Senin, 27 April 2015

Hai world. Im back!

Menulis tidak semudah yang ku bayangkan ternyata. Banyak untaian kata yang ingin ku sampaikan namun terasa sangat sulit menyampaikan dan menuliskannya.

Tidak sehebat itu memang aku, namun juga tidak hanya sekali aku mendengar pertanyaan "kok ga ada yang baru di blogmu? nulis lagi dong..." and i just like, omg i just dont know how to start it. 

Berkeluh kesahlah aku pada sahabatku dan dia berkata "gausa nulis yang berat-berat. cukup kamu tulis 1 kejadian yang kamu alami atau kamu liat di hari ini dan apa yang bisa kamu ambil dari kejadian itu. bagikan pandanganmu kepada mereka" 

Pikir dipikir, ada benernya juga. Aku ga peduli ada atau engga yang baca tulisanku, but i just want to write it out. So, here i go. 

------------------

Tadi siang aku makan sama temenku di lotek bu bagyo; lotek yang enak & banyak itu. Hahaha. Terus ada pengamen (maaf) bencong gitu. Udah kan dia nyanyi terus kita kasih uang. Kita ngasihnya ga seberapa tapi ya ampuuuunnnn, DIA NGEDOAIN KITA PANJANGNYA KAYAK KERETA. Banyakkkkkk banget doa yang dia sebutin. Panjang umur lah, sehat lah, urusan lancar lah dll. 

Begitu dia pergi, temenku bilang kalo pengamen itu rajin ke gereja. Terus dia suka ngasih ibu-ibu pengemis tua gitu. Jadi uang yang dia dapetin, dia bagi. 

PELAJARANNYA :
1. Please banget jangan hina dan rendahkan orang kayak gitu. Karna mungkin kalo ditanya, mereka juga gamau kayak gitu. Tapi apapun keadaan mereka, mereka punya hak untuk setidaknya dihargai, kalau memang orang sulit menerima.


2. Ternyata dibalik keadaan yang menurut kebanyakan orang pantas dihina, justru dia lah yang memberi pelajaran berharga ke kita. Pelajaran untuk tetap berbuat kebaikan tanpa peduli keburukan apa yang kita terima. Masih sempet loh orang itu berbagi dari hasil ngamennyaaa. Salut! 


3. Percayalah........ Bahwa kebaikan yang kita lakukan sekecil apapun itu adalah akan kembali ke kita. Ngasih uangnya ga seberapa, doa yang kita dapet subhanallah banget :")

Jumat, 26 September 2014

Life is hard, huh?


Life is hard, huh?
Kita bentuk seideal apapun, segala sesuatunya pasti menemukan ketidaksesuaian. Mungkin itu sebabnya kenapa Allah ciptakan istilah "serba salah".
Yap! That's life.

Ketika sebuah kebaikan dianggap sebagai kedok untuk mencari sebuah pujian padahal bisa saja itu bentuk ajakan; that's life.
Ketika sebuah keburukan dianggap sebagai ketidakpatuhan padahal bisa saja itu sebuah kekhilafan; that's life.
Ketika memaafkan dianggap sebagai sebuah kenaifan padahal bisa saja dari memaafkan itulah kedamaian hati didapatkan; that's life.
Ketika membalas menjadi satu-satunya pilihan padahal memaafkan jauh lebih bijaksana dan berwibawa; that's life.
Ketika terus memberi kesempatan dianggap sebagai kebodohan padahal bisa saja itu kesempatan terakhir untuk mencapai perbaikan; that's life.
Ketika terus percaya dianggap sebagai ketidakrealistisan padahal bisa saja dari rasa percaya itu segala usaha menjadi lebih mudah dilakukan; that's life.
Ketika perjuangan dianggap sebagai sebuah kesia-siaan padahal bisa saja setelah itu terwujudlah apa yang kita harapkan; that's life.
Ketika sebuah harapan tidak sesuai dengan kenyataan padahal segala sesuatunya sudah diusahakan; that's life.
Ketika berpisah dengan orang yang disayang menjadi hal yang harus dilakukan; that's life.
Ketika mencari kesalahan orang lain menjadi suatu kebiasaan sehingga kita lupa bahwa kebiasaan ini saja sudah menjadi satu kesalahan bagi diri sendiri; that's life.
Ketika segala sesuatu yang terjadi tidak dapat dijelaskan; that's life.
Ketika sulit sekali menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan, that's life.

Dan ketika kita tidak menemukan kata yang sesuai untuk menggambarkan apa yang kita rasakan tentang kehidupan pun, itu lah kehidupan.
Banyak hal yang kita rasakan, banyak hal yang kita lihat, banyak hal yang kita dengar, banyak hal yang kita harapkan, banyak hal yang kita sayangkan, banyak hal kita syukuri, banyak hal yang kita maknai, dan masih banyak hal lagi yang sulit untuk dijelaskan. 

That's life, rite?

Dimana letak kedamaian? Dimana letak penerimaan?
Adalah dua hal yang tidak akan teraih ketika kita terlalu berfokus terhadap segala ketidaksesuaian yang terjadi. Ya, kedamaian dan penerimaan. 
Bagaimana bisa merasakan kedamaian bahkan kita menerima saja tidak bisa?

Terkadang, kita harus meluangkan sedikit waktu ditempat yang kita bisa duduk diam, melihat kegiatan orang-orang disekitar kita, merenungi semuanya.
Terkadang, kita harus meluangkan sedikit waktu untuk benar-benar duduk berdua dengan diri kita sendiri. Berdua? Ya, kita dan hati kita.

Dalam diam, yang harus kita lakukan bukanlah mencari alasan kenapa justru ketidaksesuaian yang kita terima. Dalam diam, yang harus kita lakukan adalah mengajak diri kita sendiri untuk berdamai dengan kenyataan. 

Coba kita perhatikan orang yang harus mengais sampah untuk tetap makan, orang yang harus menyapu jalanan, orang yang harus membersihkan toilet umum, orang harus menjadi kuli angkut, orang yang harus menjadi tukang parkir, dan masih banyak lagi. Perhatikan mereka. Kalau mereka ditanya, tentu mereka mengharapkan sesuatu yang lebih layak dari keadaan mereka saat ini. But, you know, that's life! Life goes on. No matter what. Itulah sebabnya mereka tetap gigih berjuang ditengah ketidaksesuaian yang mereka miliki. Kalau mereka yang tidak lebih beruntung dari kita saja sanggup melanjutkan hidup dengan gigih, kenapa kita tidak?

Ajak diri kita untuk menerima segala ketidaksesuaian yang ada.
Karena bukan hidup yang harus menyesuaikan kita, tapi kita lah yang harus menyesuaikan hidup, supaya ditengah ketidaksesuaian yang ada, masih ada rasa syukur yang tersisa.


Sabtu, 13 September 2014

Tentang orang yang dipundaknya dibebankan amanah untuk menjaga, mengasihi, membimbing, dan mencintai kita...


Tak kuasa aku menahan air mata ini saat menyadari begitu cepat waktu berlalu…..
Rasa-rasanya baru kemarin aku menjadi gadis bertubuh mungil yang selalu memanggil ayahnya untuk menghentikan kegiatannya lalu memintanya untuk menemani tidur… Rasa-rasanya baru kemarin aku menjadi gadis mungil yang setiap sore selalu bermain air di halaman rumah… Rasa-rasanya baru kemarin sore aku menjadi gadis mungil yang senang sekali memakai baju ayahnya dan memeluk manja sebuah boneka… Melihat papa yang semakin hari semakin tua, pedih rasanya hati ini. Begitu cepat waktu berlalu…..

Ya, ini tentangmu, Pa..
Aku baru saja menyaksikan seorang ayah menikahkan anak perempuannya dan tiba-tiba aku mencoba menerka apa yang dirasakan dan dipikirkan laki-laki itu. Aku mencoba menerka apa yang dipikirkan dan dirasakan seorang laki-laki yang harus merelakan gadis mungilnya yang sejak kecil selalu bersamanya, yang  tidur selalu ditemaninya, yang suara manja memanggilnya selalu menjadi panggilan hangat yang akan selalu dirindukan, untuk menjadi milik dan tanggung jawab laki-laki lain. 

"Bakti seorang wanita setelah ia menikah adalah untuk suaminya terlebih dahulu"
Aku sering mendengarnya, Pah.. Aku sering mendengar pernyataan itu…

Sontak hati ini berteriak, "Bagaimana bisa?????"
Bagaimana bisa Pah, aku yang sebagai anak masih banyak kurangku dalam mewujudkan bakti untukmu, harus membagi bakti ini untuk laki-laki lain??? Bagaimana bisa aku menjadikan suamiku kelak menjadi laki-laki yang harus lebih aku prioritaskan, sedangkan papa yang sudah sepantasnya selalu menjadi nomer satu untukku saja masih sering aku nomerdua kan dengan segala kesibukanku. Bagaimana bisa aku harus mati-matian mengerahkan seluruh usahaku untuk memberi yang terbaik untuk suamiku kelak, sedangkan kadang aku memilih diam untuk melihat papa lebih dulu memulai sesuatu.

