Jumat, 16 Oktober 2015

Judul apa yang sesuai untuk tulisan ini?


Ada seseorang yang sedang mengisi waktu luang dengan mengerjakan skripsinya. Lalu tiba-tiba dia terhenti dan membuka lembar kosong pada note nya. Dia sedang tidak ingin mengerjakan urusan kampusnya. Dia ingin menulis. Menuliskan ini - sesuatu yang entah mengapa begitu sulit merangkai kata demi katanya. Ditutuplah lembar kerjanya lalu dia buka note-nya.

1 menit berlalu
2 menit berlalu….
3 menit berlalu…..

Menit demi menit berlalu sejak pertama kali dia menatap layar kosong didepannya. Menit demi menit berlalu sejak jemarinya sudah siap menunggu perintah otaknya untuk merangkai kata demi kata diatas keyboard laptopnya. Dan masih saja dia sulit menuliskannya.

"Sebenarnya, hidup itu tentang apa?" Itulah yang ada dipikirannya dan sungguh dia merasa sangat kesulitan menguraikannya.

Dia pernah mendengar beberapa hal tentang hakikat kehidupan. 

Berusahalah dan kamu akan dapatkan yang kamu mau. Begitukah hidup?
Lalu mengapa ada orang yang tetap tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan setelah mereka berusaha semampu yang mereka bisa?

Berdoalah, memohonlah dan kamu akan mendapati doamu dikabulkan. Begitukah hidup? 
Lalu mengapa ada orang yang tetap tidak mendapatkan sesuatu sesuai dengan pintanya sedangkan ia sudah berteriak dalam doanya?

Berilah sebaik-baiknya yang kau punya maka kau akan menerima sesuatu yang berharga. Begitukah hidup? Lalu mengapa ada orang yang sudah melakukan dan memberi yang terbaik miliknya, namun yang ia terima justru pedihnya luka karena usahanya tak diberi makna, tak diberi harga?

Jika katanya hidup adalah tentang melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu, lalu mengapa yang terjadi justru sesuatu yang bukan seperti yang dimau? Mengapa berbeda? Mengapa tak sama? Mengapa luka? Mengapa kecewa?

Pertanyaan itu tidak hanya muncul dari apa yang dia lihat, namun juga berangkat dari apa yang sedang dia rasakan. Dia tidak malu mengakuinya.

Sebagai manusia biasa yang boleh berharap, menurutnya kita tidak perlu malu mengakui bahwa kita sedang kecewa. Sebagai manusia biasa yang hanya bisa berusaha, menurutnya wajar kita merasa semua sia-sia karena kenyataan tak sama dengan asa. Sebagai manusia biasa yang ingin selalu memberi, menurutnya wajar kita merasa tersakiti jika kita tidak dihargai. Sebagai manusia biasa yang ingin menerima sesuatu yang bermakna dan berharga, menurutnya wajar jika kita begitu pedih mendapat sebuah luka. 

Begitu sesak rasanya menerima semua kenyataan ini, desahnya.

Namun, tiba-tiba dia teringat satu hal tentang hakikat kehidupan yang belum dia sebutkan sebelumnya.

Hidup bukan semata-semata berfokus kepada kurang dan kecewanya saja. Bahwa hidup harus mampu mencari makna dari semua yang ada.

Dia hembuskan nafas panjang sembari menutup matanya seolah mengajak dirinya untuk berdamai dengan apa yang ada.

HIDUP ADALAH MENJALANI KETENTUAN. HIDUP ADALAH MENERIMA APA YANG SUDAH DIGARISKAN.

Takdir kah yang menjadi jawaban dari semua pertanyaan?

Takdir…… 
Adalah sesuatu yang akhirnya membuat kita bungkam. Sesuatu yang membuat kita terdiam. 
Takdir tidak akan pernah memberi kesempatan kita bersuara. Ia akan memaksa kita menerima. Pada akhirnya, semua tentang takdir. Tentang apa yang ada di luar kendali kita. Tentang kenyataan yang berbeda dengan asa, yang begitu hebat menyisakan rasa kecewa dalam dada tanpa mampu kita menggambarkannya.

Dia berbisik lirih "tidak, tidak mungkin semua terjadi tanpa makna. tidak mungkin". Seolah dia sedang berbicara dengan rasa kecewa dan semua kebingungannya. 

Bukankah ketika kita menginginkan pelangi maka kita harus menerima hujan? Bukankah ketika kupu ingin terbang maka ia harus berproses menjadi ulat terlebih dahulu? Bukankah ketika kita ingin lancar bersepeda maka kita harus melewati proses jatuhnya?

Kalau memang begitu, 
Bisa saja yang terjadi adalah yang terbaik meski dengan wujud yang tak sama dengan apa yang menjadi asa, doa, dan usaha. Bisa saja semua adalah yang terbaik meski bungkusnya adalah kecewa. Bisa saja semua adalah yang terbaik meski bungkusnya adalah sebuah sesak di dada.

Bagaimana kalau apa yang tidak sesuai dengan harapan ini adalah proses untuk mendapatkan sesuatu yang indah di depan sana? Bagaimana kalau rasa kecewa ini justru jembatan untuk mendapatkan bahagia yang bahkan kita tidak akan mampu mengungkapkan betapa kita bersyukur mendapatkannya? 

Kalau begitu,
Bagaimana kalau kita terima saja semuanya dan meyakini bahwa  pasti ada hal baik dibalik semua rasa kecewa yang ada? Bisa? Kita harus bisa, karena begitulah kehidupan - memaksa kita untuk tetap berlapang dada menerima meski yang kita terima adalah sebuah kecewa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar