Senin, 04 Januari 2016



Kita hanya bisa menerima utuh takdir yang digariskan. 

__

Kita tidak bisa memilih tanggal, hari & tempat kita dilahirkan.

Kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita, bagaimana pola mereka mengasuh kita, dan masih banyak hal lainnya. 

__

Ada yang merasa lega karena ia terlahir dengan keadaan yang sesuai dengan keinginan hatinya. Ibu yang penyayang, ayah yang penuh kasih, keluarga yang harmonis. 

Ada pula yang andaikan bisa, ia ingin mengecam semesta atas ketidakadilan yang diterima. Ibu yang memaksa, ayah yang tangannya sering menambah bekas luka, keluarga yang terpecah belah.

__

Sebenarnya, 
Apapun keadaannya, kita sebagai manusia biasa pasti mengeluhkan keadaan kita. 

Menerima ini, berandai-andai yang itu. 
Menerima itu, berandai-andai yang lainnya.

Namun, 
Kita tidak akan mempertanyakan kenapa ada kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan kita. Tidak akan.

Kita akan membicarakan bagaimana caranya menjadikannya lebih ringan, setidaknya. 

__

Persepsi.
Mengubah cara pandang.

Itulah yang seharusnya kita lakukan.

__

Begini. 

Ada seorang anak yang mengeluh tentang ayahnya. 

Ayahnya bukanlah ayah yang hangat tutur kata dan sapa nya. 

Ayahnya bukanlah ayah yang menasehati dengan tutur kata yang lemah lembut membimbing. 

Ayahnya adalah ayah yang menerapkan kedisplinan dengan cara yang keras.

Membuang mainannya saat ia lupa membereskan dan mengambil piringnya lalu melemparnya ke lantai adalah salah satu dari sekian banyak cara yang digunakan ayah itu untuk mengajarkan kedisplinan pada anaknya. 

Benar-benar menyisakan rasa takut. 
Benar-benar menyisakan tanya pada benak anak bagaimana rasanya memiliki ayah yang hangat, lembut dan penuh kasih. 

Awalnya ia marah. Mengecam semesta. Tidak adil. 

Namun seiring berjalannya waktu, ia bisa menerimanya karena ia menyadari banyak hal yang bisa ia dapatkan dari sosok ayahnya yang begitu keras dan dingin itu. 

Itulah yang seharusnya kita lakukan.

Mencari nilai baik yang dapat dituai dari apa yang tidak sesuai.

__

Dan mungkin,
Itulah sebabnya mengapa Tuhan tidak menciptakan kita di ruang hampa, yaitu supaya kita bisa turut merasa atas keadaan orang lain yang tidak seberuntung kita & bersyukur karenanya. 

__

Lihatlah anak yang memiliki mata indah ini.

Ia adalah anak dari salah seorang ibu yang pernah menjalankan suratan takdirnya - mencari rezeki ke negara lain. 

Namun,
Ibu itu justru kembali ke tanah air karena ketidakberanian seorang laki-laki dalam bertanggung jawab atas perbuatannya. 

Entah ini menjadi musibah atau anugerah.
Menerima luka dan dalamnya rasa trauma karena jahatnya perbuatan orang lain dan memiliki anak yang begitu cantik. Bermata coklat, hidung mancung dan bulu mata yang lentik. 

__

Melihat anak ini, 
Anak yang tadi mengeluh tentang ayahnya, sontak merasa malu. Betapa beruntungnya ia. 

Meskipun sikap ayahnya tidak sesuai dengan harapannya, tapi setidaknya ia tidak perlu kesulitan mengingat siapa ayahnya. 

Sedangkan anak berbulu mata lentik ini? 
Jangankan ingat siapa ayahnya, bahkan ia tidak pernah tahu siapa ayahnya. 

__

Semoga,
Kita selalu menjadi orang yang mensyukuri segala keadaan meskipun kecewa.

Karena sungguh, 
Masih banyak yang kurang beruntung dibandingkan kita.

Dan semoga, 
Anak kecil berbulu mata lentik ini kelak tumbuh besar dengan pemahaman kehidupan yang baik – bahwa akan selalu ada hal baik yang bisa ia syukuri. 

__

Tuhan, 
Semoga Kau tangguhkan kami ditengah segala cobaan yang harus kami terima tanpa kami harus larut dalam kecewa dan sibuk dengan tanya kenapa. 

__

AAMIIN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar