Jumat, 26 September 2014

Life is hard, huh?


Life is hard, huh?
Kita bentuk seideal apapun, segala sesuatunya pasti menemukan ketidaksesuaian. Mungkin itu sebabnya kenapa Allah ciptakan istilah "serba salah".
Yap! That's life.

Ketika sebuah kebaikan dianggap sebagai kedok untuk mencari sebuah pujian padahal bisa saja itu bentuk ajakan; that's life.
Ketika sebuah keburukan dianggap sebagai ketidakpatuhan padahal bisa saja itu sebuah kekhilafan; that's life.
Ketika memaafkan dianggap sebagai sebuah kenaifan padahal bisa saja dari memaafkan itulah kedamaian hati didapatkan; that's life.
Ketika membalas menjadi satu-satunya pilihan padahal memaafkan jauh lebih bijaksana dan berwibawa; that's life.
Ketika terus memberi kesempatan dianggap sebagai kebodohan padahal bisa saja itu kesempatan terakhir untuk mencapai perbaikan; that's life.
Ketika terus percaya dianggap sebagai ketidakrealistisan padahal bisa saja dari rasa percaya itu segala usaha menjadi lebih mudah dilakukan; that's life.
Ketika perjuangan dianggap sebagai sebuah kesia-siaan padahal bisa saja setelah itu terwujudlah apa yang kita harapkan; that's life.
Ketika sebuah harapan tidak sesuai dengan kenyataan padahal segala sesuatunya sudah diusahakan; that's life.
Ketika berpisah dengan orang yang disayang menjadi hal yang harus dilakukan; that's life.
Ketika mencari kesalahan orang lain menjadi suatu kebiasaan sehingga kita lupa bahwa kebiasaan ini saja sudah menjadi satu kesalahan bagi diri sendiri; that's life.
Ketika segala sesuatu yang terjadi tidak dapat dijelaskan; that's life.
Ketika sulit sekali menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan, that's life.

Dan ketika kita tidak menemukan kata yang sesuai untuk menggambarkan apa yang kita rasakan tentang kehidupan pun, itu lah kehidupan.
Banyak hal yang kita rasakan, banyak hal yang kita lihat, banyak hal yang kita dengar, banyak hal yang kita harapkan, banyak hal yang kita sayangkan, banyak hal kita syukuri, banyak hal yang kita maknai, dan masih banyak hal lagi yang sulit untuk dijelaskan. 

That's life, rite?

Dimana letak kedamaian? Dimana letak penerimaan?
Adalah dua hal yang tidak akan teraih ketika kita terlalu berfokus terhadap segala ketidaksesuaian yang terjadi. Ya, kedamaian dan penerimaan. 
Bagaimana bisa merasakan kedamaian bahkan kita menerima saja tidak bisa?

Terkadang, kita harus meluangkan sedikit waktu ditempat yang kita bisa duduk diam, melihat kegiatan orang-orang disekitar kita, merenungi semuanya.
Terkadang, kita harus meluangkan sedikit waktu untuk benar-benar duduk berdua dengan diri kita sendiri. Berdua? Ya, kita dan hati kita.

Dalam diam, yang harus kita lakukan bukanlah mencari alasan kenapa justru ketidaksesuaian yang kita terima. Dalam diam, yang harus kita lakukan adalah mengajak diri kita sendiri untuk berdamai dengan kenyataan. 

Coba kita perhatikan orang yang harus mengais sampah untuk tetap makan, orang yang harus menyapu jalanan, orang yang harus membersihkan toilet umum, orang harus menjadi kuli angkut, orang yang harus menjadi tukang parkir, dan masih banyak lagi. Perhatikan mereka. Kalau mereka ditanya, tentu mereka mengharapkan sesuatu yang lebih layak dari keadaan mereka saat ini. But, you know, that's life! Life goes on. No matter what. Itulah sebabnya mereka tetap gigih berjuang ditengah ketidaksesuaian yang mereka miliki. Kalau mereka yang tidak lebih beruntung dari kita saja sanggup melanjutkan hidup dengan gigih, kenapa kita tidak?

