Rabu, 26 Februari 2014

Selamat jalan, Adikku...


Setiap dari kita, sebelum terlahir ke dunia ini, sudah membuat perjanjian dengan Sang Pencipta. Tawar-menawar mungkin lebih tepatnya.
Sanggup atau tidak kita akan segala sesuatu yang akan kita terima di dunia, suka duka, tangis bahagia, perbincangan tentang jodoh, rezeki dan maut sekalipun, kita sudah berbincang dengan Tuhan tanpa mengingatnya, ternyata…...

TERIMAKASIH, DEK…..

Kamu sudah menyanggupi banyak hal..
Kamu menyanggupi terlahir untuk menjadi anak yang jauh lebih dewasa dari anak seumurmu lainnya…
Kamu menyanggupi terlahir untuk menjadi penolong bagi ibumu kelak di akhirat..
Kamu menyanggupi terlahir untuk menjadi temanku, sahabatku..
Kamu menyanggupi terlahir ikhlas menerima sakit yang harus kau derita…
Kamu menyanggupi terlahir untuk menjadi anak yang membawa pelajaran berharga bagi kami semua..

2 tahun terakhir ini, aku melihatmu harus terus berteman dengan obat-obatan, kesana kemari mencoba segala pengobatan, menahan sakit yang kau bungkus dengan senyuman dan tawamu yang renyah terdengar di telinga...
Umurmu masih begitu muda, dek.. 13 tahun………
Umur dimana harusnya kamu sedang mengepakkan sayapmu selebar mungkin, terbang setinggi mungkin..
Tapi, tidak dengan kamu dek……

Sebelum atau sesudah sakit itu ada di tubuhmu, kamu tetaplah kamu..
Kamu yang sangat dewasa, yang sangat sopan, sangat perhatian, sangat teliti, dan ceria….
Di tengah rasa jenuhmu harus berteman dengan segala obat-obatan itu, satu hal yang membuat kami kagum dek…

"Sakit ini anugrah buat aku, ini yang mbuat aku lebih deket sama Allah. Kalo aku ga sakit, mungkin aku sekarang jadi anak ga bener. Pergaulan jaman sekarang kan serem…."

Subhanallah……. Begitu mulianya dirimu… Anak sekecil kamu,dek……
Kamu membawa pelajaran yang begitu berharga untuk kami semua..
Setiap hari harus selalu ada obat yang masuk ke tubuhmu, dan setiap hari pula selalu terpikir bagaimana memenuhinya..
Itu membuat kami TERSADAR….. Bahwa ternyata tidak hanya kesenangan yang harus dipikirkan di dunia ini..
Tidak hanya bagaimana mencari materi untuk memenuhi keinginan-keinginan duniawi.
Menyadarkan kita bahwa hidup tidak hanya sekedar dibohongi, tidak hanya sakit ditinggal kekasih, bukan hanya membesarkan masalah yang kecil namun melupakan hal yang sangat penting.

Apa hubungannya dengan kami yang tidak mengalami? Ada….
Ketika kami tidak mengalami, setidaknya ini bisa membuat kami menyeimbangkan hidup kami..
Setidaknya kami bisa sedikit mengingat bahwa hidup bukan hanya tentang duniawi..

Selamat jalan adikku….
Selamat jalan kamu, temanku bercerita..
Selamat jalan kamu, yang selalu mengajakku sholat bersama..
Selamat jalan kamu, yang tidak pernah lupa mengingatkan aku akan semua kebutuhanku..

Terimakasih untuk pelajaran berharga ini..
Tidurlah nyenyak dipelukan Sang Pencipta.. Tawamu, senyummu, candamu, semua tentangmu tidak akan pernah kami lupakan..
Kami begitu menyayangimu, dek. Tapi kiranya Allah lebih menyayangimu.

--Semoga kita mampu menjadi orang yang tidak hanya memikirkan kesenangan, banyak hal yang lebih sulit yang harus disiapkan--

Minggu, 16 Februari 2014

Di sana, belum tentu ringan..


