Minggu, 20 September 2015

Dari kita, untuk kita.

Karma…….

Entah mengapa ada sedikit penolakan dari telinga dan hati ini ketika mendengar kalimat tersebut.
Entah, terlalu kejam rasanya. Terlalu merasa kita yang paling benar. Terlalu sombong menyadari bahwa mungkin semua atas sikap kita sendiri.

Ya, jujur saja, telinga dan hati ini menolak ketika mendengar orang meluapkan amarahnya atas apa yang ia terima dan berkata dengan penuh amarah kepada orang lain bahwa mereka akan mendapatkan karma atas apa yang dilakukannya. 

Terkadang, apa yang kita terima adalah apa yang kita berikan. 

Jadi bagaimana jika kata karma kita ubah menjadi "apa yang kita tanam, maka akan kita tuai" saja?

Apa yang terjadi, apa yang kita terima, belum tentu semua tentang kesalahan orang lain. Belum tentu semua tentang mereka, tapi bisa saja tentang kita. Ya! Karena sebenarnya segala sesuatunya dihidup ini bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Bagaimana bisa? Kurang lebih, begini contohnya.
  • Disaat kita mencari kesalahan orang lain, bisa saja di luar sana orang lain juga sedang mencari kesalahan kita. Kalau begitu, mengapa kita tidak mencari dan membericarakan serta mengingat baiknya orang lain supaya mereka juga melakukan hal yang sama sehingga kita tidak perlu dengan amarah berkata "kamu pasti akan mendapatkan karmanya karena sudah memperlakukanku seperti itu!"
  • Disaat kita sengaja berharap yang tidak baik untuk orang lain, bisa saja orang lain juga berharap yang tidak baik untuk kita. Kalau begitu, mengapa kita tidak berharap yang baik untuk orang lain supaya mereka juga melakukan hal yang sama sehingga kita tidak perlu dengan amarah berkata "kamu pasti akan mendapatkan karmanya karena sudah menyumpahiku seperti itu!'
  • Disaat kita berniat mencelakakan orang lain, bisa saja di luar sana orang lain juga berniat yang sama. Kalau begitu, mengapa kita tidak berniat menolong orang lain supaya orang lain juga melakukan hal yang sama sehingga kita tidak perlu dengan amarah berkata "kamu pasti akan mendapatkan karmanya karena tega mencelakakan dan merugikanku seperti itu!"
  • Disaat kita berniat membohongi orang lain, bisa saja di luar sana orang lain juga berniat melakukan hal yang sama. Kalau begitu, mengapa kita tidak berniat bersikap jujur saja supaya orang lain juga melakukan hal yang sama sehingga kita tidak perlu dengan amarah berkata "kamu pasti akan mendapatkan karmanya karena sudah membohongiku seperti itu!'
"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri" [QS 17:7]

Ya, begitulah yang sebaiknya kita lakukan; melakukan kebaikan walaupun hanya dari sebuah prasangka. Karena disadari atau tidak, diakui atau tidak, terkadang apa yang kita terima adalah apa yang kita niatkan, kita harapkan, dan kita lakukan. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. 

BERKACA adalah hal yang sudah sepantasnya kita lakukan sebelum kita benar-benar MERASA PANTAS dan BERHAK menyalahkan orang lain. 

Lalu, bagaimana jika kita sudah melakukan yang terbaik, namun yang kita terima justru ketidakbaikan sehingga membuat kita merasa bahwa kadang hidup ini tidak adil? Bagaimana?

Terinspirasi dari kisah dan curahan hati seorang teman, saya pernah membahas pertanyaan diatas dibeberapa tulisan saya sebelumnya. Judulnya "KETIDAKBAIKAN ITU, BAIK TERNYATA…." bisa dibaca di http://mutiaraannisa26.blogspot.com/2014/02/ketidakbaikan-itu-baik-ternyata.html?spref=tw

Semoga siapapun yang membaca ini berkenan dengan bijaksana mengambil sisi baik yang ada. Sedikit dari saya, semoga bermanfaat. Selamat membaca :)

Sabtu, 19 September 2015

Kenali rasamu, kenali niatanmu.

Lagi-lagi dalam diam aku menyadari sesuatu yang ingin aku bagikan kepada orang disekitarku.

Ya, sore ini aku menyadari satu hal bahwa rasa adalah sesuatu yang begitu halus. Haluusssss sekali. Sampai-sampai, terkadang kita begitu sulit untuk menyadari perubahan dan rasa yang sebenarnya.

Dari sekian banyak rasa, dari sekian banyak niatan, entah mengapa yang muncul dipikiranku untuk kubahas dalam tulisan ini adalah tentang KETULUSAN.

Ya, contohnya adalah ketulusan.
Agar lebih mudah, begini kira-kira ilustrasinya.
  • A bersedekah dengan menyebut-nyebut pemberiannya. Terang-terangan.
  • B mendatangi pengurus masjid untuk memberikan donasinya secara langsung dan B berkata "Nama saya tidak perlu ditulis atau disebutkan. Saya tidak ingin dibilang riya"
Sekilas, kita pasti menilai bahwa A-lah yang riya' karena dengan sengaja menunjukkan apa yang ia lakukan dibanding dengan B yang meminta pemberiannya disembunyikan. Padahal, belum tentu penilaian kita benar. BELUM TENTU.

Di dalam Al-qur'an surat Al-Baqarah : 274 disebutkan:

"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari, secara tersembunyi maupun TERANG-TERANGAN, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."

dan juga firman Allah pada surat Al-Baqarah : 271 yaitu:

 "Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik"

Ya, menampakkan perilaku dan amalan baik dihadapan orang lain adalah diperbolehkan, dengan syarat untuk mengajak kepada kebaikan dan ikhlas karena Allah serta benar-benar mampu memastikan bahwa tidak ada niatan duniawi, salah satunya adalah ingin dipuji.

Itulah sebabnya kita harus benar-benar mengenali rasa kita, niatan kita, panggilan hati kita. 
Berdasarkan ilustrasi diatas, percayakah bahwa yang sebenarnya riya dan tidak tulus ikhlas justru B, yang notabene adalah orang yang meminta pemberiannya disembunyikan?
Ya, dialah yang tidak ikhlas. Dialah yang riya. 

Mengapa?

Karena dibalik permintaan agar namanya tidak disebut, ada niatan dalam hatinya supaya ia dianggap orang yang ikhlas. Ada niatan ingin dipuji jauh di dalam hatinya. Tapi A, tulus ikhlas melakukan karena ingin mengajak orang lain berbuat kebaikan agar lebih banyak tercipta kedamaian, agar lebih banyak orang yang terbantu karena semakin banyak uluran tangan.

KETULUSAN ADALAH APA YANG ADA DI DALAM HATI.

Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita selalu berusaha mengenali apa yang ada dihati kita agar selalu lurus niatan kita. Dan inilah yang harus kita lakukan.
  • Ketika kita akan atau sedang melakukan sesuatu, berdoalah selalu supaya Allah meluruskan niat kita dan mendoakan supaya tidak ada orang lain yang harus berburuk sangka dengan menganggap kita sombong dengan apa yang kita lakukan.
  • Ketika kita melihat seseorang melakukan kebaikan, doakan mereka supaya mereka tulus ikhlas melakukannya dan doakan diri kita sendiri supaya tidak berburuk sangka atas apa yang mereka lakukan.

THINGS ARE NOT ALWAYS WHAT THEY SEEM. 
Maka, sudah sepantasnya kita bijaksana dalam mengenali rasa dan memberikan penilaian atas apa yang dilakukan orang lain dihadapan kita.

Semoga yang sedikit ini bisa menjadi pengingat khususnya untuk saya sendiri dan siapapun yang membacanya. Semoga bermanfaat :)


Kamis, 17 September 2015

Keluhkanlah. Tapi ingatlah selalu tentang kekuatan.

Pernahkah sebentar saja kita merenung dan menyadari satu hal tentang kehidupan ini?


Bahwa hidup adalah tentang diuji.
Bahwa hidup adalah tentang menerima cobaan dengan lapang dada.
Bahwa hidup adalah tentang mencoba bertahan ditengah segala alang merintang yang ada.
Bahwa hidup adalah tentang mengais sisa kekuatan ditengah pedihnya rasa supaya tetap mampu memupuk sebuah asa.
Bahwa hidup adalah tentang mencoba berdiri dilemahnya kekuatan hati.
Bahwa hidup adalah tentang percaya ditengah banyaknya hal yang mengundang banyak tanya.
Bahwa hidup adalah sebuah tanya tanpa jawaban yang pasti. Mengapa seperti ini? Mengapa harus begini?

Dan pernahkah kita menyadari satu hal tentang hakikat kita sebagai manusia?
Bahwa kita adalah bibir yang penuh dengan keluh.

Jika memang benar bahwa hidup adalah untuk diuji, maka benar pula bahwa apapun bentuknya, cobaan adalah sesuatu yang memberatkan hati.
Apapun bentuknya, cobaan bukanlah hal yang mudah. Dan bibir kita dapat dengan bebas menyampaikan semua keluh atas segala keadaan yang ada.