Ajak diri kita untuk menerima segala ketidaksesuaian yang ada.
Karena bukan hidup yang harus menyesuaikan kita, tapi kita lah yang harus menyesuaikan hidup, supaya ditengah ketidaksesuaian yang ada, masih ada rasa syukur yang tersisa.


Sabtu, 13 September 2014

Tentang orang yang dipundaknya dibebankan amanah untuk menjaga, mengasihi, membimbing, dan mencintai kita...


Tak kuasa aku menahan air mata ini saat menyadari begitu cepat waktu berlalu…..
Rasa-rasanya baru kemarin aku menjadi gadis bertubuh mungil yang selalu memanggil ayahnya untuk menghentikan kegiatannya lalu memintanya untuk menemani tidur… Rasa-rasanya baru kemarin aku menjadi gadis mungil yang setiap sore selalu bermain air di halaman rumah… Rasa-rasanya baru kemarin sore aku menjadi gadis mungil yang senang sekali memakai baju ayahnya dan memeluk manja sebuah boneka… Melihat papa yang semakin hari semakin tua, pedih rasanya hati ini. Begitu cepat waktu berlalu…..

Ya, ini tentangmu, Pa..
Aku baru saja menyaksikan seorang ayah menikahkan anak perempuannya dan tiba-tiba aku mencoba menerka apa yang dirasakan dan dipikirkan laki-laki itu. Aku mencoba menerka apa yang dipikirkan dan dirasakan seorang laki-laki yang harus merelakan gadis mungilnya yang sejak kecil selalu bersamanya, yang  tidur selalu ditemaninya, yang suara manja memanggilnya selalu menjadi panggilan hangat yang akan selalu dirindukan, untuk menjadi milik dan tanggung jawab laki-laki lain. 

"Bakti seorang wanita setelah ia menikah adalah untuk suaminya terlebih dahulu"
Aku sering mendengarnya, Pah.. Aku sering mendengar pernyataan itu…

Sontak hati ini berteriak, "Bagaimana bisa?????"
Bagaimana bisa Pah, aku yang sebagai anak masih banyak kurangku dalam mewujudkan bakti untukmu, harus membagi bakti ini untuk laki-laki lain??? Bagaimana bisa aku menjadikan suamiku kelak menjadi laki-laki yang harus lebih aku prioritaskan, sedangkan papa yang sudah sepantasnya selalu menjadi nomer satu untukku saja masih sering aku nomerdua kan dengan segala kesibukanku. Bagaimana bisa aku harus mati-matian mengerahkan seluruh usahaku untuk memberi yang terbaik untuk suamiku kelak, sedangkan kadang aku memilih diam untuk melihat papa lebih dulu memulai sesuatu.

Ya Allah…
Semoga aku dan siapapun gadis kecil yang sekarang sudah tumbuh dewasa, akan mendapatkan laki-laki yang baik untuk menjadi imam kami, agar tidak sia-sia kami membagi bakti kami… Semoga Kau beri kami suami yang mampu menjadi sandaran agar ayah kami tidak sia-sia melepaskan kami… Semoga Kau beri kami suami yang bertanggung jawab supaya ayah kami tidak dihantui rasa khawatir anak perempuannya menjadi milik orang lain.

Ya Allah…
Semoga Kau jadikan kami anak yang tidak berhenti dalam bakti. Semoga Kau jadikan kami anak yang selalu mengasihi, mencintai, dan menghormati kedua orang tua kami. Maafkan kami ya Allah, kalau selama ini kami belum mampu bersikap baik terhadap dua orang yang dipundaknya Kau bebankan untuk menjaga, mengasihi, membimbing, dan mencintai kami.. 

Kenapa harus Kau ciptakan cinta yang begitu tulus dan besar sehingga apapun yang kami lakukan tidak akan mampu membalasnya, Ya Rabb?
Dan oleh karena kami begitu menyadari bahwa kami tidak akan mampu membalas cinta dan kasih ayah dan ibu kami, kami mohon izinkan kami menjadi anak yang selalu mengingat mereka agar kami tak lupa untuk memberikan yang terbaik untuk mereka baik dalam bentuk sikap, ucap, maupun  doa.

