Selasa, 29 Desember 2015

Bukan materi, namun ketulusan hati.

Datang padaku seorang teman, menyampaikan keinginan dan rasa bersalahnya. 

Keinginannya – berbagi. Sangat mulia.
Rasa bersalahnya – ia tidak bisa karena sedang tidak memiliki apapun untuk diberi. 

__

Apa yang sedang tidak dia miliki? Materi? 

Jika itu masalahnya, sungguh, seharusnya tidak perlu membuatnya bersedih hati.

__

Berbagi, tidak harus selalu dengan materi. 

Bayangkan kejadian ini. 

Kita sedang berada di jalan menuju ke sebuah tempat. Lalu, kita melihat (maaf) seorang pengemis. Ia sedang memegang perutnya. Sungguh sepertinya dia lapar. 

Melihat itu, sontak hati kita merasa iba dan ingin memberikan sesuatu – uang misalnya. 

Tapi apa mau dikata, ternyata kita sama sekali tidak membawa uang. Sepeser pun. Karena tempat yang kita tuju adalah ATM, baru saja kita akan mengambil uang, misal. 

Atau,
Apa mau dikata, kita sedang berada di lampu merah dan jarak kita dengan pengemis itu tidak dekat. Dengan keadaan lalu lintas yang padat, sulit menjangkaunya. 

Sehingga, kita tidak dapat memberikan sesuatu kepadanya. Padahal, ingin sekali berbagi. 

__

Pintu yang satu tertutup, pintu lain terbuka. 

Jangan berkecil hati jika kita tidak bisa membantu seseorang dalam bentuk materi. 

Berdoalah dengan segala kesungguhan hati. Sampaikan pada semesta.

“Kalau memang jalan rezeki orang tersebut tidak melalui aku, semoga melalui orang lain”

__

Pernahkah kita bayangkan apa yang bisa terjadi dengan doa yang kita panjatkan? 

Bayangkan,

Bagaimana jika doa yang kita panjatkan dengan penuh ketulusan hati itu dapat membuka pintu langit dan semesta mengantarkan doa kita langsung kepada Sang Pencipta? 

__ 

Sesungguhnya, pengemis itu tidak hanya menahan lapar, tapi dia juga merasakan sebuah amarah. Ia mempertanyakan keadilan dan campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Mengumpat dengan segala sesak di dada mengapa kehidupan membuatnya kelaparan.

Tapi tahukah kita apa yang terjadi? 

– 

Doa kita dikabulkan. 

Tidak melalui kita, namun semesta mengirim langkah kaki dan uluran tangan yang lain untuk membantu mereka. 

Dan apa? 

Kini pengemis itu merasa bahagia. 
Perutnya terisi.
Ia membuang jauh amarahnya.
Tidak lagi mempertanyakan kasih sayang Sang Pencipta.

Dan sejak kejadian itu, tahu kah kita apa yang selalu dilakukan pengemis itu? 

BERSYUKUR dan PERCAYA. 

Ia selalu percaya bahwa pertolonganNYA nyata dan bersyukur karena ada orang yang membantunya. 


Lihatlah. 

Kita memang tidak memberi materi.
Namun apa yang kita bisikkan kepada semesta, sangat cukup memberikan kebaikan kepada sesama. 

Doa kita menjadikan seseorang selalu mengingat penciptanya. 

Bukankah sebaik-baik hamba adalah yang mengingat dan mensyukuri nikmat Sang Pencipta? 

__

Tidak bisa memberi materi, kita bisa memberi seseorang dengan sopan dan santun budi pekerti yang kita miliki. Ramah & tersenyum misalnya. Selalu ingat untuk ucapkan maaf, tolong, dan terimkasih contohnya. 

Jika memberikan itu juga tidak bisa kita lakukan, maka kita masih punya bibir dan hati yang dapat dengan tulus mendoakan kebaikan untuk sesama. 

__

Tidak seharusnya kita mempersempit arti memberi.

Berbagi tidak harus selalu dengan materi.

Karena.. 

Berbagi – memberi adalah apa yang kita niatkan untuk kebaikan orang lain dengan segala ketulusan hati.

Selasa, 15 Desember 2015

Sesederhana itu. Sederhana sekali.

Untuk menutupi kebohongan yang satu, pasti ada kebohongan lainnya. 

Berarti, apa yang kita lakukan diawal, akan mempengaruhi bagaimana selanjutnya, bukan? 

Sejenak terlintas dalam pikir, bahwa sebab-akibat — efek domino — bukan hanya milik keburukan, sesuatu yang negatif. Tapi dimiliki oleh segala aspek kehidupan, termasuk hal yang baik, hal positif. 

__


Begini. Bayangkan. 

Kita sedang berada disebuah pusat perbelanjaan. Saat sedang menuju sebuah toko, kita melewati petugas cleaning service yang sedang membersihkan lantai. 

Tak jarang, kita hanya melewatinya begitu saja. Tanpa permisi. 

Padahal, apa sulitnya kita mengucapkan permisi dan maaf? Permisi dan maaf karena kita melewati – menginjak lantai yang ia bersihkan.

Mari renungkan.

Bagaimana kalau petugas itu sedang berada pada titik dimana dia merasa sedih, kecewa, putus ada dan merasa tidak berharga karena dia hanya bisa menjadi petugas cleaning service? 

Bagaimana jika ternyata dia merasa seperti itu dan kita melewatinya tanpa permisi – menyisakan perasaan tidak dihargai dan rendah dalam dirinya. 

Kita memang tidak berniat melakukannya, tapi itu sangat mungkin terjadi. 

Dan, 
Bagaimana jika perasaan sedihnya semakin bertambah? Bagaimana kalau ternyata, langkah kita melewatinya tanpa permisi yang tidak kita niatkan menyakiti itu, membuatnya merasa lelah dan akhirnya menyerah oleh keadaan? 

Jangan, jangan pernah remehkan apa yang bisa disebabkan oleh pedihnya perasaan tidak berharga. Itu bisa membuat orang memilih mengakhiri hidupnya. 

Bagaimana kalau ia memutuskan untuk mengakhir hidupnya? Menyisakan luka bagi orang disekitar dan keluarganya. Bagaimana kalau luka itu menimbulkan hal buruk lain terjadi? Misal, keuangan keluarganya menjadi tidak baik dan harus ada yang kehilangan mimpi karena putus sekolah karenanya. Dan masih banyak kemungkinan buruk lainnya. 

Sadarkah apa yang secara tidak kita sadari, secuil sikap kita akan sangat mempengaruhi kehidupan orang lain?

Kehidupan orang lain memang bukan urusan kita. Namun yakinlah, kalau kita bisa membaca jelas apa sebab-akibat dari apa yang kita lakukan secara lebih luas, maka kita akan selalu melakukan yang terbaik. Kita tidak akan membiarkan diri kita menjadi awal yang buruk untuk keberlangsungan hidup orang lain. 

Berantai. Begitulah kehidupan.

__

Sekarang, sebaliknya. 

Bayangkan jika kita mengucapkan permisi dan maaf saat melewati petugas yang sedang merasa tidak berharga itu. Bayangkan. Apa yang bisa terjadi? 

Bisa saja, 
Saat kita melewati dan mengucapkan maaf dan permisi, muncul rasa bahagia karena ia merasa masih ada orang yang menghargainya. 

Lebih jauh lagi. Apa yang bisa dia lakukan dengan rasa bahagia yang tanpa sengaja sudah kita torehkan dalam hatinya?

Dia bekerja menjadi lebih giat
Dia melakukan hal baik kepada orang lain.
Dia bisa selalu tersenyum.
Dia bisa mengucap syukur dan memohon ampun kepada Sang Pencipta karena sempat merasa hidupnya tak adil.

Dan masih banyak hal baik lainnya yang bisa dia lakukan. 

__ 

Percayalah. 

Segala apa yang kita lakukan, akan membawa deretan cerita panjang. Baik dalam hidup kita maupun orang lain. 

__

Semoga kita selalu bisa berperangai yang baik. Yang santun & anggun.

Jumat, 16 Oktober 2015

Judul apa yang sesuai untuk tulisan ini?


Ada seseorang yang sedang mengisi waktu luang dengan mengerjakan skripsinya. Lalu tiba-tiba dia terhenti dan membuka lembar kosong pada note nya. Dia sedang tidak ingin mengerjakan urusan kampusnya. Dia ingin menulis. Menuliskan ini - sesuatu yang entah mengapa begitu sulit merangkai kata demi katanya. Ditutuplah lembar kerjanya lalu dia buka note-nya.

1 menit berlalu
2 menit berlalu….
3 menit berlalu…..

Menit demi menit berlalu sejak pertama kali dia menatap layar kosong didepannya. Menit demi menit berlalu sejak jemarinya sudah siap menunggu perintah otaknya untuk merangkai kata demi kata diatas keyboard laptopnya. Dan masih saja dia sulit menuliskannya.

"Sebenarnya, hidup itu tentang apa?" Itulah yang ada dipikirannya dan sungguh dia merasa sangat kesulitan menguraikannya.

Dia pernah mendengar beberapa hal tentang hakikat kehidupan. 

Berusahalah dan kamu akan dapatkan yang kamu mau. Begitukah hidup?
Lalu mengapa ada orang yang tetap tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan setelah mereka berusaha semampu yang mereka bisa?

Berdoalah, memohonlah dan kamu akan mendapati doamu dikabulkan. Begitukah hidup? 
Lalu mengapa ada orang yang tetap tidak mendapatkan sesuatu sesuai dengan pintanya sedangkan ia sudah berteriak dalam doanya?

Berilah sebaik-baiknya yang kau punya maka kau akan menerima sesuatu yang berharga. Begitukah hidup? Lalu mengapa ada orang yang sudah melakukan dan memberi yang terbaik miliknya, namun yang ia terima justru pedihnya luka karena usahanya tak diberi makna, tak diberi harga?

Jika katanya hidup adalah tentang melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu, lalu mengapa yang terjadi justru sesuatu yang bukan seperti yang dimau? Mengapa berbeda? Mengapa tak sama? Mengapa luka? Mengapa kecewa?

Pertanyaan itu tidak hanya muncul dari apa yang dia lihat, namun juga berangkat dari apa yang sedang dia rasakan. Dia tidak malu mengakuinya.

Sebagai manusia biasa yang boleh berharap, menurutnya kita tidak perlu malu mengakui bahwa kita sedang kecewa. Sebagai manusia biasa yang hanya bisa berusaha, menurutnya wajar kita merasa semua sia-sia karena kenyataan tak sama dengan asa. Sebagai manusia biasa yang ingin selalu memberi, menurutnya wajar kita merasa tersakiti jika kita tidak dihargai. Sebagai manusia biasa yang ingin menerima sesuatu yang bermakna dan berharga, menurutnya wajar jika kita begitu pedih mendapat sebuah luka. 

Begitu sesak rasanya menerima semua kenyataan ini, desahnya.

Namun, tiba-tiba dia teringat satu hal tentang hakikat kehidupan yang belum dia sebutkan sebelumnya.

Hidup bukan semata-semata berfokus kepada kurang dan kecewanya saja. Bahwa hidup harus mampu mencari makna dari semua yang ada.

Dia hembuskan nafas panjang sembari menutup matanya seolah mengajak dirinya untuk berdamai dengan apa yang ada.

HIDUP ADALAH MENJALANI KETENTUAN. HIDUP ADALAH MENERIMA APA YANG SUDAH DIGARISKAN.

Takdir kah yang menjadi jawaban dari semua pertanyaan?

Takdir…… 
Adalah sesuatu yang akhirnya membuat kita bungkam. Sesuatu yang membuat kita terdiam. 
Takdir tidak akan pernah memberi kesempatan kita bersuara. Ia akan memaksa kita menerima. Pada akhirnya, semua tentang takdir. Tentang apa yang ada di luar kendali kita. Tentang kenyataan yang berbeda dengan asa, yang begitu hebat menyisakan rasa kecewa dalam dada tanpa mampu kita menggambarkannya.

Dia berbisik lirih "tidak, tidak mungkin semua terjadi tanpa makna. tidak mungkin". Seolah dia sedang berbicara dengan rasa kecewa dan semua kebingungannya. 

Bukankah ketika kita menginginkan pelangi maka kita harus menerima hujan? Bukankah ketika kupu ingin terbang maka ia harus berproses menjadi ulat terlebih dahulu? Bukankah ketika kita ingin lancar bersepeda maka kita harus melewati proses jatuhnya?

Kalau memang begitu, 
Bisa saja yang terjadi adalah yang terbaik meski dengan wujud yang tak sama dengan apa yang menjadi asa, doa, dan usaha. Bisa saja semua adalah yang terbaik meski bungkusnya adalah kecewa. Bisa saja semua adalah yang terbaik meski bungkusnya adalah sebuah sesak di dada.

Bagaimana kalau apa yang tidak sesuai dengan harapan ini adalah proses untuk mendapatkan sesuatu yang indah di depan sana? Bagaimana kalau rasa kecewa ini justru jembatan untuk mendapatkan bahagia yang bahkan kita tidak akan mampu mengungkapkan betapa kita bersyukur mendapatkannya? 

Kalau begitu,
Bagaimana kalau kita terima saja semuanya dan meyakini bahwa  pasti ada hal baik dibalik semua rasa kecewa yang ada? Bisa? Kita harus bisa, karena begitulah kehidupan - memaksa kita untuk tetap berlapang dada menerima meski yang kita terima adalah sebuah kecewa.


Minggu, 20 September 2015

Dari kita, untuk kita.

Karma…….

Entah mengapa ada sedikit penolakan dari telinga dan hati ini ketika mendengar kalimat tersebut.
Entah, terlalu kejam rasanya. Terlalu merasa kita yang paling benar. Terlalu sombong menyadari bahwa mungkin semua atas sikap kita sendiri.

Ya, jujur saja, telinga dan hati ini menolak ketika mendengar orang meluapkan amarahnya atas apa yang ia terima dan berkata dengan penuh amarah kepada orang lain bahwa mereka akan mendapatkan karma atas apa yang dilakukannya. 

Terkadang, apa yang kita terima adalah apa yang kita berikan. 

Jadi bagaimana jika kata karma kita ubah menjadi "apa yang kita tanam, maka akan kita tuai" saja?

Apa yang terjadi, apa yang kita terima, belum tentu semua tentang kesalahan orang lain. Belum tentu semua tentang mereka, tapi bisa saja tentang kita. Ya! Karena sebenarnya segala sesuatunya dihidup ini bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Bagaimana bisa? Kurang lebih, begini contohnya.
  • Disaat kita mencari kesalahan orang lain, bisa saja di luar sana orang lain juga sedang mencari kesalahan kita. Kalau begitu, mengapa kita tidak mencari dan membericarakan serta mengingat baiknya orang lain supaya mereka juga melakukan hal yang sama sehingga kita tidak perlu dengan amarah berkata "kamu pasti akan mendapatkan karmanya karena sudah memperlakukanku seperti itu!"
  • Disaat kita sengaja berharap yang tidak baik untuk orang lain, bisa saja orang lain juga berharap yang tidak baik untuk kita. Kalau begitu, mengapa kita tidak berharap yang baik untuk orang lain supaya mereka juga melakukan hal yang sama sehingga kita tidak perlu dengan amarah berkata "kamu pasti akan mendapatkan karmanya karena sudah menyumpahiku seperti itu!'
  • Disaat kita berniat mencelakakan orang lain, bisa saja di luar sana orang lain juga berniat yang sama. Kalau begitu, mengapa kita tidak berniat menolong orang lain supaya orang lain juga melakukan hal yang sama sehingga kita tidak perlu dengan amarah berkata "kamu pasti akan mendapatkan karmanya karena tega mencelakakan dan merugikanku seperti itu!"
  • Disaat kita berniat membohongi orang lain, bisa saja di luar sana orang lain juga berniat melakukan hal yang sama. Kalau begitu, mengapa kita tidak berniat bersikap jujur saja supaya orang lain juga melakukan hal yang sama sehingga kita tidak perlu dengan amarah berkata "kamu pasti akan mendapatkan karmanya karena sudah membohongiku seperti itu!'
"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri" [QS 17:7]

Ya, begitulah yang sebaiknya kita lakukan; melakukan kebaikan walaupun hanya dari sebuah prasangka. Karena disadari atau tidak, diakui atau tidak, terkadang apa yang kita terima adalah apa yang kita niatkan, kita harapkan, dan kita lakukan. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. 

BERKACA adalah hal yang sudah sepantasnya kita lakukan sebelum kita benar-benar MERASA PANTAS dan BERHAK menyalahkan orang lain. 

Lalu, bagaimana jika kita sudah melakukan yang terbaik, namun yang kita terima justru ketidakbaikan sehingga membuat kita merasa bahwa kadang hidup ini tidak adil? Bagaimana?

Terinspirasi dari kisah dan curahan hati seorang teman, saya pernah membahas pertanyaan diatas dibeberapa tulisan saya sebelumnya. Judulnya "KETIDAKBAIKAN ITU, BAIK TERNYATA…." bisa dibaca di http://mutiaraannisa26.blogspot.com/2014/02/ketidakbaikan-itu-baik-ternyata.html?spref=tw

Semoga siapapun yang membaca ini berkenan dengan bijaksana mengambil sisi baik yang ada. Sedikit dari saya, semoga bermanfaat. Selamat membaca :)

Sabtu, 19 September 2015

Kenali rasamu, kenali niatanmu.

Lagi-lagi dalam diam aku menyadari sesuatu yang ingin aku bagikan kepada orang disekitarku.

Ya, sore ini aku menyadari satu hal bahwa rasa adalah sesuatu yang begitu halus. Haluusssss sekali. Sampai-sampai, terkadang kita begitu sulit untuk menyadari perubahan dan rasa yang sebenarnya.

Dari sekian banyak rasa, dari sekian banyak niatan, entah mengapa yang muncul dipikiranku untuk kubahas dalam tulisan ini adalah tentang KETULUSAN.

Ya, contohnya adalah ketulusan.
Agar lebih mudah, begini kira-kira ilustrasinya.
  • A bersedekah dengan menyebut-nyebut pemberiannya. Terang-terangan.
  • B mendatangi pengurus masjid untuk memberikan donasinya secara langsung dan B berkata "Nama saya tidak perlu ditulis atau disebutkan. Saya tidak ingin dibilang riya"
Sekilas, kita pasti menilai bahwa A-lah yang riya' karena dengan sengaja menunjukkan apa yang ia lakukan dibanding dengan B yang meminta pemberiannya disembunyikan. Padahal, belum tentu penilaian kita benar. BELUM TENTU.

Di dalam Al-qur'an surat Al-Baqarah : 274 disebutkan:

"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari, secara tersembunyi maupun TERANG-TERANGAN, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."

dan juga firman Allah pada surat Al-Baqarah : 271 yaitu:

 "Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik"

Ya, menampakkan perilaku dan amalan baik dihadapan orang lain adalah diperbolehkan, dengan syarat untuk mengajak kepada kebaikan dan ikhlas karena Allah serta benar-benar mampu memastikan bahwa tidak ada niatan duniawi, salah satunya adalah ingin dipuji.

Itulah sebabnya kita harus benar-benar mengenali rasa kita, niatan kita, panggilan hati kita. 
Berdasarkan ilustrasi diatas, percayakah bahwa yang sebenarnya riya dan tidak tulus ikhlas justru B, yang notabene adalah orang yang meminta pemberiannya disembunyikan?
Ya, dialah yang tidak ikhlas. Dialah yang riya. 

Mengapa?

Karena dibalik permintaan agar namanya tidak disebut, ada niatan dalam hatinya supaya ia dianggap orang yang ikhlas. Ada niatan ingin dipuji jauh di dalam hatinya. Tapi A, tulus ikhlas melakukan karena ingin mengajak orang lain berbuat kebaikan agar lebih banyak tercipta kedamaian, agar lebih banyak orang yang terbantu karena semakin banyak uluran tangan.

KETULUSAN ADALAH APA YANG ADA DI DALAM HATI.

Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita selalu berusaha mengenali apa yang ada dihati kita agar selalu lurus niatan kita. Dan inilah yang harus kita lakukan.
  • Ketika kita akan atau sedang melakukan sesuatu, berdoalah selalu supaya Allah meluruskan niat kita dan mendoakan supaya tidak ada orang lain yang harus berburuk sangka dengan menganggap kita sombong dengan apa yang kita lakukan.
  • Ketika kita melihat seseorang melakukan kebaikan, doakan mereka supaya mereka tulus ikhlas melakukannya dan doakan diri kita sendiri supaya tidak berburuk sangka atas apa yang mereka lakukan.

THINGS ARE NOT ALWAYS WHAT THEY SEEM. 
Maka, sudah sepantasnya kita bijaksana dalam mengenali rasa dan memberikan penilaian atas apa yang dilakukan orang lain dihadapan kita.

Semoga yang sedikit ini bisa menjadi pengingat khususnya untuk saya sendiri dan siapapun yang membacanya. Semoga bermanfaat :)


Kamis, 17 September 2015

Keluhkanlah. Tapi ingatlah selalu tentang kekuatan.

Pernahkah sebentar saja kita merenung dan menyadari satu hal tentang kehidupan ini?


Bahwa hidup adalah tentang diuji.
Bahwa hidup adalah tentang menerima cobaan dengan lapang dada.
Bahwa hidup adalah tentang mencoba bertahan ditengah segala alang merintang yang ada.
Bahwa hidup adalah tentang mengais sisa kekuatan ditengah pedihnya rasa supaya tetap mampu memupuk sebuah asa.
Bahwa hidup adalah tentang mencoba berdiri dilemahnya kekuatan hati.
Bahwa hidup adalah tentang percaya ditengah banyaknya hal yang mengundang banyak tanya.
Bahwa hidup adalah sebuah tanya tanpa jawaban yang pasti. Mengapa seperti ini? Mengapa harus begini?

Dan pernahkah kita menyadari satu hal tentang hakikat kita sebagai manusia?
Bahwa kita adalah bibir yang penuh dengan keluh.

Jika memang benar bahwa hidup adalah untuk diuji, maka benar pula bahwa apapun bentuknya, cobaan adalah sesuatu yang memberatkan hati.
Apapun bentuknya, cobaan bukanlah hal yang mudah. Dan bibir kita dapat dengan bebas menyampaikan semua keluh atas segala keadaan yang ada.

Namun, sadarkah kita bahwa terkadang hidup bukan tentang apa yang bisa kita keluhkan. Namun kepada kekuatan apa yang harus kita fokuskan karena sebenarnya kekuatan itu sudah tertanam.
  • Andai bisa, semut pasti akan berteriak menyampaikan rasa keberatannya. Mengapa ia kecil, seolah-olah begitu terancam dengan hadirnya kita sebagai manusia. Pernahkah kit bayangkan bagaimana semut melihat kita? Begitu besar dan mengancam keselamatannya.
  • Andai bisa, burung elang pasti akan berteriak menyampaikan rasa keberatannya. Mengapa ia menjadi burung tangguh yang harus bertahan hidup dengan perjuangan yang tidak mudah. Andai bisa pasti elang bertanya mengapa ia tidak menjadi burung nuri yang menjadi peliharaan, disapa hangat pemiliknya, diberi makan tanpa harus meminta. Begitu juga sebaliknya. Andai bisa, mungkin nuri juga mengeluhkan keadaannya. Mungkin ia ingin terbang bebas sebebas sayap elang mampu membawanya terbang. 
  • Andai bisa, singa akan berteriak menyampaikan rasa keberatannya. Mengapa ia menjadi hewan buas yang ditakuti banyak orang sehingga mendapatkan belaian lembut menjadi sesuatu yang mahal. Mengapa ia tidak menjadi kucing yang dengan mudah mendapat belaian kasih sayang manusia.
  • Andai bisa, bunga raflesia akan menyampaikan keberatannya. Mengapa ia harus menjadi bunga yang tidak membuat orang mendekatinya. Mengapa ia tidak menjadi bunga mawar yang selalu dicari untuk menghiasi.

Bisa saja mereka meneriakkan rasa keberatannya. Bisa saja telinga kita yang tidak mendengarnya.
Namun, rasa-rasanya mereka tidak melawan apa yang menjadi bagian dan takdir mereka. Rasa-rasanya, mereka tetap berlapang dada menerima.

Andai bisa, tidakkah kita ingin sampaikan kepada semut bahwa ia patut bangga? Ya, semut patut bangga karena ia adalah hewan kecil yang data menjadi pelajaran bagi manusia supaya menghargai yang tampak kecil. Supaya peka dengan apa yang dianggap tidak berharga. 

Andai bisa, tidakkah kita ingin sampaikan kepada elang bahwa ia patut bangga? Ya, elang patut bangga karena ia adalah burung yang mengajarkan tentang sebuah keberanian dan kerelaan hati untuk melakukan sebuah pengorbanan yang sangat berat dan menyakitkan, hanya untuk bertahan hidup. Sudahkah kita mengetahui perjuangan elang untuk bertahan hidup? Jika belum, maka kita harus mencari, membacanya berulang kali dan meresapi dengan sepenuh hati. 

Andai bisa, tidakkah kita ingin sampaikan kepada bunga raflesia bahwa ia patut mensyukuri keadaannya? Bahwa apa yang ia anggap sebagai kekurangannya, justru itulah yang menjaganya.

Ya, andai bisa, kita akan berteriak menyampaikan rasa keberatan atas apa yang kita terima, atas segala ketidaksesuaian yang ada.
Tapi, sebaiknya kita selalu mengingat satu hal.
Bahwa dimanapun, kapanpun, siapapun, apapun bentuknya, pasti segala sesuatu memiliki kekurangan dan keterbatasan.

Lalu, apa yang bisa membuat semua itu bertahan ditengah keterbatasan yang ada? Ya, hanya satu jawabannya, yaitu KEKUATAN-NYA.

Semut, singa, dan bunga adalah perumpaan dan gambaran.
Gambaran bahwa akan selalu ada yang dikeluhkan atas semua keadaan yang ada. Namun Allah pun sudah bekali kekuatan untuk setiap apa yang diamanahkan, untuk setiap takdir yang sudah digariskan, untuk semua ketentuan yang tidak mungkin terhapuskan.

Ya,
Segala sesuatunya bukan kebetulan. BUKAN KEBETULAN. Semua sudah sesuai dengan perhitungan.Tentang pergantian siang dan malam, tentang pertemuan dan perpisahan, tentang tumbuh dan layunya sebuah tanaman dan juga tentang cobaan yang dibebankan. Semua sudah disesuaikan dengan kemampuan. 


Untuk segala beban dan tanggung jawab yang diamanahkan, Allah pasti mampukan. Pasti.
Satu hal yang harus dilakukan yaitu meyakini dengan sepenuh hati.

Kamis, 14 Mei 2015

Ini tentang "MAU", bukan tentang "WAKTU"

Sore kemarin aku menghabiskan waktuku di sebuah toko buku bersama sahabatku. Seperti biasa, rak buku yang aku tuju adalah buku-buku psikologi & pengembangan diri. 

Mataku tertuju pada sebuah buku dengan cover bergambar burung yang sangat aku kagumi; ELANG. Aku buka buku itu dan kalimat pertama yang aku baca adalah "TIME WILL (NOT) HEAL". 

Seketika aku tersadar bahwa aku pernah dan mungkin masih meyakini bahwa waktu bisa menyembuhkan, lets say, menyembuhkan luka. Luka karena kecewa, kehilangan, kegagalan dan alasan lainnya. 

Namun setelah membaca kalimat tersebut, aku menjadi sadar akan satu hal bahwa semua bukan tentang waktu, namun tentang mau. 

WAKTU hanya akan membuat keadaan menjadi lebih tenang, namun tidak akan menyembuhkan. Rasa kecewa & luka tidak akan pernah terobati tanpa sebuah KELAPANGANDADA UNTUK MENERIMA. 

WAKTU adalah apa yang ada diluar diri kita. Sedangkan MAU, adalah apa yang ada dalam diri kita. Bukankah uluran tangan yang tersedia tidak akan cukup mampu membuat kita terbangun dari jatuh tanpa kemauan kita untuk menerima uluran tangan tersebut? 

Ya, segala kebaikan yang kita inginkan harus dicapai dengan keseimbangan. Keseimbangan antara doa dan usaha, antara kemauan dan kemampuan memanfaatkan segala bantuan yang tersedia. 

Selasa, 28 April 2015

Dari antri, kita belajar menghargai yang mencintai sepenuh hati.

Alhamdulillah wa syukurillah…. selesai juga ngurus BPJS yang antri dan super bolak-balik ngurusnya. Hufffff. Pada tau BPJS kan pasti? Iya, hari ini aku ngurus BPJS mama papa sama punyaku sendiri. Harus aku karena satu-satunya anak yang masih tertera di kartu keluarga papa cuma aku. Jadi yang bisa ngewakilin cuma aku.

Jam 8 pagi teng begitu kantor BPJS buka, aku dah sampe sana. Walaupun baru buka, ternyata yang dateng kesana nunggu buka lumayan banyak juga. Jadi tetep aja antri banyak dan lama. Antri, urus di loket sini, antri lagi, loket sana, antri lagi, loket sini, antri lagi, loket sana sini pokoknya bolak-balik. Hahhhhhhh sabarrrrrrr……..

Singkat cerita, selesailah aku ngurus kartu BPJS. Ucapkan apaaaaaa??? ALHAMDULILLAH! Hahahaha. 

Begitu sampe rumah, aku fotoin kartu BPJS punya mama papa terus ku kirim ke beliau-beliau lewat whatsapp karena beliau lagi diluar kota. Laporan gitu ceritanya kalo udah beres semua. Mama jawab singkat sih, tapi sangat mampu membuatku tersadar satu hal yang sangat penting.

"Makasih ya nak, udah diurusin punya mama papa"

Gatau kenapa, pas baca balesan mama, aku ngrasa sangat-sangat dihargai atas waktu dan usahaku antri super lama dan ribet itu. Terus aku sadar bahwa ini bukan hanya soal ngantri dan ngurus surat, ini soal besarnya tanggung jawab, rasa kasih sayang serta pengorbanan.

"Aku cuma ngantri beberapa jam dengan segala keribetan prosedurnya aja segininya banget mama menghargai usahaku. Seolah-olah mereka merepotkan aku dengan waktu dan tenaga yang aku kerahkan. Terus? Aku? Apa yang aku lakukan untuk semua kerja keras mama papa yang TENTUNYA, LEBIH RUMIT NGANTRI BPJS? Ninggal rumah untuk kerja, pontang-panting cari uang dll"

Orang tua dengan senang hati melakukan segalanya, tapi terkadang kita sebagai anak sangat berat hati untuk memberi sedikit saja.


Jadi ngrasa bersalah sendiri kalo inget masih sangat sedikit dan kurang sikap dan ucap kita untuk menghargai jerih payah orang tua. Sedangkan, mereka mungkin rela mengorbankan nyawa untuk kita. 

Semoga, dari hal yang keliatannya sepele dan ga penting ini, kita semua bisa belajar untuk MENGHARGAI SETIAP PELUH TANPA KELUH yang orang tua kita lakukan untuk kita, buah hatinya...

Dari coklat, kita bisa belajar percaya.

Tadi siang muter-muter sama sahabat. Ngurus nomer, nganter dia ke kampus, makan, (setelah sekian lama akhirnya) nyalon, makan lagi. Hahaha.

Pas lagi makan, aku sama sahabatku duduk ditengah-tengah orang yang sibuk dengan urusannya. Sebelah kanan kita ada orang yang lagi ngerjain skripsi. Sebagai mahasiswi yang akan segera merasakan skripsi, tercengang gitu liatnya. Belum selesai mikir, sadar kalo sebelah kiri kita lagi ngomongin kerjaan sama masalah keluarganya. 

Aku bilang sama sahabatku, "eh perhatiin deh kanan kiri kita". Dia paham maksudku dan kita cuma saling tatap, tarik nafas panjang... Hembuskan! Hahaha

Mulai deh kepala ruwet. 
"Gimana skripsi ku besok ya? Bisa ga ua? Susah ga yaa? Ahhh masa udah mau lulus sih?! Kerja banget ni? Gimana donggg. Kerja apaaa bisa apaaa??" Dan masih banyak pikiran ruwet yang berangkat dari ketakutan-ketakutan lainnya. Hufffff. 

Ku ambillah coklat yang ada di tasku. Chunkybarrrrr!!! Omg i love it. 

Aku buka bungkusnya, aku makan satu... dua... Dan tetiba aku mikir bahwa...

"Jalani aja semua tanggung jawab ini kayak kita makan chunkybar!" 

Ha? Maksudnyaa? 

Nih. Kira-kira bisa ga kalo kita habisin langsung semua chunkybar itu? Mmmm i dont think so. Mati keselek ntar hahah. Kita pasti makan satu persatu kan? Potong satu bar, makan. Satu bar lagi, makan lagi. 

NAH!

Semua hanya tentang rasa percaya. Percaya bahwa kita bisa. Keraguan & ketakutan adalah sesuatu yang wajar kita rasakan terlebih kalau kita memang belum sampai pada tahapnya. Jangan terlalu jauh mikirin tanggung jawab kita, selesaikan semuanya satu persatu biar kerasa jauh lebih ringan.

Ahhh.. Bahkan dari chunkybar aja kita bisa belajar. Semangat untuk semua yang harus siap menjalankan tanggung jawabnya! :)

Senin, 27 April 2015

Hai world. Im back!

Menulis tidak semudah yang ku bayangkan ternyata. Banyak untaian kata yang ingin ku sampaikan namun terasa sangat sulit menyampaikan dan menuliskannya.

Tidak sehebat itu memang aku, namun juga tidak hanya sekali aku mendengar pertanyaan "kok ga ada yang baru di blogmu? nulis lagi dong..." and i just like, omg i just dont know how to start it. 

Berkeluh kesahlah aku pada sahabatku dan dia berkata "gausa nulis yang berat-berat. cukup kamu tulis 1 kejadian yang kamu alami atau kamu liat di hari ini dan apa yang bisa kamu ambil dari kejadian itu. bagikan pandanganmu kepada mereka" 

Pikir dipikir, ada benernya juga. Aku ga peduli ada atau engga yang baca tulisanku, but i just want to write it out. So, here i go. 

------------------

Tadi siang aku makan sama temenku di lotek bu bagyo; lotek yang enak & banyak itu. Hahaha. Terus ada pengamen (maaf) bencong gitu. Udah kan dia nyanyi terus kita kasih uang. Kita ngasihnya ga seberapa tapi ya ampuuuunnnn, DIA NGEDOAIN KITA PANJANGNYA KAYAK KERETA. Banyakkkkkk banget doa yang dia sebutin. Panjang umur lah, sehat lah, urusan lancar lah dll. 

Begitu dia pergi, temenku bilang kalo pengamen itu rajin ke gereja. Terus dia suka ngasih ibu-ibu pengemis tua gitu. Jadi uang yang dia dapetin, dia bagi. 

PELAJARANNYA :
1. Please banget jangan hina dan rendahkan orang kayak gitu. Karna mungkin kalo ditanya, mereka juga gamau kayak gitu. Tapi apapun keadaan mereka, mereka punya hak untuk setidaknya dihargai, kalau memang orang sulit menerima.


2. Ternyata dibalik keadaan yang menurut kebanyakan orang pantas dihina, justru dia lah yang memberi pelajaran berharga ke kita. Pelajaran untuk tetap berbuat kebaikan tanpa peduli keburukan apa yang kita terima. Masih sempet loh orang itu berbagi dari hasil ngamennyaaa. Salut! 


3. Percayalah........ Bahwa kebaikan yang kita lakukan sekecil apapun itu adalah akan kembali ke kita. Ngasih uangnya ga seberapa, doa yang kita dapet subhanallah banget :")