Jumat, 26 September 2014

Life is hard, huh?


Life is hard, huh?
Kita bentuk seideal apapun, segala sesuatunya pasti menemukan ketidaksesuaian. Mungkin itu sebabnya kenapa Allah ciptakan istilah "serba salah".
Yap! That's life.

Ketika sebuah kebaikan dianggap sebagai kedok untuk mencari sebuah pujian padahal bisa saja itu bentuk ajakan; that's life.
Ketika sebuah keburukan dianggap sebagai ketidakpatuhan padahal bisa saja itu sebuah kekhilafan; that's life.
Ketika memaafkan dianggap sebagai sebuah kenaifan padahal bisa saja dari memaafkan itulah kedamaian hati didapatkan; that's life.
Ketika membalas menjadi satu-satunya pilihan padahal memaafkan jauh lebih bijaksana dan berwibawa; that's life.
Ketika terus memberi kesempatan dianggap sebagai kebodohan padahal bisa saja itu kesempatan terakhir untuk mencapai perbaikan; that's life.
Ketika terus percaya dianggap sebagai ketidakrealistisan padahal bisa saja dari rasa percaya itu segala usaha menjadi lebih mudah dilakukan; that's life.
Ketika perjuangan dianggap sebagai sebuah kesia-siaan padahal bisa saja setelah itu terwujudlah apa yang kita harapkan; that's life.
Ketika sebuah harapan tidak sesuai dengan kenyataan padahal segala sesuatunya sudah diusahakan; that's life.
Ketika berpisah dengan orang yang disayang menjadi hal yang harus dilakukan; that's life.
Ketika mencari kesalahan orang lain menjadi suatu kebiasaan sehingga kita lupa bahwa kebiasaan ini saja sudah menjadi satu kesalahan bagi diri sendiri; that's life.
Ketika segala sesuatu yang terjadi tidak dapat dijelaskan; that's life.
Ketika sulit sekali menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan, that's life.

Dan ketika kita tidak menemukan kata yang sesuai untuk menggambarkan apa yang kita rasakan tentang kehidupan pun, itu lah kehidupan.
Banyak hal yang kita rasakan, banyak hal yang kita lihat, banyak hal yang kita dengar, banyak hal yang kita harapkan, banyak hal yang kita sayangkan, banyak hal kita syukuri, banyak hal yang kita maknai, dan masih banyak hal lagi yang sulit untuk dijelaskan. 

That's life, rite?

Dimana letak kedamaian? Dimana letak penerimaan?
Adalah dua hal yang tidak akan teraih ketika kita terlalu berfokus terhadap segala ketidaksesuaian yang terjadi. Ya, kedamaian dan penerimaan. 
Bagaimana bisa merasakan kedamaian bahkan kita menerima saja tidak bisa?

Terkadang, kita harus meluangkan sedikit waktu ditempat yang kita bisa duduk diam, melihat kegiatan orang-orang disekitar kita, merenungi semuanya.
Terkadang, kita harus meluangkan sedikit waktu untuk benar-benar duduk berdua dengan diri kita sendiri. Berdua? Ya, kita dan hati kita.

Dalam diam, yang harus kita lakukan bukanlah mencari alasan kenapa justru ketidaksesuaian yang kita terima. Dalam diam, yang harus kita lakukan adalah mengajak diri kita sendiri untuk berdamai dengan kenyataan. 

Coba kita perhatikan orang yang harus mengais sampah untuk tetap makan, orang yang harus menyapu jalanan, orang yang harus membersihkan toilet umum, orang harus menjadi kuli angkut, orang yang harus menjadi tukang parkir, dan masih banyak lagi. Perhatikan mereka. Kalau mereka ditanya, tentu mereka mengharapkan sesuatu yang lebih layak dari keadaan mereka saat ini. But, you know, that's life! Life goes on. No matter what. Itulah sebabnya mereka tetap gigih berjuang ditengah ketidaksesuaian yang mereka miliki. Kalau mereka yang tidak lebih beruntung dari kita saja sanggup melanjutkan hidup dengan gigih, kenapa kita tidak?