Ya Allah…
Semoga aku dan siapapun gadis kecil yang sekarang sudah tumbuh dewasa, akan mendapatkan laki-laki yang baik untuk menjadi imam kami, agar tidak sia-sia kami membagi bakti kami… Semoga Kau beri kami suami yang mampu menjadi sandaran agar ayah kami tidak sia-sia melepaskan kami… Semoga Kau beri kami suami yang bertanggung jawab supaya ayah kami tidak dihantui rasa khawatir anak perempuannya menjadi milik orang lain.

Ya Allah…
Semoga Kau jadikan kami anak yang tidak berhenti dalam bakti. Semoga Kau jadikan kami anak yang selalu mengasihi, mencintai, dan menghormati kedua orang tua kami. Maafkan kami ya Allah, kalau selama ini kami belum mampu bersikap baik terhadap dua orang yang dipundaknya Kau bebankan untuk menjaga, mengasihi, membimbing, dan mencintai kami.. 

Kenapa harus Kau ciptakan cinta yang begitu tulus dan besar sehingga apapun yang kami lakukan tidak akan mampu membalasnya, Ya Rabb?
Dan oleh karena kami begitu menyadari bahwa kami tidak akan mampu membalas cinta dan kasih ayah dan ibu kami, kami mohon izinkan kami menjadi anak yang selalu mengingat mereka agar kami tak lupa untuk memberikan yang terbaik untuk mereka baik dalam bentuk sikap, ucap, maupun  doa.

Semoga kami adalah anak yang selalu memposisikan orang tua diatas kami, agar ketika kami melihat ke atas, ketika kita melihat bintang, muncul rasa ingin meraihnya untuk mereka.

Semoga kami adalah anak yang selalu memposisikan orang tua dipandangan kami saat menunduk, agar ketika kami dalam tunduk pilu, kami ingat bahwa ada doa dan kasih mereka disana,

Semoga kami adalah anak yang selalu memposisikan orang tua di depan mata kami agar kami selalu tau bahwa ada mereka yang selalu membimbing kami.

Semoga kami adalah anak yang selalu memposisikan orang tua di belakang kami agar kami selalu ingat bahwa mereka ada di sana untuk mendukung kami.

Semoga kami adalah anak yang selalu memposisikan orang tua di dalam hati kami supaya kami ingat bahwa kami harus selalu berbakti kepada mereka, orang yang doa dan restunya bisa membuka pintu langit dimana mungkin doa dan harapan kami tertahan disana. 

Ya Rabb.. Untuk cinta yang tidak akan mampu kami balas, kami titipkan sepenuhnya langkah kami agar selalu mampu menjadi anak yang berbakti untuk kedua orang tua kami…..

Selasa, 09 September 2014

Tidak ada yang salah dengan kebesaran hati.


Sebenarnya sudah lama kita mendengar suara-suara itu. Suara-suara dimana orang menyalahkan seseorang atas apa yang ia rasakan.
Suara-suara dimana orang menaif-naifkan seseorang hanya karena apa yang mereka pertahankan.

Apa yang salah dengan sebuah rasa? 
Hanya karena sudah tidak lagi berhubungankah lalu rasa itu menjadi sesuatu yang tidak pantas untuk terus ada?

Apa yang salah dengan sebuah rasa?
Hanya karena kita tertuju kepada orang yang tidak bersikap baik terhadap kita kah sehingga salah apabila rasa itu tetap ada?

Apa yang salah dengan sebuah rasa?
Hanya karena malu dihina kah sehingga muncul pula rasa malu untuk mengakui bahwa sayang dan peduli itu ada?

Apa yang salah dengan sebuah rasa? Apa yang salah dengan sebuah ketulusan? Apa yang salah dengan sebuah perjuangan?
APA???

Mungkin akan terbesit dipikiran kita, kalau memang tidak ada yang salah dengan semuanya, lalu kenapa sering juga terdengar nasehat untuk melepaskan sesuatu yang tidak lagi dapat dipertahankan. Menjadi tidak konsisten sepertinya, bukan?

