Karma…….
Entah mengapa ada sedikit penolakan dari telinga dan hati ini ketika mendengar kalimat tersebut.
Entah, terlalu kejam rasanya. Terlalu merasa kita yang paling benar. Terlalu sombong menyadari bahwa mungkin semua atas sikap kita sendiri.
Ya, jujur saja, telinga dan hati ini menolak ketika mendengar orang meluapkan amarahnya atas apa yang ia terima dan berkata dengan penuh amarah kepada orang lain bahwa mereka akan mendapatkan karma atas apa yang dilakukannya.
Terkadang, apa yang kita terima adalah apa yang kita berikan.
Jadi bagaimana jika kata karma kita ubah menjadi "apa yang kita tanam, maka akan kita tuai" saja?
Apa yang terjadi, apa yang kita terima, belum tentu semua tentang kesalahan orang lain. Belum tentu semua tentang mereka, tapi bisa saja tentang kita. Ya! Karena sebenarnya segala sesuatunya dihidup ini bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Bagaimana bisa? Kurang lebih, begini contohnya.
- Disaat kita mencari kesalahan orang lain, bisa saja di luar sana orang lain juga sedang mencari kesalahan kita. Kalau begitu, mengapa kita tidak mencari dan membericarakan serta mengingat baiknya orang lain supaya mereka juga melakukan hal yang sama sehingga kita tidak perlu dengan amarah berkata "kamu pasti akan mendapatkan karmanya karena sudah memperlakukanku seperti itu!"
- Disaat kita sengaja berharap yang tidak baik untuk orang lain, bisa saja orang lain juga berharap yang tidak baik untuk kita. Kalau begitu, mengapa kita tidak berharap yang baik untuk orang lain supaya mereka juga melakukan hal yang sama sehingga kita tidak perlu dengan amarah berkata "kamu pasti akan mendapatkan karmanya karena sudah menyumpahiku seperti itu!'
- Disaat kita berniat mencelakakan orang lain, bisa saja di luar sana orang lain juga berniat yang sama. Kalau begitu, mengapa kita tidak berniat menolong orang lain supaya orang lain juga melakukan hal yang sama sehingga kita tidak perlu dengan amarah berkata "kamu pasti akan mendapatkan karmanya karena tega mencelakakan dan merugikanku seperti itu!"
- Disaat kita berniat membohongi orang lain, bisa saja di luar sana orang lain juga berniat melakukan hal yang sama. Kalau begitu, mengapa kita tidak berniat bersikap jujur saja supaya orang lain juga melakukan hal yang sama sehingga kita tidak perlu dengan amarah berkata "kamu pasti akan mendapatkan karmanya karena sudah membohongiku seperti itu!'
"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri" [QS 17:7]
Ya, begitulah yang sebaiknya kita lakukan; melakukan kebaikan walaupun hanya dari sebuah prasangka. Karena disadari atau tidak, diakui atau tidak, terkadang apa yang kita terima adalah apa yang kita niatkan, kita harapkan, dan kita lakukan. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai.
BERKACA adalah hal yang sudah sepantasnya kita lakukan sebelum kita benar-benar MERASA PANTAS dan BERHAK menyalahkan orang lain.
Lalu, bagaimana jika kita sudah melakukan yang terbaik, namun yang kita terima justru ketidakbaikan sehingga membuat kita merasa bahwa kadang hidup ini tidak adil? Bagaimana?
Terinspirasi dari kisah dan curahan hati seorang teman, saya pernah membahas pertanyaan diatas dibeberapa tulisan saya sebelumnya. Judulnya "KETIDAKBAIKAN ITU, BAIK TERNYATA…." bisa dibaca di http://mutiaraannisa26.blogspot.com/2014/02/ketidakbaikan-itu-baik-ternyata.html?spref=tw
Semoga siapapun yang membaca ini berkenan dengan bijaksana mengambil sisi baik yang ada. Sedikit dari saya, semoga bermanfaat. Selamat membaca :)