"Kalo tau kayak gini, mending kemaren pilih yang itu aja! YANG INI GA ENAK!!!"
"Kalo tau ini susah, ga bakal deh aku mau…."
"Harusnya aku ga gitu kemaren, biar ga jadi kayak gini sekarang!!! AKU JENGKEL!!! NYESEL!!!"

Seringkali keluhan-keluhan itu keluar dari mulut kita. Keluhan yang muncul karena ketidaksesuaian kenyataan dengan apa yang kita harapkan.
Salahkah? Tidakkkk… Marah, mengeluh, sedih, dan apapun yang kita rasakan karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan itu wajar. Sah-sah saja.

Namun….. Mungkin ada satu yang kita lupa sehingga emosi -khususnya emosi negatif- yang keluar dari ketidaksesuaian itulah yang menguasai hati dan pikiran kita. Coba renungkan ini………

Apapun yang sedang kita jalani saat ini yang mana mungkin adalah pilihan kita sendiri, mungkin memang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Sulit ya? Berat ya? Rasanya kalau bisa, ingin memilih yang lain, bukan?

--Setiap jalan, memiliki likunya sendiri--

Itu yang harus kita ingat, setiap jalan memiliki likunya sendiri..
Memang benar, andaikan kita memilih jalan lain kala itu, mungkin akan lebih baik dari ini.. Tapi, hanya sisi baiknya saja kan? Sisi sulitnya, sisi cobaannya, belum tentu lebih ringan dari apa yang kita alami sekarang. Pilihan yang lain juga akan menemui rintangannya sendiri. Kita tidak tahu kan akan seberat apa di jalan yang lain? Pun, kita tidak akan tahu akan seperti apa perjalanan yang kita tempuh saat ini. Siapa tahu akan menjadi lebih mudah. 

Kalau apa yang kita alami saat ini dianggap berat, maka jangan membuatnya lebih berat dengan keluhan.
Tuhan tidak akan pernah lupa memberi bekal untuk kita saat kita harus menjalani kehidupan ini. Bekal apa? Bekal itu berupa keberanian, kekuatan, kesabaran, dan hal baik yang lainnya lagi. Semua tinggal bagaimana kita. Mau menggunakannya atau tidak.

--Disini, di jalan ini kita ditempatkan. Maka,  akan selalu ada kekuatan, kemudahan, dan kemampuan untuk menempuh perjalanan--

Jumat, 14 Februari 2014

Makna disetiap ada..


Kenapa harus ada orang sombong?
Mereka ada agar kita tahu bahwa rendah hati dan rendah diri adalah jauh lebih mulia.

Kenapa harus ada orang yang tidak juga paham setelah berulang kali diajarkan dan diingatkan?
Mereka ada agar kita tahu bahwa mengajarkan itu membutuhkan kesabaran. Mereka ada agar kita tahu bahwa tidak boleh ada kata berhenti untuk menyebarluaskan kebaikan dan selalu mengingatkan.
 
Kenapa harus ada orang bodoh?
Mereka ada agar kita tahu bahwa Tuhan mengizinkan kita menjadi bermanfaat bagi sesama dengan mengajarkan. Ketika kita merasa lebih mampu, ajarkanlah.

Kenapa harus ada orang pintar? Malu terkadang melihat kemampuan diri sendiri.
Mereka ada agar kita termotivasi untuk memperkaya diri dengan ilmu.

Kenapa harus ada orang yang hidupnya serba kurang namun tanpa berat hati, ia berbagi sana sini?
Mereka ada agar kita tahu bahwa memberi tidak akan mengurangi yang kita miliki.

Kenapa harus ada orang yang hidupnya bergelimang harta, serba berkecukupan namun enggan membuka tangan? Harta selalu digenggamnya.
Mereka ada agar kita tahu bahwa harta bukanlah apa kalau tidak membaginya dengan sesama. Kita tentu enggan dekat dengan orang yang kikir, bukan? Darimana kehangatan bisa dirasakan?

Kenapa harus ada orang yang gemar memamerkan yang dimilikinya?
Mereka ada agar kita tahu bahwa sederhana lebih bersahaja.

Kenapa Tuhan tidak menciptakan kita di ruang hampa? Karena Tuhan meminta kita untuk mengambil pelajaran dihadirnya sesama.

--Carilah makna disetiap kehadiran yang ada. Maka pelajaran yang dibawa olehnya, akan memberi ruang kepada kita untuk mensyukurinya. Dan karenanya, semoga hebatlah kita dalam memaknai segala sesuatu yang ada--

Kamis, 13 Februari 2014

Bakti ini harga mati..


"Aku ini sudah dewasa, Bapak Ibu tidak perlu lagi mencampuri urusanku"

Kita, terkadang lupa bahwa.. 

Seorang anak tidak akan mampu menutup mata dan telinga dari nasehat dan bimbingan orang tua. Sampai kapanpun. Apapun.

Posisikan orang tua diatas kita, agar saat kita melihat keatas, kita melihat bintang, muncul rasa ingin meraihnya utk mereka.

Posisikan mereka diarah pandangan kita saat menunduk, agar kita ingat, dalam tunduk pilu, ada mereka disana dengan doa dan kasihnya.

Posisikan mereka didepan mata kita, agar kita tahu ada mereka yg slalu membimbing kita.

Posisikan mereka dibelakang kita, agar kita tahu ada mereka yg slalu mendukung kita.

Posisikan mereka disamping kita, agar kita tahu mereka slalu mendampingi kita.

Posisikan mereka dihati kita, agar kita selalu ingat bahwa kita harus selalu berbakti kepada mereka, orang yang doa dan restunya bisa membuka pintu langit dimana mungkin doa dan harapan kita tertahan disana. 

"Lalu, bagaimana dengan orangtua yang tidak bersikap baik terhadap anaknya?"

Bagaimana mereka memperlakukan anaknya, itu tanggung jawab mereka terhadap Tuhan. Biarlah itu menjadi urusan mereka. Tapi sebagai anak, sudah seharusnya tetap bersikap baik. Tidak berbicara seolah mereka tidak berarti lagi untuk kita, contohnya. Serta, yang tidak boleh terlupa; doa. Itulah wujud tanda bakti.

Rabu, 12 Februari 2014

Mendengar dengan bijaksana..


Mereka memintaku untuk tidak mendengar apa yang orang katakan. Namun saat ini, mereka memintaku untuk tidak menuruti pikiranku sendiri. Dengarkan orang lain, katanya.

--Hidup akan selalu membuat kita serba salah, kalau kita tidak melihat apa yang dibawanya dengan lebih jauh dan bijaksana--

Tuhan, tidak menciptakan kita seorang diri di dunia ini karena sebuah alasan. Salah satunya adalah karena kita membutuhkan orang lain. Mendengarkan orang lain, itu perlu. Lalu, kenapa lewat orang-orang itu, hidup juga meminta kita untuk mengabaikan mereka?

Lihatlah lebih jauh dan bijaksanalah. Orang yang seperti apa yang harus kita dengarkan dan seperti apa yang harus kita abaikan, kita harus tahu persis akan itu.

Dengarkan mereka! Siapa???
Mereka yang hebat dalam perjuangannya. Mereka yang ceritanya dapat memotivasi. Mereka yang dengan ketulusannya, memberi arahan agar langkah tak kehilangan arah. Mereka yang berpengalaman. Mereka yang mengerti. Mereka yang memahami. 

Kenapa mereka harus kita dengarkan? Karena kita sadari atau tidak, langsung atau tidak langsung, apa yang mereka sampaikan akan membawa energi positif dalam hidup kita. Entah menjadi motivasi, bahan pertimbangan ataupun pedoman.

Jangan dengarkan mereka! Siapa???
Mereka yang hanya menyalahkan langkah kita tanpa mau memberikan solusi. Mereka yang hanya berkomentar tanpa tahu alasan. Mereka yang memaksa kita mengikuti pendapatnya seakan dia lupa bahwa kitalah sang pengambil keputusan. Mereka yang terus mencaci seakan mereka berhak mencampuri. 

Kenapa kita tidak perlu mendengarkan mereka? Karena mereka memang tidak ada hubungannya dengan apa yang kita lakukan. Berhasil tidaknya, teraih atau tidaknya, tidak akan mempengaruhi hidup mereka pula. Apa yang mereka katakan hanyalah bukti bahwa dalam hidup ini, setiap orang memang mempunyai hak untuk berkomentar atas apa yang kita lakukan.

--Tidak semua yang tersampaikan, harus didengarkan--

Lag-lagi tentang semut..


Terpikir olehku, kenapa semut-semut ini mati didalam sebuah botol berisikan gula yang sepertinya itu adalah santapannya, ya?

Ah……. aku tahu! Segala yang berlebihan itu tidak baik, ya?

Iya, benar. Gula selalu identik dengan semut. Semut cinta sekali menikmati manisnya. Lalu, kenapa semut itu mati di tengah manis santapannya?
Mungkin, fenomena itu terjadi karena diizinkan Tuhan untuk memberi gambaran akan kehidupan. Ya, yang berlebihan itu tidak baik.
Terlalu menikmati harta, terlena dengan kesenangan dunia, akan membuat kita mati. Mati yang seperti apa? Seperti semut itu? Mati yang benar-benar nyawa meninggalkan raga?

Bukan, bukan……. Tapi hati kita yang akan mati. Kemampuan untuk memaknai kita yang akan mati. Kemampuan untuk sekedar menyadari pun, juga akan ikut mati. Menyadari apa?

Menyadari bahwa…..
Terlalu menikmati harta, terlalu menikmati kesenangan dunia, akan membuat kita lupa. Lupa bersyukur, lupa menahan diri, lupa mendekatkan diri kepada sang Ilahi, lupa bahwa apa yang kita miliki tidak sepatutnya kita nikmati sendiri. Namun juga untuk dibagi……

--Cukup adalah salah satu cara untuk dapat memaknai hidup--

Peribahasa itu, benar adanya..


Ada gula, ada semut…..

Kugigit donat manis itu, lalu aku tinggalkan karena handphoneku berdering.
Setelah selesai asyik mengobrol dengan temanku, aku ingin kembali menikmati lembut dan manisnya donatku. Ah….. Kudapati donatku penuh dengan semut yang sepertinya ingin juga menikmati manisnya donat itu. Sama sepertiku.

Darimana datangnya semut-semut ini, pikirku. Tak ku lihat satupun semut dimeja tempat aku meninggalkan santapanku siang itu. Begitulah kehidupan sepertinya. 

--Tuhan akan selalu melangkahkan kaki makhlukNya menuju nikmat rezekiNya--

Jangan takut akan kekurangan. Kesulitan untuk memenuhi kebutuhan, mungkin selalu kita temukan dalam hidup ini. Tapi kita harus percaya, bahwa Tuhan tidak pernah ingkar janji. Sedikit atau banyak yang kita terima, itu masalah bagaimana kita menganggapnya. Tapi satu yang pasti, apapun yang kita terima, itulah anugerah dan nikmatNya. 

Ketidakbaikan itu, baik ternyata..


"Ah… Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik itu omong kosong!" keluh wanita dengan 3 anak kepadaku.

Rasa-rasanya tidak pernah aku tidak menuruti katanya. Aku juga tidak pernah melakukan sesuatu di luar kodratku sebagai wanita. Aku tidak mengenal dunia malam, minuman keras ataupun hal yang tidak sepantasnya. Tapi kenapa, aku mendapatkan suami seperti ini? Mendengar pendapatku pun tidak. 

Coba kenali dirimu saat ini dengan dirimu yang dulu, kataku. Apa yang berbeda?
Dia termenung lama, mencoba mengenali dirinya.