Nanti, nanti dulu. Segala sesuatunya jangan diterima utuh. Mari kita lihat semuanya lebih jauh.

Kita masih sayang dan peduli dengan orang yang tidak lagi berhubungan dengan kita?
Kita masih sayang dan peduli dengan orang yang tidak bersikap baik dengan kita?
Kita masih sayang dan peduli dengan orang yang tidak memperdulikan kita?

Begitu?? Kalau memang iya, lalu kenapa? Apa salahnya????

KITA TIDAK PERLU MALU MENGAKUI APAPUN YANG KITA RASAKAN TERHADAP ORANG LAIN. 

Kenapa tidak perlu malu???
Karena adanya rasa itu adalah bukti bahwa kita bukanlah orang yang hanya bertahan pada sebuah kesempurnaan.
Karena adanya rasa itu adalah bukti bahwa kita adalah orang yang tidak hanya mencari senang namun juga mau bertahan dalam sebuah kekurangan.
Karena adanya rasa itu adalah bukti bahwa kekurangan tidaklah menjadi alasan untuk membenarkan sikap "meninggalkan". Kalau semua yang sudah tidak sesuai boleh langsung begitu saja ditinggalkan, lalu kenapa Tuhan ciptakan kata "berjuang" dan "bertahan"?

TAPI….. LAGI DAN LAGI KITA HARUS MELIHAT SEMUANYA LEBIH JAUH.

Memang tidak salah dengan apa yang kita rasakan, ASAL tidak merendahkan diri kita sendiri. Jangan kita mengurangi apa yang menjadi hak kita hanya karena rasa kita terhadap orang lain. Hak kita untuk bahagia, hak kita untuk menjadi diri sendiri, hak kita untuk mengenal orang lain, hak kita untuk mencoba banyak hal baru, hak kita untuk masih banyak hal lagi.

JANGAN JADIKAN RASA YANG MASIH DAN TETAP ADA ITU SEBAGAI PENGHENTI LANGKAH KITA.

Kalau memang rasa itu ada, biarkan saja. Asal langkah kaki ini terus kita ayunkan.
Kalau memang rasa itu ada, biarkan saja. Asal keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas izinNYA. Dengan meyakini ini, tidak akan pernah kita menjadi pribadi yang menutup diri. Tidak akan pernah.

Tidak ada yang salah dengan sebuah rasa. Tidak ada yang salah untuk terus menyayangi orang yang dianggap tidak tepat sekalipun. Tidak ada yang salah untuk terus peduli kepada orang tidak bersikap baik terhadap kita. Itu bukan sebuah kenaifan, pun bukan sebuah kebodohan. Justru, itu adalah sesuatu yang patut dihargai karena itu bukti bahwa masih ada orang yang tidak hanya bertahan dalam senang dan kesempurnaan, namun juga mau bertahan dalam cobaan dan kekurangan. Sekali lagi, TIDAK ADA YANG SALAH DENGAN KEBESARAN HATI UNTUK TETAP PEDULI DAN MENYAYANGI SESEORANG DENGAN SEGALA KEKURANGAN DAN KESALAHANNYA.

Kalau kita hanya menyayangi dan peduli seseorang hanya karena baiknya, itu artinya kita memberi dan mengharap kembali.
Berilah karena kita ingin memberi, bukan karena kita mengharap diberi kembali.

Senin, 01 September 2014

Dengan atau tanpa, kita tetaplah kita.


Menanggapi tentang sebuah pernyataan yang sering sekali terdengar.

"Aku gabisa tanpa dia…. aku rapuh tanpanya…. dia adalah semangatku….. aku hancur….."

Bagi siapapun yang dalam hati dan pikirannya terbesit atau bahkan tertanam keyakinan seperti ini, sudah seharusnya menyadari satu hal.
"Kekuatan kita tidak selemah itu"

Bukan, ini bukan bermaksud menggurui karena saya pun pernah mengalami. Tulisan ini lebih kepada saya ingin berbagi tentang apa yang menurut saya patut disadari oleh semua orang.

Pernah melihat taman yang disana terdapat pohon dan bunga-bunga? Indah kan? 
Baik bunga maupun pohon tersebut memiliki kehidupannya sendiri walaupun kehadirannya saling melengkapi.

