Selasa, 09 September 2014

Tidak ada yang salah dengan kebesaran hati.


Sebenarnya sudah lama kita mendengar suara-suara itu. Suara-suara dimana orang menyalahkan seseorang atas apa yang ia rasakan.
Suara-suara dimana orang menaif-naifkan seseorang hanya karena apa yang mereka pertahankan.

Apa yang salah dengan sebuah rasa? 
Hanya karena sudah tidak lagi berhubungankah lalu rasa itu menjadi sesuatu yang tidak pantas untuk terus ada?

Apa yang salah dengan sebuah rasa?
Hanya karena kita tertuju kepada orang yang tidak bersikap baik terhadap kita kah sehingga salah apabila rasa itu tetap ada?

Apa yang salah dengan sebuah rasa?
Hanya karena malu dihina kah sehingga muncul pula rasa malu untuk mengakui bahwa sayang dan peduli itu ada?

Apa yang salah dengan sebuah rasa? Apa yang salah dengan sebuah ketulusan? Apa yang salah dengan sebuah perjuangan?
APA???

Mungkin akan terbesit dipikiran kita, kalau memang tidak ada yang salah dengan semuanya, lalu kenapa sering juga terdengar nasehat untuk melepaskan sesuatu yang tidak lagi dapat dipertahankan. Menjadi tidak konsisten sepertinya, bukan?

Nanti, nanti dulu. Segala sesuatunya jangan diterima utuh. Mari kita lihat semuanya lebih jauh.

Kita masih sayang dan peduli dengan orang yang tidak lagi berhubungan dengan kita?
Kita masih sayang dan peduli dengan orang yang tidak bersikap baik dengan kita?
Kita masih sayang dan peduli dengan orang yang tidak memperdulikan kita?

Begitu?? Kalau memang iya, lalu kenapa? Apa salahnya????

KITA TIDAK PERLU MALU MENGAKUI APAPUN YANG KITA RASAKAN TERHADAP ORANG LAIN. 

Kenapa tidak perlu malu???
Karena adanya rasa itu adalah bukti bahwa kita bukanlah orang yang hanya bertahan pada sebuah kesempurnaan.
Karena adanya rasa itu adalah bukti bahwa kita adalah orang yang tidak hanya mencari senang namun juga mau bertahan dalam sebuah kekurangan.
Karena adanya rasa itu adalah bukti bahwa kekurangan tidaklah menjadi alasan untuk membenarkan sikap "meninggalkan". Kalau semua yang sudah tidak sesuai boleh langsung begitu saja ditinggalkan, lalu kenapa Tuhan ciptakan kata "berjuang" dan "bertahan"?

TAPI….. LAGI DAN LAGI KITA HARUS MELIHAT SEMUANYA LEBIH JAUH.

Memang tidak salah dengan apa yang kita rasakan, ASAL tidak merendahkan diri kita sendiri. Jangan kita mengurangi apa yang menjadi hak kita hanya karena rasa kita terhadap orang lain. Hak kita untuk bahagia, hak kita untuk menjadi diri sendiri, hak kita untuk mengenal orang lain, hak kita untuk mencoba banyak hal baru, hak kita untuk masih banyak hal lagi.

JANGAN JADIKAN RASA YANG MASIH DAN TETAP ADA ITU SEBAGAI PENGHENTI LANGKAH KITA.

Kalau memang rasa itu ada, biarkan saja. Asal langkah kaki ini terus kita ayunkan.
Kalau memang rasa itu ada, biarkan saja. Asal keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas izinNYA. Dengan meyakini ini, tidak akan pernah kita menjadi pribadi yang menutup diri. Tidak akan pernah.

Tidak ada yang salah dengan sebuah rasa. Tidak ada yang salah untuk terus menyayangi orang yang dianggap tidak tepat sekalipun. Tidak ada yang salah untuk terus peduli kepada orang tidak bersikap baik terhadap kita. Itu bukan sebuah kenaifan, pun bukan sebuah kebodohan. Justru, itu adalah sesuatu yang patut dihargai karena itu bukti bahwa masih ada orang yang tidak hanya bertahan dalam senang dan kesempurnaan, namun juga mau bertahan dalam cobaan dan kekurangan. Sekali lagi, TIDAK ADA YANG SALAH DENGAN KEBESARAN HATI UNTUK TETAP PEDULI DAN MENYAYANGI SESEORANG DENGAN SEGALA KEKURANGAN DAN KESALAHANNYA.

Kalau kita hanya menyayangi dan peduli seseorang hanya karena baiknya, itu artinya kita memberi dan mengharap kembali.
Berilah karena kita ingin memberi, bukan karena kita mengharap diberi kembali.

Senin, 01 September 2014

Dengan atau tanpa, kita tetaplah kita.


Menanggapi tentang sebuah pernyataan yang sering sekali terdengar.

"Aku gabisa tanpa dia…. aku rapuh tanpanya…. dia adalah semangatku….. aku hancur….."

Bagi siapapun yang dalam hati dan pikirannya terbesit atau bahkan tertanam keyakinan seperti ini, sudah seharusnya menyadari satu hal.
"Kekuatan kita tidak selemah itu"

Bukan, ini bukan bermaksud menggurui karena saya pun pernah mengalami. Tulisan ini lebih kepada saya ingin berbagi tentang apa yang menurut saya patut disadari oleh semua orang.

Pernah melihat taman yang disana terdapat pohon dan bunga-bunga? Indah kan? 
Baik bunga maupun pohon tersebut memiliki kehidupannya sendiri walaupun kehadirannya saling melengkapi.

Apa hubungannya?
Selalu posisikan kita seperti pohon itu. Kita berdiri diatas akar dan batang kita sendiri. Kita berdiri diatas kaki kita sendiri.
Siapapun yang datang membawa kebahagiaan untuk kita adalah seperti bunga-bunga ditaman tadi. Kehadirannya melengkapi dan memperindah hidup kita, bukan?

Tapi sadarkah kita? 
Sadarkah bahwa SEBUAH POHON TIDAK AKAN ROBOH HANYA KARENA LAYUNYA SETANGKAI BUNGA?

Apa artinya?
Yang layu biarlah layu. Nanti bunga itu pasti akan tumbuh lagi.
Yang pergi biarlah pergi. Nanti pasti akan ada yang lain yang mengganti.

Kehilangan memang bukan perkara mudah. Apapun bentuknya.
Tapi Allah sudah bekali kita dengan kekuatan. Sehingga, dengan atau tanpa (mereka), kita adalah kita. Kita yang tegar, tangguh, dan sabar.

Jangan gantungkan sepenuhnya kebahagiaan dan semangat kita kepada orang lain. Karena pada akhirnya, kita adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab penuh atas diri kita sendiri.

Kita tidak selemah itu……
Rasa sedih karena sebuah kehilangan nantinya akan hilang seiring berjalannya waktu.
Akan selalu ada kekuatan untuk membangun kembali daratan yang tersapu bersih oleh badai, bukan?

Sabtu, 30 Agustus 2014

Tentang sebuah tanya dan rasa.


Entah kata apa yang sesuai yang dapat mengungkapkan apa yang aku rasakan.
Berderai air mata ketika aku menulis ini.
Ada teriakan dari dalam hati tentang suatu keadaan yang kadang aku anggap sebagai sebuah ketidakadilan.
Terkadang hati ini menjerit. Bukan karena aku menyalahkan Sang Pemilik Kehidupan atas apa yang terjadi. Tapi jeritan itu adalah ungkapan sebagai manusia yang terkadang tidak mengerti maksud dan tujuan Sang Pencipta.

Begitukah kehidupan, Ya Allah?
Seperti inikah jalan cerita yang Kau gariskan untuk panggung kehidupan yang harus kami jalani?

Rasa-rasanya tidak ada yang tidak aku terima dikehidupanku. Rasa-rasanya tidak ada kebutuhanku yang tidak terpenuhi.
Semua nikmat dan anugerah yang Allah berikan, BEGITU LUAR BIASA.

Tapi kadang hati ini menjerit…… Ada satu kepedihan yang begitu luar biasa……..
Ya Allah……. Kenapa didepanku banyak sekali orang yang tidak seberuntung aku??????

Kenapa masih ada orang yang tidur beralaskan bumi dan beratapkan langit sedangkan aku tidur dikamar yang nyaman dengan tempat tidur yang menjanjikan mimpi indah untukku????

Kenapa masih ada orang yang harus mengais tumpukan sampah untuk mendapatkan makanan sedangkan aku kapan saja dapat menikmati nikmatnya rezekiMU hanya dengan membuka tudung saji????