Semoga kami adalah anak yang selalu memposisikan orang tua diatas kami, agar ketika kami melihat ke atas, ketika kita melihat bintang, muncul rasa ingin meraihnya untuk mereka.

Semoga kami adalah anak yang selalu memposisikan orang tua dipandangan kami saat menunduk, agar ketika kami dalam tunduk pilu, kami ingat bahwa ada doa dan kasih mereka disana,

Semoga kami adalah anak yang selalu memposisikan orang tua di depan mata kami agar kami selalu tau bahwa ada mereka yang selalu membimbing kami.

Semoga kami adalah anak yang selalu memposisikan orang tua di belakang kami agar kami selalu ingat bahwa mereka ada di sana untuk mendukung kami.

Semoga kami adalah anak yang selalu memposisikan orang tua di dalam hati kami supaya kami ingat bahwa kami harus selalu berbakti kepada mereka, orang yang doa dan restunya bisa membuka pintu langit dimana mungkin doa dan harapan kami tertahan disana. 

Ya Rabb.. Untuk cinta yang tidak akan mampu kami balas, kami titipkan sepenuhnya langkah kami agar selalu mampu menjadi anak yang berbakti untuk kedua orang tua kami…..

Selasa, 09 September 2014

Tidak ada yang salah dengan kebesaran hati.


Sebenarnya sudah lama kita mendengar suara-suara itu. Suara-suara dimana orang menyalahkan seseorang atas apa yang ia rasakan.
Suara-suara dimana orang menaif-naifkan seseorang hanya karena apa yang mereka pertahankan.

Apa yang salah dengan sebuah rasa? 
Hanya karena sudah tidak lagi berhubungankah lalu rasa itu menjadi sesuatu yang tidak pantas untuk terus ada?

Apa yang salah dengan sebuah rasa?
Hanya karena kita tertuju kepada orang yang tidak bersikap baik terhadap kita kah sehingga salah apabila rasa itu tetap ada?

Apa yang salah dengan sebuah rasa?
Hanya karena malu dihina kah sehingga muncul pula rasa malu untuk mengakui bahwa sayang dan peduli itu ada?

Apa yang salah dengan sebuah rasa? Apa yang salah dengan sebuah ketulusan? Apa yang salah dengan sebuah perjuangan?
APA???

Mungkin akan terbesit dipikiran kita, kalau memang tidak ada yang salah dengan semuanya, lalu kenapa sering juga terdengar nasehat untuk melepaskan sesuatu yang tidak lagi dapat dipertahankan. Menjadi tidak konsisten sepertinya, bukan?

Nanti, nanti dulu. Segala sesuatunya jangan diterima utuh. Mari kita lihat semuanya lebih jauh.

Kita masih sayang dan peduli dengan orang yang tidak lagi berhubungan dengan kita?
Kita masih sayang dan peduli dengan orang yang tidak bersikap baik dengan kita?
Kita masih sayang dan peduli dengan orang yang tidak memperdulikan kita?

Begitu?? Kalau memang iya, lalu kenapa? Apa salahnya????

KITA TIDAK PERLU MALU MENGAKUI APAPUN YANG KITA RASAKAN TERHADAP ORANG LAIN. 

Kenapa tidak perlu malu???
Karena adanya rasa itu adalah bukti bahwa kita bukanlah orang yang hanya bertahan pada sebuah kesempurnaan.
Karena adanya rasa itu adalah bukti bahwa kita adalah orang yang tidak hanya mencari senang namun juga mau bertahan dalam sebuah kekurangan.
Karena adanya rasa itu adalah bukti bahwa kekurangan tidaklah menjadi alasan untuk membenarkan sikap "meninggalkan". Kalau semua yang sudah tidak sesuai boleh langsung begitu saja ditinggalkan, lalu kenapa Tuhan ciptakan kata "berjuang" dan "bertahan"?