Apa hubungannya?
Selalu posisikan kita seperti pohon itu. Kita berdiri diatas akar dan batang kita sendiri. Kita berdiri diatas kaki kita sendiri.
Siapapun yang datang membawa kebahagiaan untuk kita adalah seperti bunga-bunga ditaman tadi. Kehadirannya melengkapi dan memperindah hidup kita, bukan?

Tapi sadarkah kita? 
Sadarkah bahwa SEBUAH POHON TIDAK AKAN ROBOH HANYA KARENA LAYUNYA SETANGKAI BUNGA?

Apa artinya?
Yang layu biarlah layu. Nanti bunga itu pasti akan tumbuh lagi.
Yang pergi biarlah pergi. Nanti pasti akan ada yang lain yang mengganti.

Kehilangan memang bukan perkara mudah. Apapun bentuknya.
Tapi Allah sudah bekali kita dengan kekuatan. Sehingga, dengan atau tanpa (mereka), kita adalah kita. Kita yang tegar, tangguh, dan sabar.

Jangan gantungkan sepenuhnya kebahagiaan dan semangat kita kepada orang lain. Karena pada akhirnya, kita adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab penuh atas diri kita sendiri.

Kita tidak selemah itu……
Rasa sedih karena sebuah kehilangan nantinya akan hilang seiring berjalannya waktu.
Akan selalu ada kekuatan untuk membangun kembali daratan yang tersapu bersih oleh badai, bukan?

Sabtu, 30 Agustus 2014

Tentang sebuah tanya dan rasa.


Entah kata apa yang sesuai yang dapat mengungkapkan apa yang aku rasakan.
Berderai air mata ketika aku menulis ini.
Ada teriakan dari dalam hati tentang suatu keadaan yang kadang aku anggap sebagai sebuah ketidakadilan.
Terkadang hati ini menjerit. Bukan karena aku menyalahkan Sang Pemilik Kehidupan atas apa yang terjadi. Tapi jeritan itu adalah ungkapan sebagai manusia yang terkadang tidak mengerti maksud dan tujuan Sang Pencipta.

Begitukah kehidupan, Ya Allah?
Seperti inikah jalan cerita yang Kau gariskan untuk panggung kehidupan yang harus kami jalani?

Rasa-rasanya tidak ada yang tidak aku terima dikehidupanku. Rasa-rasanya tidak ada kebutuhanku yang tidak terpenuhi.
Semua nikmat dan anugerah yang Allah berikan, BEGITU LUAR BIASA.

Tapi kadang hati ini menjerit…… Ada satu kepedihan yang begitu luar biasa……..
Ya Allah……. Kenapa didepanku banyak sekali orang yang tidak seberuntung aku??????

Kenapa masih ada orang yang tidur beralaskan bumi dan beratapkan langit sedangkan aku tidur dikamar yang nyaman dengan tempat tidur yang menjanjikan mimpi indah untukku????

Kenapa masih ada orang yang harus mengais tumpukan sampah untuk mendapatkan makanan sedangkan aku kapan saja dapat menikmati nikmatnya rezekiMU hanya dengan membuka tudung saji????

Kenapa masih ada orang yang menjahit bajunya agar tetap layak pakai sedangkan aku bisa kapan saja membeli baju baru hanya karena rasa bosan dan sebuah keinginan???

Kenapa masih ada orang yang harus mengayuh becak dan sepedanya untuk menjemput rezekiMU ditengah panasnya sinar mentari sedangkan aku bisa saja disaat yang bersamaan sedang menikmati minuman dan makanan yang lezat disebuah cafe yang dingin dan nyaman????

Kenapa didepan mataku masih aku temukan orang-orang yang berjuang melawan sakit ditubuhnya sedangkan aku seringkali menyia-nyiakan sehatku????

Kenapa didepanku masih ada orang yang mempertanyakan dan menyuarakan rindu kepada orang tuanya sedangkan aku terkadang tidak sepenuhnya bersikap baik terhadap orangtuaku????

Kenapa didepanku masih banyak hal yang bahkan tidak sanggup aku jelaskan satu persatu??????? 

Aku manusia biasa, Ya Allah. Rasa-rasanya wajar kalau aku menganggap ini sebuah ketidakadilan. Bukankah memang terkadang apa yang terjadi adalah sebuah misteri? Wajarkan Ya Allah ketika aku mempertanyakannya?

