Sabtu, 12 Maret 2016

Suratan.

Sejatinya, kita hanya menjalani apa yang sudah digariskan.

Suka tidak suka. Mau tidak mau.

__

Bisa saja, 
Kita memiliki cerita yang sebenarnya ingin kita selesaikan, tapi semesta memaksa kita berganti peran. 

Bisa saja,
Kita memiliki tempat yang ingin kita singgahi, tapi semesta memaksa kaki kita melangkah berpindah ketempat yang tak sesuai dengan keinginan hati. 

Tapi, apa?

Terkadang, 
Semesta memberi tangan yang harus digenggam tanpa bertanya mampukah genggaman tangan itu membuat kita yakin untuk melewati segala yang ada. 

Terkadang,
Semesta menyejajarkan kita dengan sebuah langkah kaki tanpa bertanya langkah kaki itukah yang ingin kita dampingi. 

Terkadang,
Semesta menyuguhkan sebuah dekap peluk tanpa bertanya tenangkah kita dipelukan itu. 

Terkadang,
Semesta mengganti sebuah sapa tanpa bertanya sapaan itukah yang ingin kita dengar suaranya. 

Menolakkah kita? Tidak. Tetap berperan sesuai peranan yang harus dimainkan-kah kita? Iya. 

Ya, begitulah kehidupan. 
Sejatinya kita hanya menjalani suratan. 
Berperan semaksimal mungkin meski sebenarnya kita tak ingin. 

Begitu pula lah kehidupan,
Kita akan selalu diberi kekuatan untuk menjalani sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan. 

Semoga, dengan pemahaman yang baik akan cara semesta bekerja, kita tidak akan menjadi orang yang menyerah pada keadaan.

Senin, 15 Februari 2016

Begitulah sejatinya sebuah hikmah.

Sore tadi aku duduk bersama ibuku, 
berbincang mengenai hal yang terjadi, yang aku lihat dan aku diizinkan semesta berperan di dalamnya.

Lagi dan lagi, semesta membuatku berdecak kagum.
Betapa semesta begitu indah cara kerjanya.

Lagi dan lagi, aku dihadapkan pada satu keadaan yang membuatku tak henti mengucapkan terimakasih kepada semesta atas suguhan cobaan yang diberikan kepadaku.

Sempat aku marah kepada semesta atas semua yang aku terima. Tidak adil. Hakku diambil.
Dipaksa menjalankan peran yang kala itu, tidak sesuai dengan kemampuanku.
Sewajarnya hanya menopang lima, namun aku dipaksa mampu menopang dua sampai tiga kali lipatnya.

Namun, begitulah sejatinya sebuah HIKMAH. 
Ia bagaikan bunga yang indah kelopak dan sempurna mekarnya bisa kita nikmati nanti, pada waktunya.

Kini aku semakin menyadari bahwa segala sesuatu ada hikmahnya.
Bahwa segala yang kita terima tidak pernah mungkin salah alamat.
Dibekali begini karena akan menjalani begitu. Dilatih begini karena akan menghadapi begitu.
Ditempa begini karena akan berperan begitu. Tidak salah alamat.

Sebagai manusia biasa, rasa kecewa itu ada. Namun tanpa disadari, ternyata cobaan itulah yang membuat kita dewasa dan mandiri dengan sendirinya. Cobaan adalah sebaik-baiknya pengalaman dan pengalaman adalah sebaik-baiknya guru.

Aku tidak akan lagi terlena dengan kecewaku.
Tidak akan lagi menyalahkan keadaan atas suguhan cobaan yang menjadi bagianku.

Aku tidak akan pernah menjadi sempurna, tidak akan pernah.
Tapi setidaknya aku berusaha menjadi orang yang mensyukuri cobaanku dan menjadikannya sebaik-baiknya guruku dan menerapkan hikmah yang aku dapatkan untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi kehidupanku, Kehidupan dengan orang-orang disekitarku.

Terimakasih Ibunda. Semesta menyuguhkanku sebuah buku yang tanpamu, aku tidak akan pernah mampu membaca dan memahaminya dengan baik.