Ajak diri kita untuk menerima segala ketidaksesuaian yang ada.
Karena bukan hidup yang harus menyesuaikan kita, tapi kita lah yang harus menyesuaikan hidup, supaya ditengah ketidaksesuaian yang ada, masih ada rasa syukur yang tersisa.


Sabtu, 13 September 2014

Tentang orang yang dipundaknya dibebankan amanah untuk menjaga, mengasihi, membimbing, dan mencintai kita...


Tak kuasa aku menahan air mata ini saat menyadari begitu cepat waktu berlalu…..
Rasa-rasanya baru kemarin aku menjadi gadis bertubuh mungil yang selalu memanggil ayahnya untuk menghentikan kegiatannya lalu memintanya untuk menemani tidur… Rasa-rasanya baru kemarin aku menjadi gadis mungil yang setiap sore selalu bermain air di halaman rumah… Rasa-rasanya baru kemarin sore aku menjadi gadis mungil yang senang sekali memakai baju ayahnya dan memeluk manja sebuah boneka… Melihat papa yang semakin hari semakin tua, pedih rasanya hati ini. Begitu cepat waktu berlalu…..

Ya, ini tentangmu, Pa..
Aku baru saja menyaksikan seorang ayah menikahkan anak perempuannya dan tiba-tiba aku mencoba menerka apa yang dirasakan dan dipikirkan laki-laki itu. Aku mencoba menerka apa yang dipikirkan dan dirasakan seorang laki-laki yang harus merelakan gadis mungilnya yang sejak kecil selalu bersamanya, yang  tidur selalu ditemaninya, yang suara manja memanggilnya selalu menjadi panggilan hangat yang akan selalu dirindukan, untuk menjadi milik dan tanggung jawab laki-laki lain. 

"Bakti seorang wanita setelah ia menikah adalah untuk suaminya terlebih dahulu"
Aku sering mendengarnya, Pah.. Aku sering mendengar pernyataan itu…

Sontak hati ini berteriak, "Bagaimana bisa?????"
Bagaimana bisa Pah, aku yang sebagai anak masih banyak kurangku dalam mewujudkan bakti untukmu, harus membagi bakti ini untuk laki-laki lain??? Bagaimana bisa aku menjadikan suamiku kelak menjadi laki-laki yang harus lebih aku prioritaskan, sedangkan papa yang sudah sepantasnya selalu menjadi nomer satu untukku saja masih sering aku nomerdua kan dengan segala kesibukanku. Bagaimana bisa aku harus mati-matian mengerahkan seluruh usahaku untuk memberi yang terbaik untuk suamiku kelak, sedangkan kadang aku memilih diam untuk melihat papa lebih dulu memulai sesuatu.

Ya Allah…
Semoga aku dan siapapun gadis kecil yang sekarang sudah tumbuh dewasa, akan mendapatkan laki-laki yang baik untuk menjadi imam kami, agar tidak sia-sia kami membagi bakti kami… Semoga Kau beri kami suami yang mampu menjadi sandaran agar ayah kami tidak sia-sia melepaskan kami… Semoga Kau beri kami suami yang bertanggung jawab supaya ayah kami tidak dihantui rasa khawatir anak perempuannya menjadi milik orang lain.

Ya Allah…
Semoga Kau jadikan kami anak yang tidak berhenti dalam bakti. Semoga Kau jadikan kami anak yang selalu mengasihi, mencintai, dan menghormati kedua orang tua kami. Maafkan kami ya Allah, kalau selama ini kami belum mampu bersikap baik terhadap dua orang yang dipundaknya Kau bebankan untuk menjaga, mengasihi, membimbing, dan mencintai kami.. 

Kenapa harus Kau ciptakan cinta yang begitu tulus dan besar sehingga apapun yang kami lakukan tidak akan mampu membalasnya, Ya Rabb?
Dan oleh karena kami begitu menyadari bahwa kami tidak akan mampu membalas cinta dan kasih ayah dan ibu kami, kami mohon izinkan kami menjadi anak yang selalu mengingat mereka agar kami tak lupa untuk memberikan yang terbaik untuk mereka baik dalam bentuk sikap, ucap, maupun  doa.