Ya! Kadang aku merasa ini semua tidak adil. Aku marah! Aku merasa bersalah! Pedih!!! Ya Allah, pedih!!!!!
Tapi aku selalu berusaha menenangkan hati dan jiwaku agar aku tidak berkelanjutan menyalahkan kehidupan, dengan berfikiran bahwa mungkin ini adalah alasan kenapa Allah tidak menciptakan aku dan kita semua di ruangan hampa. Mungkin itulah kenapa Tuhan ciptakan kita berdampingan dengan orang-orang yang berbeda dengan kita. YA, KITA HARUS MENGAMBIL PELAJARAN ATAS KEHADIRAN MEREKA.

Ya Allah, terimakasih Kau telah ciptakan orang yang kurang sehat sehingga aku mampu dianggap lebih sehat.
Terimakasih karena Kau telah ciptakan orang yang kurang beruntung sehingga aku mampu dianggap lebih beruntung.

Ya Allah, 
Jika memang kehadiran mereka Engkau gariskan untuk memberi pelajaran bagi kami, maka jadikanlah kami menjadi hambaMu yang peka terhadap apa yang Kau sisipkan melalui mereka.

Ya Allah,
Jika memang segala kesulitan, kekurangan, kesempitan, dan kesakitan yang mereka terima adalah peringatan untuk kami agar lebih bersyukur, maka sudilah kiranya Engkau membayar mereka dengan kekuatan, kesabaran, dan kebahagiaan.

Ya Allah,
Jika memang kami diperkenankan merasa tidak adil, marah bahkan merasa bersalah dengan segala perbedaan yang ada, maka kami mohon perkenankan kami mengungkapkan apa yang kami rasakan tersebut dengan sesuatu yang baik. Perkenanlah kami mengungkapkan apa yang kami anggap sebagai ketidakadilan dengan rasa syukur yang tiada henti, dengan sikap dan perilaku ingin terus berbagi. Jangan jadikan kami sebagai hambaMU yang mengungkapkan perasaan yang kami rasakan dengan justru menjauhiMU.

Ya Allah,
Begitu beratnya yang harus mereka terima yang mana semua itu semata-mata hanya untuk memberikan pelajaran berharga bagi kami.
Maafkan kami yang masih sangat kurang mensyukuri nikmatMu ya Allah. Maafkan kami…… Sudilah kiranya Engkau membimbing kami agar kami menjadi hambaMu yang pandai bersyukur agar tidak ada murkaMU karena sebuah kufur, Ya Rabb..

--------------------------------------------

Tulisanku kali ini memang berbeda dengan tulisan yang sudah aku tulis sebelumnya.
Pada tulisan ini aku tekankan pada "aku". Ya, ini adalah tentang aku. Tentang apa yang aku rasakan, apa yang aku alami, dan apa yang aku pikirkan.
Bukan, ini bukan semata-mata menjual pikiran dan pendapatku akan sesuatu. Benar-benar aku niatkan semua untuk berbagi. Tidakkah aku mengharapkan sesuatu? Tentu saja aku mengharapkan sesuatu dari apa yang aku tulis ini untuk siapapun yang membacanya.

Setiap orang memiliki kehidupannya sendiri. Memiliki cerita yang membentuk kepribadian serta pola pikirnya masing-masing.
Itulah sebabnya kenapa ada satu hal yang ingin aku tekankan; AKU TIDAK MENUNTUT ORANG LAIN MENYETUJUI APA YANG MENJADI NILAI DAN PENDAPATKU. Semua karena kita memiliki pendapatnya masing-masing.

Disini aku hanya ingin mengajak serta mengingatkan bagi siapapun yang membaca ini khususnya diriku sendiri untuk selalu menjadi orang yang peka terhadap setiap apa yang terjadi baik pada diri kita sendiri maupun orang lain. Kenapa harus peka? Karena yang tersurat berbeda dengan yang tersirat, bukan? Kita harus mampu mencari apa yang tersembunyi. 

Semoga kita semua adalah orang yang peka terhadap apa yang terjadi. Semoga kita semua adalah orang yang tidak enggan untuk berbagi sebagai wujud rasa syukur atas nikmat dan anugrah yang tiada henti. Aamiin Aamiin Ya Rabbal'alamiin…. 

Rabu, 20 Agustus 2014

Pemaknaan mengubah kenyataan.

Sudah sepatutnya kita menyadari bahwa diri kita adalah sepenuhnya tanggung jawab kita. Kalau bukan kita yang menjaga hati dan pikiran kita, siapa lagi?