Kenapa masih ada orang yang menjahit bajunya agar tetap layak pakai sedangkan aku bisa kapan saja membeli baju baru hanya karena rasa bosan dan sebuah keinginan???

Kenapa masih ada orang yang harus mengayuh becak dan sepedanya untuk menjemput rezekiMU ditengah panasnya sinar mentari sedangkan aku bisa saja disaat yang bersamaan sedang menikmati minuman dan makanan yang lezat disebuah cafe yang dingin dan nyaman????

Kenapa didepan mataku masih aku temukan orang-orang yang berjuang melawan sakit ditubuhnya sedangkan aku seringkali menyia-nyiakan sehatku????

Kenapa didepanku masih ada orang yang mempertanyakan dan menyuarakan rindu kepada orang tuanya sedangkan aku terkadang tidak sepenuhnya bersikap baik terhadap orangtuaku????

Kenapa didepanku masih banyak hal yang bahkan tidak sanggup aku jelaskan satu persatu??????? 

Aku manusia biasa, Ya Allah. Rasa-rasanya wajar kalau aku menganggap ini sebuah ketidakadilan. Bukankah memang terkadang apa yang terjadi adalah sebuah misteri? Wajarkan Ya Allah ketika aku mempertanyakannya?

Ya! Kadang aku merasa ini semua tidak adil. Aku marah! Aku merasa bersalah! Pedih!!! Ya Allah, pedih!!!!!
Tapi aku selalu berusaha menenangkan hati dan jiwaku agar aku tidak berkelanjutan menyalahkan kehidupan, dengan berfikiran bahwa mungkin ini adalah alasan kenapa Allah tidak menciptakan aku dan kita semua di ruangan hampa. Mungkin itulah kenapa Tuhan ciptakan kita berdampingan dengan orang-orang yang berbeda dengan kita. YA, KITA HARUS MENGAMBIL PELAJARAN ATAS KEHADIRAN MEREKA.

Ya Allah, terimakasih Kau telah ciptakan orang yang kurang sehat sehingga aku mampu dianggap lebih sehat.
Terimakasih karena Kau telah ciptakan orang yang kurang beruntung sehingga aku mampu dianggap lebih beruntung.

Ya Allah, 
Jika memang kehadiran mereka Engkau gariskan untuk memberi pelajaran bagi kami, maka jadikanlah kami menjadi hambaMu yang peka terhadap apa yang Kau sisipkan melalui mereka.

Ya Allah,
Jika memang segala kesulitan, kekurangan, kesempitan, dan kesakitan yang mereka terima adalah peringatan untuk kami agar lebih bersyukur, maka sudilah kiranya Engkau membayar mereka dengan kekuatan, kesabaran, dan kebahagiaan.

Ya Allah,
Jika memang kami diperkenankan merasa tidak adil, marah bahkan merasa bersalah dengan segala perbedaan yang ada, maka kami mohon perkenankan kami mengungkapkan apa yang kami rasakan tersebut dengan sesuatu yang baik. Perkenanlah kami mengungkapkan apa yang kami anggap sebagai ketidakadilan dengan rasa syukur yang tiada henti, dengan sikap dan perilaku ingin terus berbagi. Jangan jadikan kami sebagai hambaMU yang mengungkapkan perasaan yang kami rasakan dengan justru menjauhiMU.

Ya Allah,
Begitu beratnya yang harus mereka terima yang mana semua itu semata-mata hanya untuk memberikan pelajaran berharga bagi kami.
Maafkan kami yang masih sangat kurang mensyukuri nikmatMu ya Allah. Maafkan kami…… Sudilah kiranya Engkau membimbing kami agar kami menjadi hambaMu yang pandai bersyukur agar tidak ada murkaMU karena sebuah kufur, Ya Rabb..

--------------------------------------------

Tulisanku kali ini memang berbeda dengan tulisan yang sudah aku tulis sebelumnya.
Pada tulisan ini aku tekankan pada "aku". Ya, ini adalah tentang aku. Tentang apa yang aku rasakan, apa yang aku alami, dan apa yang aku pikirkan.
Bukan, ini bukan semata-mata menjual pikiran dan pendapatku akan sesuatu. Benar-benar aku niatkan semua untuk berbagi. Tidakkah aku mengharapkan sesuatu? Tentu saja aku mengharapkan sesuatu dari apa yang aku tulis ini untuk siapapun yang membacanya.

Setiap orang memiliki kehidupannya sendiri. Memiliki cerita yang membentuk kepribadian serta pola pikirnya masing-masing.
Itulah sebabnya kenapa ada satu hal yang ingin aku tekankan; AKU TIDAK MENUNTUT ORANG LAIN MENYETUJUI APA YANG MENJADI NILAI DAN PENDAPATKU. Semua karena kita memiliki pendapatnya masing-masing.

Disini aku hanya ingin mengajak serta mengingatkan bagi siapapun yang membaca ini khususnya diriku sendiri untuk selalu menjadi orang yang peka terhadap setiap apa yang terjadi baik pada diri kita sendiri maupun orang lain. Kenapa harus peka? Karena yang tersurat berbeda dengan yang tersirat, bukan? Kita harus mampu mencari apa yang tersembunyi. 

Semoga kita semua adalah orang yang peka terhadap apa yang terjadi. Semoga kita semua adalah orang yang tidak enggan untuk berbagi sebagai wujud rasa syukur atas nikmat dan anugrah yang tiada henti. Aamiin Aamiin Ya Rabbal'alamiin…. 

Rabu, 20 Agustus 2014

Pemaknaan mengubah kenyataan.

Sudah sepatutnya kita menyadari bahwa diri kita adalah sepenuhnya tanggung jawab kita. Kalau bukan kita yang menjaga hati dan pikiran kita, siapa lagi?

Apa yang terjadi tidaklah sama dengan apa reaksi kita terhadapnya. Berbeda pula dengan bagaimana kita memaknainya. Selain (mau tidak mau) menerima yang terjadi, kita juga harus bijaksana untuk menyikapi dan memaknai. Apa yang terjadi, apa yang kita terima, apa yang kita rasakan adalah sesuatu yang sudah menjadi  bagian kita. Menyakitkan? Menyedihkan? Mematahkan semangat? Menguras emosi dan air mata? Ya! Mungkin semua itu kita rasakan saat kita mengalami sesuatu. Tapi sebenarnya bagaimana reaksi kita selanjutnya terhadap sesuatu itulah yang paling penting.

Kita kehilangan sesuatu. Marah? Sedih? Jengkel? Itulah yang terjadi. Tapi mari kita maknai. Siapa tau dari kehilangan ini kita harus belajar untuk lebih berhati-hati. 

Hubungan kita harus berakhir dengan orang yang kita sayangi. Marah? Sedih? Merasa kehilangan bahkan habis harapan? Wajar. Kehilangan memang bukanlah hal mudah. Apapun bentuknya. Tapi mari kita maknai. Siapa tau dari kehilangan ini justru pintu untuk orang lain yang lebih baik untuk kita terbuka lebar.

Kita harus jauh dari orang tua untuk alasan pekerjaan ataupun pendidikan. Sedih? Berat hati? Pasti. Tapi mari kita maknai. Siapa tau itu mengajarkan kita untuk menyadari bahwa semakin kedepan, kehidupan semakin menuntut kita untuk mandiri. None of us are going to be here forever. 

Saat kita membutuhkan telinga untuk mendengar keluh kesah, tak satupun orang yang ada disamping kita. Marah karena merasa mereka tidak menyempatkan waktu? Sedih? Pasti kita rasakan itu. Tapi mari kita maknai. Siapa tau, Tuhan memang mengatur sedemikian rupa segala urusan mereka sehingga mereka bahkan sedetikpun tidak mampu meluangkan waktunya untuk kita. Supaya apa? Supaya kita tau bahwa ada yang selalu ada untuk mendengar keluh kesah dan resah kita. Siapa? Ya, DIA. Tuhan Yang Maha Kuasa. Ternyata, dari ketidakhadiran mereka itulah cara Tuhan meminta kita untuk mengingatNYA.

Sudah berusaha sekuat tenaga tapi tetap saja ditempat yang sama, tetap saja tidak bisa menjadi seperti orang lain. Merasakan ketidakadilan? Merasa sia-sia? Wajar. Itu pasti dirasakan oleh setiap kita yang mengharapkan hasil usaha kita selalu sesuai dengan harapan. Tapi mari kita maknai. Siapa tau, Tuhan tidak mengubah keadaan kita menjadi lebih seperti apa yang kita kehendaki karena Tuhan menjaga kita dari sifat tinggi hati. Bukankah kita manusia sering lupa bersyukur? Mungkin itulah cara Tuhan menjaga kita supaya tidak menjadi hambaNYA yang kufur. Sedikit tapi mencukupi adalah lebih baik daripada banyak tapi membuat kita lupa diri. Toh, apa yang orang lain punya, tidak akan mengurangi jatah kita. Begitu juga sebaliknya. Apa yang kita punya tidak akan menambah jatah orang lain. Semua punya porsinya masing-masing.

