Sedikit tapi mencukupi adalah lebih baik daripada banyak tapi membuat kita lupa diri. Toh, apa yang orang lain punya, tidak akan mengurangi jatah kita. Begitu juga sebaliknya. Apa yang kita punya tidak akan menambah jatah orang lain. Semua punya porsinya masing-masing.

Itu adalah beberapa contoh dari sekian banyak hal yang terjadi dalam hidup ini yang sebenarnya selalu bisa dilihat dari sisi yang berbeda. 

Jangan terima utuh semua perasaan yang kita rasakan atas apa yang terjadi, terlebih membiarkannya menguasai hidup kita. Mari kita maknai. Dengan memaknai, waktu dan perasaan kita tidak akan terbuang sia-sia karena kita mampu mengambil hikmah dan pelajaran yang berarti dari apa yang terjadi. Dengan memaknai, yang menyakitkan akan terasa menjadi sesuatu yang menguatkan. Dengan memaknai, kegagalan akan menjadi motivasi untuk terus berusaha meraih keberhasilan. Dengan memaknai, yang berat akan menjadi ringan, yang sukar akan menjadi mudah, dan yang hitam akan menjadi putih.

Hidup bukan sekedar apa yang terjadi tetapi juga apa dan bagaimana kita menyikapi serta memaknai.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar