Selasa, 29 Desember 2015

Bukan materi, namun ketulusan hati.

Datang padaku seorang teman, menyampaikan keinginan dan rasa bersalahnya. 

Keinginannya – berbagi. Sangat mulia.
Rasa bersalahnya – ia tidak bisa karena sedang tidak memiliki apapun untuk diberi. 

__

Apa yang sedang tidak dia miliki? Materi? 

Jika itu masalahnya, sungguh, seharusnya tidak perlu membuatnya bersedih hati.

__

Berbagi, tidak harus selalu dengan materi. 

Bayangkan kejadian ini. 

Kita sedang berada di jalan menuju ke sebuah tempat. Lalu, kita melihat (maaf) seorang pengemis. Ia sedang memegang perutnya. Sungguh sepertinya dia lapar. 

Melihat itu, sontak hati kita merasa iba dan ingin memberikan sesuatu – uang misalnya. 

Tapi apa mau dikata, ternyata kita sama sekali tidak membawa uang. Sepeser pun. Karena tempat yang kita tuju adalah ATM, baru saja kita akan mengambil uang, misal. 

Atau,
Apa mau dikata, kita sedang berada di lampu merah dan jarak kita dengan pengemis itu tidak dekat. Dengan keadaan lalu lintas yang padat, sulit menjangkaunya. 

Sehingga, kita tidak dapat memberikan sesuatu kepadanya. Padahal, ingin sekali berbagi. 

__

Pintu yang satu tertutup, pintu lain terbuka. 

Jangan berkecil hati jika kita tidak bisa membantu seseorang dalam bentuk materi. 

Berdoalah dengan segala kesungguhan hati. Sampaikan pada semesta.

“Kalau memang jalan rezeki orang tersebut tidak melalui aku, semoga melalui orang lain”

__

Pernahkah kita bayangkan apa yang bisa terjadi dengan doa yang kita panjatkan? 

Bayangkan,

Bagaimana jika doa yang kita panjatkan dengan penuh ketulusan hati itu dapat membuka pintu langit dan semesta mengantarkan doa kita langsung kepada Sang Pencipta? 

__ 

Sesungguhnya, pengemis itu tidak hanya menahan lapar, tapi dia juga merasakan sebuah amarah. Ia mempertanyakan keadilan dan campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Mengumpat dengan segala sesak di dada mengapa kehidupan membuatnya kelaparan.

Tapi tahukah kita apa yang terjadi? 

– 

Doa kita dikabulkan. 

Tidak melalui kita, namun semesta mengirim langkah kaki dan uluran tangan yang lain untuk membantu mereka. 

Dan apa? 

Kini pengemis itu merasa bahagia. 
Perutnya terisi.
Ia membuang jauh amarahnya.
Tidak lagi mempertanyakan kasih sayang Sang Pencipta.

Dan sejak kejadian itu, tahu kah kita apa yang selalu dilakukan pengemis itu? 

BERSYUKUR dan PERCAYA. 

Ia selalu percaya bahwa pertolonganNYA nyata dan bersyukur karena ada orang yang membantunya. 


Lihatlah. 

Kita memang tidak memberi materi.
Namun apa yang kita bisikkan kepada semesta, sangat cukup memberikan kebaikan kepada sesama. 

Doa kita menjadikan seseorang selalu mengingat penciptanya. 

Bukankah sebaik-baik hamba adalah yang mengingat dan mensyukuri nikmat Sang Pencipta? 

__

Tidak bisa memberi materi, kita bisa memberi seseorang dengan sopan dan santun budi pekerti yang kita miliki. Ramah & tersenyum misalnya. Selalu ingat untuk ucapkan maaf, tolong, dan terimkasih contohnya. 

Jika memberikan itu juga tidak bisa kita lakukan, maka kita masih punya bibir dan hati yang dapat dengan tulus mendoakan kebaikan untuk sesama. 

__

Tidak seharusnya kita mempersempit arti memberi.

Berbagi tidak harus selalu dengan materi.

Karena.. 

Berbagi – memberi adalah apa yang kita niatkan untuk kebaikan orang lain dengan segala ketulusan hati.

Selasa, 15 Desember 2015

Sesederhana itu. Sederhana sekali.

Untuk menutupi kebohongan yang satu, pasti ada kebohongan lainnya. 

Berarti, apa yang kita lakukan diawal, akan mempengaruhi bagaimana selanjutnya, bukan? 

Sejenak terlintas dalam pikir, bahwa sebab-akibat — efek domino — bukan hanya milik keburukan, sesuatu yang negatif. Tapi dimiliki oleh segala aspek kehidupan, termasuk hal yang baik, hal positif. 

__


Begini. Bayangkan. 

Kita sedang berada disebuah pusat perbelanjaan. Saat sedang menuju sebuah toko, kita melewati petugas cleaning service yang sedang membersihkan lantai. 

Tak jarang, kita hanya melewatinya begitu saja. Tanpa permisi. 

Padahal, apa sulitnya kita mengucapkan permisi dan maaf? Permisi dan maaf karena kita melewati – menginjak lantai yang ia bersihkan.

Mari renungkan.

Bagaimana kalau petugas itu sedang berada pada titik dimana dia merasa sedih, kecewa, putus ada dan merasa tidak berharga karena dia hanya bisa menjadi petugas cleaning service? 

Bagaimana jika ternyata dia merasa seperti itu dan kita melewatinya tanpa permisi – menyisakan perasaan tidak dihargai dan rendah dalam dirinya. 

Kita memang tidak berniat melakukannya, tapi itu sangat mungkin terjadi. 

Dan, 
Bagaimana jika perasaan sedihnya semakin bertambah? Bagaimana kalau ternyata, langkah kita melewatinya tanpa permisi yang tidak kita niatkan menyakiti itu, membuatnya merasa lelah dan akhirnya menyerah oleh keadaan? 

Jangan, jangan pernah remehkan apa yang bisa disebabkan oleh pedihnya perasaan tidak berharga. Itu bisa membuat orang memilih mengakhiri hidupnya. 

Bagaimana kalau ia memutuskan untuk mengakhir hidupnya? Menyisakan luka bagi orang disekitar dan keluarganya. Bagaimana kalau luka itu menimbulkan hal buruk lain terjadi? Misal, keuangan keluarganya menjadi tidak baik dan harus ada yang kehilangan mimpi karena putus sekolah karenanya. Dan masih banyak kemungkinan buruk lainnya. 

Sadarkah apa yang secara tidak kita sadari, secuil sikap kita akan sangat mempengaruhi kehidupan orang lain?

Kehidupan orang lain memang bukan urusan kita. Namun yakinlah, kalau kita bisa membaca jelas apa sebab-akibat dari apa yang kita lakukan secara lebih luas, maka kita akan selalu melakukan yang terbaik. Kita tidak akan membiarkan diri kita menjadi awal yang buruk untuk keberlangsungan hidup orang lain. 

Berantai. Begitulah kehidupan.

__

Sekarang, sebaliknya. 

Bayangkan jika kita mengucapkan permisi dan maaf saat melewati petugas yang sedang merasa tidak berharga itu. Bayangkan. Apa yang bisa terjadi? 

Bisa saja, 
Saat kita melewati dan mengucapkan maaf dan permisi, muncul rasa bahagia karena ia merasa masih ada orang yang menghargainya. 

Lebih jauh lagi. Apa yang bisa dia lakukan dengan rasa bahagia yang tanpa sengaja sudah kita torehkan dalam hatinya?

Dia bekerja menjadi lebih giat
Dia melakukan hal baik kepada orang lain.
Dia bisa selalu tersenyum.
Dia bisa mengucap syukur dan memohon ampun kepada Sang Pencipta karena sempat merasa hidupnya tak adil.

Dan masih banyak hal baik lainnya yang bisa dia lakukan. 

__ 

Percayalah. 

Segala apa yang kita lakukan, akan membawa deretan cerita panjang. Baik dalam hidup kita maupun orang lain. 

__

Semoga kita selalu bisa berperangai yang baik. Yang santun & anggun.