"Aku lebih taat terhadap Tuhanku, sepertinya" katanya dengan nada mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

"Sejak kapan?" tanyaku untuk membantunya meyakinkan keraguannya.
Sejak aku dipusingkan sikap suamiku, jawabnya.

Nah! Tidak kah kamu sadar bahwa suamimu adalah suami yang baik dengan segala kekurangannya? Kekurangannya menjadikanmu lebih baik lagi dari sebelumnya, bukan? Pernahkah terbayang jika kamu mempunyai suami yang tidak seperti suamimu? Pernahkah terbayang jika kamu mempunyai suami yang semua sikapnya sesuai dengan keinginanmu? Mungkin saja, mungkin, kamu tidak akan setaat ini karena kamu terlena oleh terpuasnya keinginanmu. Nyatanya, kamu bisa menjadi lebih baik karena ketidakbaikan suamimu.

Begitulah kehidupan……

Apa yang menjadikan kita baik, tidak harus berasal dari hal yang baik. Pun, tidak semua hal yang mengecewakan, tidak membawa pelajaran. Selalu ada hal yang bisa dipetik dalam kehidupan ini. Selalu ada pelajaran berharga dibalik tidak terpenuhinya keinginan yang berujung kekecewaan itu.

--Maknai setiap hal yang terjadi dalam hidup ini, agar kita mengerti, agar kita memahami, agar kita mensyukuri--

Kita tahu kapan kita harus berhenti....


Sedang duduk termenung menikmati senja. Tetiba datang kawan dengan keluhannya.

"Kata orang aku harus terus berusaha, lalu kenapa sekarang aku dimintanya pasrah?"

Pesanlah dulu segelas teh hangat, suruhku dengan nada seperti seorang Ibu yang dengan lembut meminta anaknya mencuci kakinya sepulang sekolah.

Kamu harus mampu menerjemahkan kata usaha dan pasrah itu dengan tepat, kataku. Tidak ada pencapaian tanpa sebuah perjuangan. Itulah kehidupan. Itulah yang menjadikan pinta mereka agar kamu terus berusaha itu benar. Jangan takut gagal. Ketika kamu gagal, cobalah lagi. Dan ketika kamu ingin menyerah, berpikirlah bagaimana kalau ternyata yang kamu inginkan, akan teraih jika kamu mencobanya sekali lagi. 

"Lalu, kenapa aku dimintanya pasrah?"

Aku mengelus pipinya seperti seorang Ibu yang mengelus pipi anaknya dengan manja. Hey….. Jangan lupakan satu hal; Tuhan. Bagianmu, akan tetap menjadi bagianmu. BagianNya pun, akan selalu menjadi bagianNya.

Berusaha itu kewajiban kita sebagai manusia. Sebagai makhluk bernyawa yang mencari sebuah jawaban atas apa yang kita usahakan. Tapiiii…. teraihnya keinginanmu bukan karena peranmu sendiri. Izinkan Tuhan berperan.

--Setelah kita berusaha, biarkan Tuhan mengerjakan yang menjadi bagianNya--

Bagaimana kalau ternyata Tuhan akan mengabulkan apa yang kita inginkan saat kita ada dititik pasrah? Bagaimana kalau Tuhan akan mengabulkan apa yang kita inginkan saat kita sudah sangat lelah karena kita berusaha selama ini?

"Lalu, tunggu dulu. Bagaimana caranya aku tahu, bahwa saat aku memilih pasrah justru saat itulah aku harus mencoba lagi? Bukan kah tadi katamu, aku harus berpikir bagaimana kalau ternyata yang aku inginkan, akan teraih jika aku mencobanya sekali lagi?"

Tuhan adalah penggerak hati. Ketika kamu dan kita semua masih berusaha, itu karena Tuhan memang meminta kita untuk masih dan terus berusaha. Saat kita mulai lelah dan akhirnya pasrah, pun karena Tuhan meminta kita untuk mengizinkanNya melakukan yang menjadi bagianNya. Entah kita sadari atau tidak, begitulah adanya.

--Kita akan tahu kapan kita harus berhenti--