Itu adalah beberapa contoh dari sekian banyak hal yang terjadi dalam hidup ini yang sebenarnya selalu bisa dilihat dari sisi yang berbeda. 

Jangan terima utuh semua perasaan yang kita rasakan atas apa yang terjadi, terlebih membiarkannya menguasai hidup kita. Mari kita maknai. Dengan memaknai, waktu dan perasaan kita tidak akan terbuang sia-sia karena kita mampu mengambil hikmah dan pelajaran yang berarti dari apa yang terjadi. Dengan memaknai, yang menyakitkan akan terasa menjadi sesuatu yang menguatkan. Dengan memaknai, kegagalan akan menjadi motivasi untuk terus berusaha meraih keberhasilan. Dengan memaknai, yang berat akan menjadi ringan, yang sukar akan menjadi mudah, dan yang hitam akan menjadi putih.

Hidup bukan sekedar apa yang terjadi tetapi juga apa dan bagaimana kita menyikapi serta memaknai.


Senin, 21 April 2014

Tentang harapan, angan, dan perasaan..


Dalam hidup ini, tentu kita sering menjumpai hal yang membuat kita merasa sangat bahagia karena kita "menganggap" bahwa kita memiliki kesempatan dan harapan. Entah hal itu berupa kesempatan waktu, materi, atau harapan yang datang karena hadirnya seseorang. Senang sekali, bukan?

Tapi…..
KITA HARUS MENYADARI BEBERAPA HAL….

Kita harus menyadari bahwa, walaupun hidup harus memiliki sebuah harapan karena itulah salah satu yang akan membuat kita termotivasi, tapi ternyata kita tidak boleh terbuai dengan harapan itu sampai akhirnya kita lupa menjaga hati kita sendiri.

Kalau kita mau menyadari, sebenarnya kita pernah bahkan sering menjumpai waktu dimana kita merasa memiliki kesempatan dan harapan, namun disisi lain kita juga sangat menyadari bahwa sedang berhadapan dengan ketidakpastian dan ketidakmungkinan. Dan sebenarnya, kita tahu bahwa peluang terjadinya ketidakpastian dan ketidakmungkinan itu justru lebih besar. Lalu, bagaimana bisa kita tetap merasa senang, bahkan menggebu-gebu seolah kita memiliki kesempatan mendapatkan hal tersebut? Yaaaa.. itulah yang disisakan harapan dan angan yang kita bangun sendiri, sebenarnya.

Semuanya memang mungkin dalam hidup ini, tapi kita harus ingat bahwa dalam hidup inipun ada yang disebut PERKIRAAN.
Semuanya memang mungkin, tapi juga tidak menutup kemungkinan, kita mampu memperkirakan mana yang bisa kita dapatkan dan kita raih serta mana yang tidak bisa.

Lalu apa yang harus kita lakukan dengan harapan yang ternyata kesempatan untuk mendapatkannya hanyalah sebuah angan?

JANGAN TAKUT UNTUK MEMATAHKAN HARAPAN KITA SENDIRI.

Dengan apa? Dengan sengaja mengajak diri kita melihat ketidakpastian yang sebenarnya itulah yang akan kita temui nantinya. Mungkin sebenarnya bukan untuk mematahkan harapan dan angan yang sudah terlanjur ada, namun setidaknya itu bisa sedikit mengurangi. Dengan cara inilah kita bisa menjaga hati dan perasaan kita sendiri yang mana mungkin akan lebih berat jika kita tetap berharap dan menciptakan angan, padahal yang akan kita temui nanti adalah ketidaksesuaian harapan.

Ini bukan tentang larangan berharap. Ini bukan tentang tidak percaya bahwa segalanya itu mungkin.
Tapi ini tentang KEBIJAKSANAAN menjaga hati dan perasaan untuk sesuatu yang bisa saja kita temui, yaitu ketidakpastian..

