Senin, 15 Februari 2016

Begitulah sejatinya sebuah hikmah.

Sore tadi aku duduk bersama ibuku, 
berbincang mengenai hal yang terjadi, yang aku lihat dan aku diizinkan semesta berperan di dalamnya.

Lagi dan lagi, semesta membuatku berdecak kagum.
Betapa semesta begitu indah cara kerjanya.

Lagi dan lagi, aku dihadapkan pada satu keadaan yang membuatku tak henti mengucapkan terimakasih kepada semesta atas suguhan cobaan yang diberikan kepadaku.

Sempat aku marah kepada semesta atas semua yang aku terima. Tidak adil. Hakku diambil.
Dipaksa menjalankan peran yang kala itu, tidak sesuai dengan kemampuanku.
Sewajarnya hanya menopang lima, namun aku dipaksa mampu menopang dua sampai tiga kali lipatnya.

Namun, begitulah sejatinya sebuah HIKMAH. 
Ia bagaikan bunga yang indah kelopak dan sempurna mekarnya bisa kita nikmati nanti, pada waktunya.

Kini aku semakin menyadari bahwa segala sesuatu ada hikmahnya.
Bahwa segala yang kita terima tidak pernah mungkin salah alamat.
Dibekali begini karena akan menjalani begitu. Dilatih begini karena akan menghadapi begitu.
Ditempa begini karena akan berperan begitu. Tidak salah alamat.

Sebagai manusia biasa, rasa kecewa itu ada. Namun tanpa disadari, ternyata cobaan itulah yang membuat kita dewasa dan mandiri dengan sendirinya. Cobaan adalah sebaik-baiknya pengalaman dan pengalaman adalah sebaik-baiknya guru.

Aku tidak akan lagi terlena dengan kecewaku.
Tidak akan lagi menyalahkan keadaan atas suguhan cobaan yang menjadi bagianku.

Aku tidak akan pernah menjadi sempurna, tidak akan pernah.
Tapi setidaknya aku berusaha menjadi orang yang mensyukuri cobaanku dan menjadikannya sebaik-baiknya guruku dan menerapkan hikmah yang aku dapatkan untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi kehidupanku, Kehidupan dengan orang-orang disekitarku.

Terimakasih Ibunda. Semesta menyuguhkanku sebuah buku yang tanpamu, aku tidak akan pernah mampu membaca dan memahaminya dengan baik.

Terimakasih atas semua bimbinganmu. Atas semua nasihatmu.
Atas semua jabaran makna yang memperkaya pemahamanku, yang mempertajam kepekaanku.

Karnamu, aku bisa dengan lapang dada menerima semua kekecewaanku.

____

Semesta, peran apa lagi yang kau minta aku mainkan? 
Aku siap. 

INSYA ALLAH AKU MAMPU..

1 komentar:

  1. halo mbak annisa, saya cintia dari UGM. Mbak saya ingin bertanya terkait YKAKY, kalo mau jadi volunteer dan terlibat di kegiatan-kegiatan YKAKY gimana ya caranya? makasih :)

    BalasHapus