Semoga kami adalah anak yang selalu memposisikan orang tua diatas kami, agar ketika kami melihat ke atas, ketika kita melihat bintang, muncul rasa ingin meraihnya untuk mereka.

Semoga kami adalah anak yang selalu memposisikan orang tua dipandangan kami saat menunduk, agar ketika kami dalam tunduk pilu, kami ingat bahwa ada doa dan kasih mereka disana,

Semoga kami adalah anak yang selalu memposisikan orang tua di depan mata kami agar kami selalu tau bahwa ada mereka yang selalu membimbing kami.

Semoga kami adalah anak yang selalu memposisikan orang tua di belakang kami agar kami selalu ingat bahwa mereka ada di sana untuk mendukung kami.

Semoga kami adalah anak yang selalu memposisikan orang tua di dalam hati kami supaya kami ingat bahwa kami harus selalu berbakti kepada mereka, orang yang doa dan restunya bisa membuka pintu langit dimana mungkin doa dan harapan kami tertahan disana. 

Ya Rabb.. Untuk cinta yang tidak akan mampu kami balas, kami titipkan sepenuhnya langkah kami agar selalu mampu menjadi anak yang berbakti untuk kedua orang tua kami…..

Selasa, 09 September 2014

Tidak ada yang salah dengan kebesaran hati.


Sebenarnya sudah lama kita mendengar suara-suara itu. Suara-suara dimana orang menyalahkan seseorang atas apa yang ia rasakan.
Suara-suara dimana orang menaif-naifkan seseorang hanya karena apa yang mereka pertahankan.

Apa yang salah dengan sebuah rasa? 
Hanya karena sudah tidak lagi berhubungankah lalu rasa itu menjadi sesuatu yang tidak pantas untuk terus ada?

Apa yang salah dengan sebuah rasa?
Hanya karena kita tertuju kepada orang yang tidak bersikap baik terhadap kita kah sehingga salah apabila rasa itu tetap ada?

Apa yang salah dengan sebuah rasa?
Hanya karena malu dihina kah sehingga muncul pula rasa malu untuk mengakui bahwa sayang dan peduli itu ada?

Apa yang salah dengan sebuah rasa? Apa yang salah dengan sebuah ketulusan? Apa yang salah dengan sebuah perjuangan?
APA???

Mungkin akan terbesit dipikiran kita, kalau memang tidak ada yang salah dengan semuanya, lalu kenapa sering juga terdengar nasehat untuk melepaskan sesuatu yang tidak lagi dapat dipertahankan. Menjadi tidak konsisten sepertinya, bukan?

Nanti, nanti dulu. Segala sesuatunya jangan diterima utuh. Mari kita lihat semuanya lebih jauh.

Kita masih sayang dan peduli dengan orang yang tidak lagi berhubungan dengan kita?
Kita masih sayang dan peduli dengan orang yang tidak bersikap baik dengan kita?
Kita masih sayang dan peduli dengan orang yang tidak memperdulikan kita?

Begitu?? Kalau memang iya, lalu kenapa? Apa salahnya????

KITA TIDAK PERLU MALU MENGAKUI APAPUN YANG KITA RASAKAN TERHADAP ORANG LAIN. 

Kenapa tidak perlu malu???
Karena adanya rasa itu adalah bukti bahwa kita bukanlah orang yang hanya bertahan pada sebuah kesempurnaan.
Karena adanya rasa itu adalah bukti bahwa kita adalah orang yang tidak hanya mencari senang namun juga mau bertahan dalam sebuah kekurangan.
Karena adanya rasa itu adalah bukti bahwa kekurangan tidaklah menjadi alasan untuk membenarkan sikap "meninggalkan". Kalau semua yang sudah tidak sesuai boleh langsung begitu saja ditinggalkan, lalu kenapa Tuhan ciptakan kata "berjuang" dan "bertahan"?

TAPI….. LAGI DAN LAGI KITA HARUS MELIHAT SEMUANYA LEBIH JAUH.