Selasa, 11 Maret 2014

Bukan apa, tapi bermakna!


Sebenernya, banyak banget hal yang membawa pelajaran berharga untuk kita. Sekecil apapun itu. Sesuatu yang ga pernah kita anggap bermakna, bahkan.

1. Bolpen favorit

Kalo aku sih punya satu bolpen favorit yang kalo ga nulis pake bolpen itu, rasanya ga enaaaakkkk banget.   Tulisannya jadi ga rapilah, terlalu tipislah, ketebelan lah, dll. Kalian punya? Kita bisa belajar satu hal tentang hidup lho. Coba deh, kita nulis pake bolpen yang paling ga kita suka. Walaupun ada bolpen favorit kita, jangan ganti. Buat keadaan seolah-olah kita ga punya pilihan lain selain bolpen yang ga kita suka itu. Apapun jadinya tulisan kita, mau jadi jelek, ketebelan, ketipisan atau apapun itu, biarin aja. Apapun hasilnya, terima. Coba terus cara ini. 

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari ini?
Kita bakal tau bahwa kadang dalam hidup ini kita dihadapkan pada satu pilihan yang ga sesuai dengan harapan dan keinginan. Dan….. kita ga punya pilihan lain selain menjalani apa yang harus kita terima (itulah kenapa tadi jangan ganti bolpen walaupun ada bolpen favorit yang bisa dipake. buat seolah-olah kita ga punya pilihan lain). Prosesnya? Mungkin ga akan sesuai sama yang kita harapkan. Tapiiiiiii, apapun itu, walaupun harus dengan sesuatu yang ga kita suka, tetap menghasilkan sesuatu kan?

2. Kertas kosong

Coba deh, ambil selembar kertas kosong. Tulis apa aja yang pengen kita tulis dikertas itu. Pake bolpen ya, jangan pake pensil. Dan gaboleh pake tip-ex. Apapun yang kita mau, tulisin disitu. Teruuuusss nuliiiiss. Nah, nanti kalo ada salah nulis, typo gitu, dicoret aja tulisannya. Diulang terus ya. Kalo bisa sih nulisnya yang panjang biar nanti jelas hasilnya. Kalo udah selesai, liat tulisan itu. Tau ga apa yang barusan kita tulis? GAMBARAN KEHIDUPAN. 

Kesalahan dalam penulisan yang kita lakukan, tidak akan bisa terhapus. Tapi, kita punya kesempatan untuk memperbaiki dibait atau dibaris selanjutnya. Begitu juga kehidupan. 
Apa yang sudah kita lakukan, tidak akan bisa terhapus. Kita memang diciptakan dengan kekurangan sehingga pasti melakukan kesalahan. Tapi, kita harus ingat satu hal bahwa kita diberi kemampuan dan kesempatan untuk memperbaikinya.

3. Pilih jalan yang macet!

Pernah ga kita sengaja pilih jalan yang macet? Selagi emang ga ada agenda lagi, sesekali perlu lho sengaja lewat jalan yang macet. Buang waktu? Engga kok sebenernya kalo kita mau ambil pelajarannya. Macet? Lama & rumit, tapi sampe juga. Tapi sadar ga kita kalo ada pelajaran hidup dari macet?

Hidup kita kan emang? Kadang kita harus nglewatin proses yang ga enak buat bisa mencapai sesuatu. Sama kayak macet itu tadi. Ga peduli selama apapun macetnya, kita akan sampe ke tempat yang kita tuju. Ga peduli gimana prosesnya, kita akan sampai pada tujuan kita.

4. Nah, dinomor ini aku mau cerita pengalaman liburanku ke Bali ya.

Waktu di Bali, aku jalan gitu di atas karang-karang sama mama. Aku yang di depan, gandeng mama. Tapi mama di belakang kasih komando, harus ke sana, ke sini, jangan nginjek karang yang ini, jangan yang itu, dll. Seketika aku tersadar. Begitulah kehidupan.
Akan ada saatnya anak di depan. Dihadapkan perjalanan yang ga mudah, harus bisa menentukan pilihan dengan baik karena ada orang yang bergantung sama kita. Iya kan? Kalo salah napak di karang, yang bakal jatoh ga cuma aku, tapi juga mama ku. Tapi walaupun anak di depan, bukan berarti orang tua berhenti mengarahkan jalan mana yang sebaiknya kita pilih. Ketika kita harus mampu menjadi pribadi yang mandiri, kita tetap membutuhkan nasehat orang tua. Harus dan perlu dinasehati. Tidak bisa menutup telinga dan mata untuk hal yang satu ini.
Hmmmm.. apalagi ya??? Banyak kok sebenernya. Banyak banget. Belajar jadi pribadi yang tidak mengabaikan hal yang tampak ga bermakna yuk, siapa tau ada pelajaran besar di baliknya :)

Minggu, 02 Maret 2014

Anggap saja begitu....


