Kamis, 17 September 2015

Keluhkanlah. Tapi ingatlah selalu tentang kekuatan.

Pernahkah sebentar saja kita merenung dan menyadari satu hal tentang kehidupan ini?


Bahwa hidup adalah tentang diuji.
Bahwa hidup adalah tentang menerima cobaan dengan lapang dada.
Bahwa hidup adalah tentang mencoba bertahan ditengah segala alang merintang yang ada.
Bahwa hidup adalah tentang mengais sisa kekuatan ditengah pedihnya rasa supaya tetap mampu memupuk sebuah asa.
Bahwa hidup adalah tentang mencoba berdiri dilemahnya kekuatan hati.
Bahwa hidup adalah tentang percaya ditengah banyaknya hal yang mengundang banyak tanya.
Bahwa hidup adalah sebuah tanya tanpa jawaban yang pasti. Mengapa seperti ini? Mengapa harus begini?

Dan pernahkah kita menyadari satu hal tentang hakikat kita sebagai manusia?
Bahwa kita adalah bibir yang penuh dengan keluh.

Jika memang benar bahwa hidup adalah untuk diuji, maka benar pula bahwa apapun bentuknya, cobaan adalah sesuatu yang memberatkan hati.
Apapun bentuknya, cobaan bukanlah hal yang mudah. Dan bibir kita dapat dengan bebas menyampaikan semua keluh atas segala keadaan yang ada.

Namun, sadarkah kita bahwa terkadang hidup bukan tentang apa yang bisa kita keluhkan. Namun kepada kekuatan apa yang harus kita fokuskan karena sebenarnya kekuatan itu sudah tertanam.
  • Andai bisa, semut pasti akan berteriak menyampaikan rasa keberatannya. Mengapa ia kecil, seolah-olah begitu terancam dengan hadirnya kita sebagai manusia. Pernahkah kit bayangkan bagaimana semut melihat kita? Begitu besar dan mengancam keselamatannya.
  • Andai bisa, burung elang pasti akan berteriak menyampaikan rasa keberatannya. Mengapa ia menjadi burung tangguh yang harus bertahan hidup dengan perjuangan yang tidak mudah. Andai bisa pasti elang bertanya mengapa ia tidak menjadi burung nuri yang menjadi peliharaan, disapa hangat pemiliknya, diberi makan tanpa harus meminta. Begitu juga sebaliknya. Andai bisa, mungkin nuri juga mengeluhkan keadaannya. Mungkin ia ingin terbang bebas sebebas sayap elang mampu membawanya terbang. 
  • Andai bisa, singa akan berteriak menyampaikan rasa keberatannya. Mengapa ia menjadi hewan buas yang ditakuti banyak orang sehingga mendapatkan belaian lembut menjadi sesuatu yang mahal. Mengapa ia tidak menjadi kucing yang dengan mudah mendapat belaian kasih sayang manusia.
  • Andai bisa, bunga raflesia akan menyampaikan keberatannya. Mengapa ia harus menjadi bunga yang tidak membuat orang mendekatinya. Mengapa ia tidak menjadi bunga mawar yang selalu dicari untuk menghiasi.

Bisa saja mereka meneriakkan rasa keberatannya. Bisa saja telinga kita yang tidak mendengarnya.
Namun, rasa-rasanya mereka tidak melawan apa yang menjadi bagian dan takdir mereka. Rasa-rasanya, mereka tetap berlapang dada menerima.

Andai bisa, tidakkah kita ingin sampaikan kepada semut bahwa ia patut bangga? Ya, semut patut bangga karena ia adalah hewan kecil yang data menjadi pelajaran bagi manusia supaya menghargai yang tampak kecil. Supaya peka dengan apa yang dianggap tidak berharga. 

Andai bisa, tidakkah kita ingin sampaikan kepada elang bahwa ia patut bangga? Ya, elang patut bangga karena ia adalah burung yang mengajarkan tentang sebuah keberanian dan kerelaan hati untuk melakukan sebuah pengorbanan yang sangat berat dan menyakitkan, hanya untuk bertahan hidup. Sudahkah kita mengetahui perjuangan elang untuk bertahan hidup? Jika belum, maka kita harus mencari, membacanya berulang kali dan meresapi dengan sepenuh hati. 

Andai bisa, tidakkah kita ingin sampaikan kepada bunga raflesia bahwa ia patut mensyukuri keadaannya? Bahwa apa yang ia anggap sebagai kekurangannya, justru itulah yang menjaganya.

Ya, andai bisa, kita akan berteriak menyampaikan rasa keberatan atas apa yang kita terima, atas segala ketidaksesuaian yang ada.
Tapi, sebaiknya kita selalu mengingat satu hal.
Bahwa dimanapun, kapanpun, siapapun, apapun bentuknya, pasti segala sesuatu memiliki kekurangan dan keterbatasan.

Lalu, apa yang bisa membuat semua itu bertahan ditengah keterbatasan yang ada? Ya, hanya satu jawabannya, yaitu KEKUATAN-NYA.

Semut, singa, dan bunga adalah perumpaan dan gambaran.
Gambaran bahwa akan selalu ada yang dikeluhkan atas semua keadaan yang ada. Namun Allah pun sudah bekali kekuatan untuk setiap apa yang diamanahkan, untuk setiap takdir yang sudah digariskan, untuk semua ketentuan yang tidak mungkin terhapuskan.

Ya,
Segala sesuatunya bukan kebetulan. BUKAN KEBETULAN. Semua sudah sesuai dengan perhitungan.Tentang pergantian siang dan malam, tentang pertemuan dan perpisahan, tentang tumbuh dan layunya sebuah tanaman dan juga tentang cobaan yang dibebankan. Semua sudah disesuaikan dengan kemampuan. 


Untuk segala beban dan tanggung jawab yang diamanahkan, Allah pasti mampukan. Pasti.
Satu hal yang harus dilakukan yaitu meyakini dengan sepenuh hati.

1 komentar: