Datang padaku seorang teman, menyampaikan keinginan dan rasa bersalahnya.
Keinginannya – berbagi. Sangat mulia.
Rasa bersalahnya – ia tidak bisa karena sedang tidak memiliki apapun untuk diberi.
__
Apa yang sedang tidak dia miliki? Materi?
Jika itu masalahnya, sungguh, seharusnya tidak perlu membuatnya bersedih hati.
__
Berbagi, tidak harus selalu dengan materi.
Bayangkan kejadian ini.
Kita sedang berada di jalan menuju ke sebuah tempat. Lalu, kita melihat (maaf) seorang pengemis. Ia sedang memegang perutnya. Sungguh sepertinya dia lapar.
Melihat itu, sontak hati kita merasa iba dan ingin memberikan sesuatu – uang misalnya.
Tapi apa mau dikata, ternyata kita sama sekali tidak membawa uang. Sepeser pun. Karena tempat yang kita tuju adalah ATM, baru saja kita akan mengambil uang, misal.
Atau,
Apa mau dikata, kita sedang berada di lampu merah dan jarak kita dengan pengemis itu tidak dekat. Dengan keadaan lalu lintas yang padat, sulit menjangkaunya.
Sehingga, kita tidak dapat memberikan sesuatu kepadanya. Padahal, ingin sekali berbagi.
__
Pintu yang satu tertutup, pintu lain terbuka.
Jangan berkecil hati jika kita tidak bisa membantu seseorang dalam bentuk materi.
Berdoalah dengan segala kesungguhan hati. Sampaikan pada semesta.
“Kalau memang jalan rezeki orang tersebut tidak melalui aku, semoga melalui orang lain”
__
Pernahkah kita bayangkan apa yang bisa terjadi dengan doa yang kita panjatkan?
Bayangkan,
Bagaimana jika doa yang kita panjatkan dengan penuh ketulusan hati itu dapat membuka pintu langit dan semesta mengantarkan doa kita langsung kepada Sang Pencipta?
__
Sesungguhnya, pengemis itu tidak hanya menahan lapar, tapi dia juga merasakan sebuah amarah. Ia mempertanyakan keadilan dan campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Mengumpat dengan segala sesak di dada mengapa kehidupan membuatnya kelaparan.
Tapi tahukah kita apa yang terjadi?
–
Doa kita dikabulkan.
Tidak melalui kita, namun semesta mengirim langkah kaki dan uluran tangan yang lain untuk membantu mereka.
Dan apa?
Kini pengemis itu merasa bahagia.
Perutnya terisi.
Ia membuang jauh amarahnya.
Tidak lagi mempertanyakan kasih sayang Sang Pencipta.
Dan sejak kejadian itu, tahu kah kita apa yang selalu dilakukan pengemis itu?
BERSYUKUR dan PERCAYA.
Ia selalu percaya bahwa pertolonganNYA nyata dan bersyukur karena ada orang yang membantunya.
–
Lihatlah.
Kita memang tidak memberi materi.
Namun apa yang kita bisikkan kepada semesta, sangat cukup memberikan kebaikan kepada sesama.
Doa kita menjadikan seseorang selalu mengingat penciptanya.
Bukankah sebaik-baik hamba adalah yang mengingat dan mensyukuri nikmat Sang Pencipta?
__
Tidak bisa memberi materi, kita bisa memberi seseorang dengan sopan dan santun budi pekerti yang kita miliki. Ramah & tersenyum misalnya. Selalu ingat untuk ucapkan maaf, tolong, dan terimkasih contohnya.
Jika memberikan itu juga tidak bisa kita lakukan, maka kita masih punya bibir dan hati yang dapat dengan tulus mendoakan kebaikan untuk sesama.
__
Tidak seharusnya kita mempersempit arti memberi.
Berbagi tidak harus selalu dengan materi.
Karena..
Berbagi – memberi adalah apa yang kita niatkan untuk kebaikan orang lain dengan segala ketulusan hati.