Namun, sadarkah kita bahwa terkadang hidup bukan tentang apa yang bisa kita keluhkan. Namun kepada kekuatan apa yang harus kita fokuskan karena sebenarnya kekuatan itu sudah tertanam.
  • Andai bisa, semut pasti akan berteriak menyampaikan rasa keberatannya. Mengapa ia kecil, seolah-olah begitu terancam dengan hadirnya kita sebagai manusia. Pernahkah kit bayangkan bagaimana semut melihat kita? Begitu besar dan mengancam keselamatannya.
  • Andai bisa, burung elang pasti akan berteriak menyampaikan rasa keberatannya. Mengapa ia menjadi burung tangguh yang harus bertahan hidup dengan perjuangan yang tidak mudah. Andai bisa pasti elang bertanya mengapa ia tidak menjadi burung nuri yang menjadi peliharaan, disapa hangat pemiliknya, diberi makan tanpa harus meminta. Begitu juga sebaliknya. Andai bisa, mungkin nuri juga mengeluhkan keadaannya. Mungkin ia ingin terbang bebas sebebas sayap elang mampu membawanya terbang. 
  • Andai bisa, singa akan berteriak menyampaikan rasa keberatannya. Mengapa ia menjadi hewan buas yang ditakuti banyak orang sehingga mendapatkan belaian lembut menjadi sesuatu yang mahal. Mengapa ia tidak menjadi kucing yang dengan mudah mendapat belaian kasih sayang manusia.
  • Andai bisa, bunga raflesia akan menyampaikan keberatannya. Mengapa ia harus menjadi bunga yang tidak membuat orang mendekatinya. Mengapa ia tidak menjadi bunga mawar yang selalu dicari untuk menghiasi.

Bisa saja mereka meneriakkan rasa keberatannya. Bisa saja telinga kita yang tidak mendengarnya.
Namun, rasa-rasanya mereka tidak melawan apa yang menjadi bagian dan takdir mereka. Rasa-rasanya, mereka tetap berlapang dada menerima.

Andai bisa, tidakkah kita ingin sampaikan kepada semut bahwa ia patut bangga? Ya, semut patut bangga karena ia adalah hewan kecil yang data menjadi pelajaran bagi manusia supaya menghargai yang tampak kecil. Supaya peka dengan apa yang dianggap tidak berharga. 

Andai bisa, tidakkah kita ingin sampaikan kepada elang bahwa ia patut bangga? Ya, elang patut bangga karena ia adalah burung yang mengajarkan tentang sebuah keberanian dan kerelaan hati untuk melakukan sebuah pengorbanan yang sangat berat dan menyakitkan, hanya untuk bertahan hidup. Sudahkah kita mengetahui perjuangan elang untuk bertahan hidup? Jika belum, maka kita harus mencari, membacanya berulang kali dan meresapi dengan sepenuh hati. 

Andai bisa, tidakkah kita ingin sampaikan kepada bunga raflesia bahwa ia patut mensyukuri keadaannya? Bahwa apa yang ia anggap sebagai kekurangannya, justru itulah yang menjaganya.

Ya, andai bisa, kita akan berteriak menyampaikan rasa keberatan atas apa yang kita terima, atas segala ketidaksesuaian yang ada.
Tapi, sebaiknya kita selalu mengingat satu hal.
Bahwa dimanapun, kapanpun, siapapun, apapun bentuknya, pasti segala sesuatu memiliki kekurangan dan keterbatasan.

Lalu, apa yang bisa membuat semua itu bertahan ditengah keterbatasan yang ada? Ya, hanya satu jawabannya, yaitu KEKUATAN-NYA.

Semut, singa, dan bunga adalah perumpaan dan gambaran.
Gambaran bahwa akan selalu ada yang dikeluhkan atas semua keadaan yang ada. Namun Allah pun sudah bekali kekuatan untuk setiap apa yang diamanahkan, untuk setiap takdir yang sudah digariskan, untuk semua ketentuan yang tidak mungkin terhapuskan.

Ya,
Segala sesuatunya bukan kebetulan. BUKAN KEBETULAN. Semua sudah sesuai dengan perhitungan.Tentang pergantian siang dan malam, tentang pertemuan dan perpisahan, tentang tumbuh dan layunya sebuah tanaman dan juga tentang cobaan yang dibebankan. Semua sudah disesuaikan dengan kemampuan. 


Untuk segala beban dan tanggung jawab yang diamanahkan, Allah pasti mampukan. Pasti.
Satu hal yang harus dilakukan yaitu meyakini dengan sepenuh hati.