Apa yang terjadi tidaklah sama dengan apa reaksi kita terhadapnya. Berbeda pula dengan bagaimana kita memaknainya. Selain (mau tidak mau) menerima yang terjadi, kita juga harus bijaksana untuk menyikapi dan memaknai. Apa yang terjadi, apa yang kita terima, apa yang kita rasakan adalah sesuatu yang sudah menjadi  bagian kita. Menyakitkan? Menyedihkan? Mematahkan semangat? Menguras emosi dan air mata? Ya! Mungkin semua itu kita rasakan saat kita mengalami sesuatu. Tapi sebenarnya bagaimana reaksi kita selanjutnya terhadap sesuatu itulah yang paling penting.

Kita kehilangan sesuatu. Marah? Sedih? Jengkel? Itulah yang terjadi. Tapi mari kita maknai. Siapa tau dari kehilangan ini kita harus belajar untuk lebih berhati-hati. 

Hubungan kita harus berakhir dengan orang yang kita sayangi. Marah? Sedih? Merasa kehilangan bahkan habis harapan? Wajar. Kehilangan memang bukanlah hal mudah. Apapun bentuknya. Tapi mari kita maknai. Siapa tau dari kehilangan ini justru pintu untuk orang lain yang lebih baik untuk kita terbuka lebar.

Kita harus jauh dari orang tua untuk alasan pekerjaan ataupun pendidikan. Sedih? Berat hati? Pasti. Tapi mari kita maknai. Siapa tau itu mengajarkan kita untuk menyadari bahwa semakin kedepan, kehidupan semakin menuntut kita untuk mandiri. None of us are going to be here forever. 

Saat kita membutuhkan telinga untuk mendengar keluh kesah, tak satupun orang yang ada disamping kita. Marah karena merasa mereka tidak menyempatkan waktu? Sedih? Pasti kita rasakan itu. Tapi mari kita maknai. Siapa tau, Tuhan memang mengatur sedemikian rupa segala urusan mereka sehingga mereka bahkan sedetikpun tidak mampu meluangkan waktunya untuk kita. Supaya apa? Supaya kita tau bahwa ada yang selalu ada untuk mendengar keluh kesah dan resah kita. Siapa? Ya, DIA. Tuhan Yang Maha Kuasa. Ternyata, dari ketidakhadiran mereka itulah cara Tuhan meminta kita untuk mengingatNYA.

Sudah berusaha sekuat tenaga tapi tetap saja ditempat yang sama, tetap saja tidak bisa menjadi seperti orang lain. Merasakan ketidakadilan? Merasa sia-sia? Wajar. Itu pasti dirasakan oleh setiap kita yang mengharapkan hasil usaha kita selalu sesuai dengan harapan. Tapi mari kita maknai. Siapa tau, Tuhan tidak mengubah keadaan kita menjadi lebih seperti apa yang kita kehendaki karena Tuhan menjaga kita dari sifat tinggi hati. Bukankah kita manusia sering lupa bersyukur? Mungkin itulah cara Tuhan menjaga kita supaya tidak menjadi hambaNYA yang kufur. Sedikit tapi mencukupi adalah lebih baik daripada banyak tapi membuat kita lupa diri. Toh, apa yang orang lain punya, tidak akan mengurangi jatah kita. Begitu juga sebaliknya. Apa yang kita punya tidak akan menambah jatah orang lain. Semua punya porsinya masing-masing.

Itu adalah beberapa contoh dari sekian banyak hal yang terjadi dalam hidup ini yang sebenarnya selalu bisa dilihat dari sisi yang berbeda. 

Jangan terima utuh semua perasaan yang kita rasakan atas apa yang terjadi, terlebih membiarkannya menguasai hidup kita. Mari kita maknai. Dengan memaknai, waktu dan perasaan kita tidak akan terbuang sia-sia karena kita mampu mengambil hikmah dan pelajaran yang berarti dari apa yang terjadi. Dengan memaknai, yang menyakitkan akan terasa menjadi sesuatu yang menguatkan. Dengan memaknai, kegagalan akan menjadi motivasi untuk terus berusaha meraih keberhasilan. Dengan memaknai, yang berat akan menjadi ringan, yang sukar akan menjadi mudah, dan yang hitam akan menjadi putih.

Hidup bukan sekedar apa yang terjadi tetapi juga apa dan bagaimana kita menyikapi serta memaknai.