Terimakasih atas semua bimbinganmu. Atas semua nasihatmu.
Atas semua jabaran makna yang memperkaya pemahamanku, yang mempertajam kepekaanku.

Karnamu, aku bisa dengan lapang dada menerima semua kekecewaanku.

____

Semesta, peran apa lagi yang kau minta aku mainkan? 
Aku siap. 

INSYA ALLAH AKU MAMPU..

Minggu, 07 Februari 2016

Rindu.

Ternyata, kami ada di ruangan yang sama. Tanpa diketahui sebelumnya. 

___

Lihatlah cara semesta menyampaikan takdirnya melalui ini.

Tidak ada yang jauh jika dua insan ditakdirkan bertemu. 

Tapi jika tidak,
Maka dalam satu ruangan pun mereka tidak akan pernah bersanding tatap. 

___

Jika ditanya,
Sungguh mata ini ingin melihat matanya. Melihatnya meski tak menyapa. 

Sungguh, tak apa.

Namun mungkin, 

Inilah alasan mengapa Tuhan ciptakan rasa rindu. 

Rasa yang muncul sebab dua mata tak saling bertemu.

___


Tapi begitulah pula kehidupan. 

Meski ia - rasa rindu ditakdirkan untuk diciptakan dan dirasakan, namun tetap saja.......

Tak semua tersampaikan.

Mungkin itulah mengapa, Tuhan ciptakan pula sesuatu yang kita sebut dengan menahan. 

Diam. Menahan. 

Jangankan menyampaikan, bahkan kita tak mengizinkan angin mendengar rindu yang kita bisikkan kala malam. 

___

Wahai,
Aku rindu. Sangat teramat rindu.

Jumat, 08 Januari 2016

Beri waktu untuk waktu.





Dalam hidup ini, banyak hal yang terjadi.

Semesta mengizinkan sesuatu terjadi yang membuat kita bahagia. 
Semesta mengizinkan sesuatu terjadi yang membuat kita bangga. 
Semesta mengizinkan sesuatu terjadi yang membuat kita merasa paling beruntung di dunia. 
Semesta mengizinkan sesuatu terjadi yang membuat kita merasa tak lagi membutuhkan apa-apa karena kita punya segalanya. 

Tapi, 
Semesta juga mengizinkan sesuatu terjadi yang membuat kita terluka.
Semesta juga mengizinkan sesuatu terjadi yang membuat kita merasa tidak berharga. 
Semesta juga mengizinkan sesuatu terjadi yang membuat kita merasa segala usaha sia-sia.
Semesta mengizinkan sesuatu terjadi yang membuat kita sedih hati, kecil hati dan merasa begitu tersakiti. 

__

Dan, tak jarang..... 

Ketika hal yang tidak mengenakkan itu terjadi, kita menjadi enggan mencoba hal baru karenanya.

Ketika hal yang tidak mengenakkan itu terjadi, muncullah rasa ragu yang membelenggu. 

Ketika hal yang tidak mengenakkan itu terjadi, mengakarlah rasa takut dalam hati.

Ketika hal yang tidak mengenakkan itu terjadi, hadirlah rasa pilu yang menahan kaki untuk melangkah maju. 

__

Jangan terburu-buru. 

Perubahan membutuhkan proses. 
Proses membutuhkan waktu. 

Maka, sudah seharusnya kita memberikan waktu untuk waktu. 

__

Setiap daun akan gugur pada waktunya. 

Begitu juga dengan rasa enggan mencoba, rasa takut, rasa ragu dan juga rasa tidak percaya. 

Kalau memang semesta mengizinkan semua rasa itu tumbuh dalam hati kita, biarkan saja. Seperti layaknya daun, biarkan itu gugur pada waktunya. 

__ 

Bukan, 
Ini bukan berarti kita dengan sengaja membiarkan diri kita terbelenggu rasa yang mengganggu. Bukan. 

Hanya saja kita harus memahami bahwa semua membutuhkan waktu. 

Contoh,

Kita sudah melakukan segalanya untuk orang yang kita sayangi. Namun mengapa ia tidak mampu membalas rasa yang kita miliki? 

Itu adalah bukti, bahwa kita tidak bisa memaksa rasa itu ada. Pun tidak bisa memaksa rasa yang sudah ada, hilang begitu saja. 

__

Untuk hati yang mulai lelah dengan segala beban di dada,

Untuk hati yang mulai lelah memaksakan untuk lupa, 

Untuk hati yang mulai lelah dengan rasa tidak percaya, 

Untuk hati yang mulai lelah dengan rasa ragu, 

BERSABARLAH. 

__

Meskipun suatu saat nanti semua rasa itu bisa hilang, ia akan tetap menjadi cerita yang tidak akan bisa kita lupakan. Dan dengan mengingatnya saja, bisa menghadirkan lagi rasa sesak di dada. 

Tapi percayalah, 

WAKTU AKAN MEMBUATNYA MENJADI LEBIH BAIK. 

Akan ada saat di mana kita menyadari bahwa rasa itu pernah ada dan kita tidak akan lagi merasa terganggu karenanya.

__

“It might feel like you will never get over it, but you will"

Senin, 04 Januari 2016



Kita hanya bisa menerima utuh takdir yang digariskan. 

__

Kita tidak bisa memilih tanggal, hari & tempat kita dilahirkan.

Kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita, bagaimana pola mereka mengasuh kita, dan masih banyak hal lainnya. 

__

Ada yang merasa lega karena ia terlahir dengan keadaan yang sesuai dengan keinginan hatinya. Ibu yang penyayang, ayah yang penuh kasih, keluarga yang harmonis. 

Ada pula yang andaikan bisa, ia ingin mengecam semesta atas ketidakadilan yang diterima. Ibu yang memaksa, ayah yang tangannya sering menambah bekas luka, keluarga yang terpecah belah.

__

Sebenarnya, 
Apapun keadaannya, kita sebagai manusia biasa pasti mengeluhkan keadaan kita. 

Menerima ini, berandai-andai yang itu. 
Menerima itu, berandai-andai yang lainnya.

Namun, 
Kita tidak akan mempertanyakan kenapa ada kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan kita. Tidak akan.

Kita akan membicarakan bagaimana caranya menjadikannya lebih ringan, setidaknya. 

__

Persepsi.
Mengubah cara pandang.

Itulah yang seharusnya kita lakukan.

__

Begini. 

Ada seorang anak yang mengeluh tentang ayahnya. 

Ayahnya bukanlah ayah yang hangat tutur kata dan sapa nya. 

Ayahnya bukanlah ayah yang menasehati dengan tutur kata yang lemah lembut membimbing. 

Ayahnya adalah ayah yang menerapkan kedisplinan dengan cara yang keras.

Membuang mainannya saat ia lupa membereskan dan mengambil piringnya lalu melemparnya ke lantai adalah salah satu dari sekian banyak cara yang digunakan ayah itu untuk mengajarkan kedisplinan pada anaknya. 

Benar-benar menyisakan rasa takut. 
Benar-benar menyisakan tanya pada benak anak bagaimana rasanya memiliki ayah yang hangat, lembut dan penuh kasih. 

Awalnya ia marah. Mengecam semesta. Tidak adil. 

Namun seiring berjalannya waktu, ia bisa menerimanya karena ia menyadari banyak hal yang bisa ia dapatkan dari sosok ayahnya yang begitu keras dan dingin itu. 

Itulah yang seharusnya kita lakukan.

Mencari nilai baik yang dapat dituai dari apa yang tidak sesuai.

__

Dan mungkin,
Itulah sebabnya mengapa Tuhan tidak menciptakan kita di ruang hampa, yaitu supaya kita bisa turut merasa atas keadaan orang lain yang tidak seberuntung kita & bersyukur karenanya. 

__

Lihatlah anak yang memiliki mata indah ini.

Ia adalah anak dari salah seorang ibu yang pernah menjalankan suratan takdirnya - mencari rezeki ke negara lain. 

Namun,
Ibu itu justru kembali ke tanah air karena ketidakberanian seorang laki-laki dalam bertanggung jawab atas perbuatannya. 

Entah ini menjadi musibah atau anugerah.
Menerima luka dan dalamnya rasa trauma karena jahatnya perbuatan orang lain dan memiliki anak yang begitu cantik. Bermata coklat, hidung mancung dan bulu mata yang lentik. 

__

Melihat anak ini, 
Anak yang tadi mengeluh tentang ayahnya, sontak merasa malu. Betapa beruntungnya ia. 

Meskipun sikap ayahnya tidak sesuai dengan harapannya, tapi setidaknya ia tidak perlu kesulitan mengingat siapa ayahnya. 

Sedangkan anak berbulu mata lentik ini? 
Jangankan ingat siapa ayahnya, bahkan ia tidak pernah tahu siapa ayahnya. 

__

Semoga,
Kita selalu menjadi orang yang mensyukuri segala keadaan meskipun kecewa.

Karena sungguh, 
Masih banyak yang kurang beruntung dibandingkan kita.

Dan semoga, 
Anak kecil berbulu mata lentik ini kelak tumbuh besar dengan pemahaman kehidupan yang baik – bahwa akan selalu ada hal baik yang bisa ia syukuri. 

__

Tuhan, 
Semoga Kau tangguhkan kami ditengah segala cobaan yang harus kami terima tanpa kami harus larut dalam kecewa dan sibuk dengan tanya kenapa. 

__

AAMIIN.

TENTANG WAKTU, dan apa yang diizinkannya ada dan berlalu.




Aku baru saja selesai  merapikan lemariku.

Ya, aku sangat suka menata sesuatu. Buku, make up, baju atau apapun yang ada di kamar dan juga lemariku. Menatanya ulang bahkan ketika 1 jam sebelumnya sudah ku tata rapi. 

Entah, ada kepuasan tersendiri dari kegiatan ini. Menata sesuai bentuk, tinggi, warna dan jenisnya. Rapi. 

Tapi ada hal lain yang aku suka dari kegiatan ini. Tidak hanya rasa puas dari kerapihan, tapi juga aku mendapatkan pelajaran tentang salah satu dari sekian banyak hakikat kehidupan. 

___

Saat tengah membereskan lemariku, banyak benda yang membuatku mendadak hening. Diam. Tertegun. 

___

Aku menemukan beberapa kartu ucapan ulang tahun dari sahabatku beberapa tahun yang lalu. Aku tersenyum haru membacanya. Sedikit tak percaya sudah begitu banyak hal yang aku lalui bersama sahabatku. Sejak dulu bahkan sampai saat ini dan semoga sampai nanti. 

Namun aku juga menemukan sesuatu yang membuatku tersenyum pilu. Salah satunya adalah daftar nama beberapa kerabat keluarga. Aku ingat betul (((pernah akan))) kugunakan untuk apa daftar nama-nama ini. 

___

BETAPA HEBAT CARA WAKTU BEKERJA,
batinku. 2 benda tadi cukup menjadi bukti. 

Waktu mengizinkan segala sesuatu terjadi dalam hidup kita. Mengizinkan banyak orang datang berperan dalam kisah hidup kita. 

Ada yang datang dan bertahan. Menjadi teman dalam menjalani kehidupan. Disetiap suka dan duka. Tawa dan air mata. 

Ada juga yang datang lalu menghilang. Menjadi kenangan yang sangat kuat tertanam. 

Waktu mengizinkan sebuah cerita dimulai. Namun waktu juga yang menyisakan kenangan yang begitu menyesakkan. Menyisakan pedihnya kehilangan yang tidak akan pernah terbayarkan, peran yang tidak pernah tergantikan. 

___

Haru & pilu menjadi satu. 

___

Jika waktu membuat kita terluka meski ia juga yang membuat kita bahagia kala itu, 

semoga waktu juga yang akan membuat kita kembali bahagia meski ia yang membuat kita  pernah merasa sangat putus asa.

Selasa, 29 Desember 2015

Bukan materi, namun ketulusan hati.