Ketika realita tidak sama seperti apa yang kita harapkan, jangan memperburuk keadaan dengan keluhan.
Ketika realita tidak sama seperti apa yang kita inginkan, jangan semakin dalam kita membawa diri kita pada kekecewaan.

Ya, anggap saja begitu..

"Kenapa sih ini pake hujan segala malem minggu, pengen keluar tau! bosen dirumah!"
Ssttt… di luar sana banyak sekali orang yang dengan susah payah menerjang hujan demi membawa hasil untuk keluarga mereka di rumah. Mungkin Tuhan meminta kita belajar untuk tidak hanya membuang waktu dan uang untuk hanya sekedar senang dan penghilang rasa bosan. Anggap saja begitu.

"Kenapa sih harus sakit? Ada yang harus aku kerjain nih!"
Siapa tau, Tuhan meminta kita untuk sejenak saja beristirahat. Tubuh kita memiliki haknya untuk diistirahatkan, bukan? Anggap saja begitu.

"Ini apa-apaan sih pake ga ada duit segala, pengen nyalon tau! pengen beli baju, pengen beli sepatu"
Siapa tau, Tuhan tidak memberi rezekiNya kepada kita karena kita hanya akan menggunakannya untuk sebuah keinginan. Di luar sana, bahkan untuk makan hari ini saja mereka tidak dapat mencukupi. Apalagi esok hari. Anggap saja begitu.

"Ini kenapa lagi mobil pake gabisa dipake? Harus naik motor kan jadinya?!"
Bukankah yang naik motor masih patut disyukuri daripada yang naik sepeda? Bukankah yang naik sepeda masih patut disyukuri daripada yang jalan kaki? Anggap saja begitu.

"Kenapa siiiiihhhh aku disini-sini ajaaa. Berusaha udah, berdoa udah, semua udah. Tapi ga bisa kayak orang-orang itu. Sedikit aja dong pengen lebih tinggi kayak mereka!"
Siapa tau, kita akan lupa diri di tingginya posisi, itulah sebabnya kita tetap di sini. Bukan untuk disesali kok. Dimanapun kita berada, ketika kita memaksimalkan semuanya, tidak akan pernah menjadi sia-sia. Anggap saja begitu.

"Punya badan kok ngga banget sih ya. Ini perut gede banget, betis juga, bahu juga lebar banget. Ga ada bagusnya diliat!"
Hey…. Siapa tau, Tuhan menjaga kita dari hal yang tidak diinginkan, justru dari apa yang kita anggap sebagai kekurangan. Bayangkan kalau tubuh kita seindah yang kita mau, belum tentu kita bisa menutupinya. Mungkin saja kita akan dengan bangga memamerkan keelokan tubuh kita. Oh bukan, bukan soal agama yang membolehkan atau melarang kita memakai baju terbuka, tapiiiii bukankah wanita akan selalu menjadi mutiara di depan para pria? Anggap saja begitu.

"Kenapa waktu itu aku harus ngalamin hal yang ga enak banget kayak gitu? Sumpah! Jatuh tu ga enak banget!"
Tuhan memang menjatuhkan kita lewat dinamika kehidupan, agar kita mengambil pelajaran. Meminta kita menjadi pribadi yang lebih paham melalui pelajaran tersebut. Lebih paham apa? Lebih paham dalam segala hal. Bukan seberapa sering kita jatuh, namun seberapa banyak pelajaran yang kita ambil dari kegagalan yang kita alami. Kalau tidak sesakit itu, mungkin kita tidak akan sehebat ini sekarang. Anggap saja begitu.

Intinya…
Ketika ketidaksesuaian terjadi antara harapan dengan kenyataan dan kita masih bisa mengubahnya, maka usahakanlah. Ketika tidak, cara kita memandang suatu hal lah yang harus diubah. Semua hanya soal persepsi.