Memang tidak salah dengan apa yang kita rasakan, ASAL tidak merendahkan diri kita sendiri. Jangan kita mengurangi apa yang menjadi hak kita hanya karena rasa kita terhadap orang lain. Hak kita untuk bahagia, hak kita untuk menjadi diri sendiri, hak kita untuk mengenal orang lain, hak kita untuk mencoba banyak hal baru, hak kita untuk masih banyak hal lagi.

JANGAN JADIKAN RASA YANG MASIH DAN TETAP ADA ITU SEBAGAI PENGHENTI LANGKAH KITA.

Kalau memang rasa itu ada, biarkan saja. Asal langkah kaki ini terus kita ayunkan.
Kalau memang rasa itu ada, biarkan saja. Asal keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas izinNYA. Dengan meyakini ini, tidak akan pernah kita menjadi pribadi yang menutup diri. Tidak akan pernah.

Tidak ada yang salah dengan sebuah rasa. Tidak ada yang salah untuk terus menyayangi orang yang dianggap tidak tepat sekalipun. Tidak ada yang salah untuk terus peduli kepada orang tidak bersikap baik terhadap kita. Itu bukan sebuah kenaifan, pun bukan sebuah kebodohan. Justru, itu adalah sesuatu yang patut dihargai karena itu bukti bahwa masih ada orang yang tidak hanya bertahan dalam senang dan kesempurnaan, namun juga mau bertahan dalam cobaan dan kekurangan. Sekali lagi, TIDAK ADA YANG SALAH DENGAN KEBESARAN HATI UNTUK TETAP PEDULI DAN MENYAYANGI SESEORANG DENGAN SEGALA KEKURANGAN DAN KESALAHANNYA.

Kalau kita hanya menyayangi dan peduli seseorang hanya karena baiknya, itu artinya kita memberi dan mengharap kembali.
Berilah karena kita ingin memberi, bukan karena kita mengharap diberi kembali.

Senin, 01 September 2014

Dengan atau tanpa, kita tetaplah kita.


Menanggapi tentang sebuah pernyataan yang sering sekali terdengar.

"Aku gabisa tanpa dia…. aku rapuh tanpanya…. dia adalah semangatku….. aku hancur….."

Bagi siapapun yang dalam hati dan pikirannya terbesit atau bahkan tertanam keyakinan seperti ini, sudah seharusnya menyadari satu hal.
"Kekuatan kita tidak selemah itu"

Bukan, ini bukan bermaksud menggurui karena saya pun pernah mengalami. Tulisan ini lebih kepada saya ingin berbagi tentang apa yang menurut saya patut disadari oleh semua orang.

Pernah melihat taman yang disana terdapat pohon dan bunga-bunga? Indah kan? 
Baik bunga maupun pohon tersebut memiliki kehidupannya sendiri walaupun kehadirannya saling melengkapi.

Apa hubungannya?
Selalu posisikan kita seperti pohon itu. Kita berdiri diatas akar dan batang kita sendiri. Kita berdiri diatas kaki kita sendiri.
Siapapun yang datang membawa kebahagiaan untuk kita adalah seperti bunga-bunga ditaman tadi. Kehadirannya melengkapi dan memperindah hidup kita, bukan?

Tapi sadarkah kita? 
Sadarkah bahwa SEBUAH POHON TIDAK AKAN ROBOH HANYA KARENA LAYUNYA SETANGKAI BUNGA?

Apa artinya?
Yang layu biarlah layu. Nanti bunga itu pasti akan tumbuh lagi.
Yang pergi biarlah pergi. Nanti pasti akan ada yang lain yang mengganti.

Kehilangan memang bukan perkara mudah. Apapun bentuknya.
Tapi Allah sudah bekali kita dengan kekuatan. Sehingga, dengan atau tanpa (mereka), kita adalah kita. Kita yang tegar, tangguh, dan sabar.

Jangan gantungkan sepenuhnya kebahagiaan dan semangat kita kepada orang lain. Karena pada akhirnya, kita adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab penuh atas diri kita sendiri.

Kita tidak selemah itu……
Rasa sedih karena sebuah kehilangan nantinya akan hilang seiring berjalannya waktu.
Akan selalu ada kekuatan untuk membangun kembali daratan yang tersapu bersih oleh badai, bukan?