Datang padaku seorang teman, menyampaikan keinginan dan rasa bersalahnya. 

Keinginannya – berbagi. Sangat mulia.
Rasa bersalahnya – ia tidak bisa karena sedang tidak memiliki apapun untuk diberi. 

__

Apa yang sedang tidak dia miliki? Materi? 

Jika itu masalahnya, sungguh, seharusnya tidak perlu membuatnya bersedih hati.

__

Berbagi, tidak harus selalu dengan materi. 

Bayangkan kejadian ini. 

Kita sedang berada di jalan menuju ke sebuah tempat. Lalu, kita melihat (maaf) seorang pengemis. Ia sedang memegang perutnya. Sungguh sepertinya dia lapar. 

Melihat itu, sontak hati kita merasa iba dan ingin memberikan sesuatu – uang misalnya. 

Tapi apa mau dikata, ternyata kita sama sekali tidak membawa uang. Sepeser pun. Karena tempat yang kita tuju adalah ATM, baru saja kita akan mengambil uang, misal. 

Atau,
Apa mau dikata, kita sedang berada di lampu merah dan jarak kita dengan pengemis itu tidak dekat. Dengan keadaan lalu lintas yang padat, sulit menjangkaunya. 

Sehingga, kita tidak dapat memberikan sesuatu kepadanya. Padahal, ingin sekali berbagi. 

__

Pintu yang satu tertutup, pintu lain terbuka. 

Jangan berkecil hati jika kita tidak bisa membantu seseorang dalam bentuk materi. 

Berdoalah dengan segala kesungguhan hati. Sampaikan pada semesta.

“Kalau memang jalan rezeki orang tersebut tidak melalui aku, semoga melalui orang lain”

__

Pernahkah kita bayangkan apa yang bisa terjadi dengan doa yang kita panjatkan? 

Bayangkan,

Bagaimana jika doa yang kita panjatkan dengan penuh ketulusan hati itu dapat membuka pintu langit dan semesta mengantarkan doa kita langsung kepada Sang Pencipta? 

__ 

Sesungguhnya, pengemis itu tidak hanya menahan lapar, tapi dia juga merasakan sebuah amarah. Ia mempertanyakan keadilan dan campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Mengumpat dengan segala sesak di dada mengapa kehidupan membuatnya kelaparan.

Tapi tahukah kita apa yang terjadi? 

– 

Doa kita dikabulkan. 

Tidak melalui kita, namun semesta mengirim langkah kaki dan uluran tangan yang lain untuk membantu mereka. 

Dan apa? 

Kini pengemis itu merasa bahagia. 
Perutnya terisi.
Ia membuang jauh amarahnya.
Tidak lagi mempertanyakan kasih sayang Sang Pencipta.

Dan sejak kejadian itu, tahu kah kita apa yang selalu dilakukan pengemis itu? 

BERSYUKUR dan PERCAYA. 

Ia selalu percaya bahwa pertolonganNYA nyata dan bersyukur karena ada orang yang membantunya. 

–

Lihatlah. 

Kita memang tidak memberi materi.
Namun apa yang kita bisikkan kepada semesta, sangat cukup memberikan kebaikan kepada sesama. 

Doa kita menjadikan seseorang selalu mengingat penciptanya. 

Bukankah sebaik-baik hamba adalah yang mengingat dan mensyukuri nikmat Sang Pencipta? 

__

Tidak bisa memberi materi, kita bisa memberi seseorang dengan sopan dan santun budi pekerti yang kita miliki. Ramah & tersenyum misalnya. Selalu ingat untuk ucapkan maaf, tolong, dan terimkasih contohnya. 

Jika memberikan itu juga tidak bisa kita lakukan, maka kita masih punya bibir dan hati yang dapat dengan tulus mendoakan kebaikan untuk sesama. 

__

Tidak seharusnya kita mempersempit arti memberi.

Berbagi tidak harus selalu dengan materi.

Karena.. 

Berbagi – memberi adalah apa yang kita niatkan untuk kebaikan orang lain dengan segala ketulusan hati.