TAPI….. LAGI DAN LAGI KITA HARUS MELIHAT SEMUANYA LEBIH JAUH.

Memang tidak salah dengan apa yang kita rasakan, ASAL tidak merendahkan diri kita sendiri. Jangan kita mengurangi apa yang menjadi hak kita hanya karena rasa kita terhadap orang lain. Hak kita untuk bahagia, hak kita untuk menjadi diri sendiri, hak kita untuk mengenal orang lain, hak kita untuk mencoba banyak hal baru, hak kita untuk masih banyak hal lagi.

JANGAN JADIKAN RASA YANG MASIH DAN TETAP ADA ITU SEBAGAI PENGHENTI LANGKAH KITA.

Kalau memang rasa itu ada, biarkan saja. Asal langkah kaki ini terus kita ayunkan.
Kalau memang rasa itu ada, biarkan saja. Asal keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas izinNYA. Dengan meyakini ini, tidak akan pernah kita menjadi pribadi yang menutup diri. Tidak akan pernah.

Tidak ada yang salah dengan sebuah rasa. Tidak ada yang salah untuk terus menyayangi orang yang dianggap tidak tepat sekalipun. Tidak ada yang salah untuk terus peduli kepada orang tidak bersikap baik terhadap kita. Itu bukan sebuah kenaifan, pun bukan sebuah kebodohan. Justru, itu adalah sesuatu yang patut dihargai karena itu bukti bahwa masih ada orang yang tidak hanya bertahan dalam senang dan kesempurnaan, namun juga mau bertahan dalam cobaan dan kekurangan. Sekali lagi, TIDAK ADA YANG SALAH DENGAN KEBESARAN HATI UNTUK TETAP PEDULI DAN MENYAYANGI SESEORANG DENGAN SEGALA KEKURANGAN DAN KESALAHANNYA.

Kalau kita hanya menyayangi dan peduli seseorang hanya karena baiknya, itu artinya kita memberi dan mengharap kembali.
Berilah karena kita ingin memberi, bukan karena kita mengharap diberi kembali.

Senin, 01 September 2014

Dengan atau tanpa, kita tetaplah kita.


Menanggapi tentang sebuah pernyataan yang sering sekali terdengar.

"Aku gabisa tanpa dia…. aku rapuh tanpanya…. dia adalah semangatku….. aku hancur….."

Bagi siapapun yang dalam hati dan pikirannya terbesit atau bahkan tertanam keyakinan seperti ini, sudah seharusnya menyadari satu hal.
"Kekuatan kita tidak selemah itu"

Bukan, ini bukan bermaksud menggurui karena saya pun pernah mengalami. Tulisan ini lebih kepada saya ingin berbagi tentang apa yang menurut saya patut disadari oleh semua orang.

Pernah melihat taman yang disana terdapat pohon dan bunga-bunga? Indah kan? 
Baik bunga maupun pohon tersebut memiliki kehidupannya sendiri walaupun kehadirannya saling melengkapi.

Apa hubungannya?
Selalu posisikan kita seperti pohon itu. Kita berdiri diatas akar dan batang kita sendiri. Kita berdiri diatas kaki kita sendiri.
Siapapun yang datang membawa kebahagiaan untuk kita adalah seperti bunga-bunga ditaman tadi. Kehadirannya melengkapi dan memperindah hidup kita, bukan?

Tapi sadarkah kita? 
Sadarkah bahwa SEBUAH POHON TIDAK AKAN ROBOH HANYA KARENA LAYUNYA SETANGKAI BUNGA?

Apa artinya?
Yang layu biarlah layu. Nanti bunga itu pasti akan tumbuh lagi.
Yang pergi biarlah pergi. Nanti pasti akan ada yang lain yang mengganti.

Kehilangan memang bukan perkara mudah. Apapun bentuknya.
Tapi Allah sudah bekali kita dengan kekuatan. Sehingga, dengan atau tanpa (mereka), kita adalah kita. Kita yang tegar, tangguh, dan sabar.

Jangan gantungkan sepenuhnya kebahagiaan dan semangat kita kepada orang lain. Karena pada akhirnya, kita adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab penuh atas diri kita sendiri.

Kita tidak selemah itu……
Rasa sedih karena sebuah kehilangan nantinya akan hilang seiring berjalannya waktu.
Akan selalu ada kekuatan untuk membangun kembali daratan yang tersapu bersih oleh badai, bukan?

Sabtu, 30 Agustus 2014

Tentang sebuah tanya dan rasa.


Entah kata apa yang sesuai yang dapat mengungkapkan apa yang aku rasakan.
Berderai air mata ketika aku menulis ini.
Ada teriakan dari dalam hati tentang suatu keadaan yang kadang aku anggap sebagai sebuah ketidakadilan.
Terkadang hati ini menjerit. Bukan karena aku menyalahkan Sang Pemilik Kehidupan atas apa yang terjadi. Tapi jeritan itu adalah ungkapan sebagai manusia yang terkadang tidak mengerti maksud dan tujuan Sang Pencipta.

Begitukah kehidupan, Ya Allah?
Seperti inikah jalan cerita yang Kau gariskan untuk panggung kehidupan yang harus kami jalani?

Rasa-rasanya tidak ada yang tidak aku terima dikehidupanku. Rasa-rasanya tidak ada kebutuhanku yang tidak terpenuhi.
Semua nikmat dan anugerah yang Allah berikan, BEGITU LUAR BIASA.

Tapi kadang hati ini menjerit…… Ada satu kepedihan yang begitu luar biasa……..
Ya Allah……. Kenapa didepanku banyak sekali orang yang tidak seberuntung aku??????

Kenapa masih ada orang yang tidur beralaskan bumi dan beratapkan langit sedangkan aku tidur dikamar yang nyaman dengan tempat tidur yang menjanjikan mimpi indah untukku????

Kenapa masih ada orang yang harus mengais tumpukan sampah untuk mendapatkan makanan sedangkan aku kapan saja dapat menikmati nikmatnya rezekiMU hanya dengan membuka tudung saji????

Kenapa masih ada orang yang menjahit bajunya agar tetap layak pakai sedangkan aku bisa kapan saja membeli baju baru hanya karena rasa bosan dan sebuah keinginan???

Kenapa masih ada orang yang harus mengayuh becak dan sepedanya untuk menjemput rezekiMU ditengah panasnya sinar mentari sedangkan aku bisa saja disaat yang bersamaan sedang menikmati minuman dan makanan yang lezat disebuah cafe yang dingin dan nyaman????

Kenapa didepan mataku masih aku temukan orang-orang yang berjuang melawan sakit ditubuhnya sedangkan aku seringkali menyia-nyiakan sehatku????

Kenapa didepanku masih ada orang yang mempertanyakan dan menyuarakan rindu kepada orang tuanya sedangkan aku terkadang tidak sepenuhnya bersikap baik terhadap orangtuaku????

Kenapa didepanku masih banyak hal yang bahkan tidak sanggup aku jelaskan satu persatu??????? 

Aku manusia biasa, Ya Allah. Rasa-rasanya wajar kalau aku menganggap ini sebuah ketidakadilan. Bukankah memang terkadang apa yang terjadi adalah sebuah misteri? Wajarkan Ya Allah ketika aku mempertanyakannya?

Ya! Kadang aku merasa ini semua tidak adil. Aku marah! Aku merasa bersalah! Pedih!!! Ya Allah, pedih!!!!!
Tapi aku selalu berusaha menenangkan hati dan jiwaku agar aku tidak berkelanjutan menyalahkan kehidupan, dengan berfikiran bahwa mungkin ini adalah alasan kenapa Allah tidak menciptakan aku dan kita semua di ruangan hampa. Mungkin itulah kenapa Tuhan ciptakan kita berdampingan dengan orang-orang yang berbeda dengan kita. YA, KITA HARUS MENGAMBIL PELAJARAN ATAS KEHADIRAN MEREKA.

Ya Allah, terimakasih Kau telah ciptakan orang yang kurang sehat sehingga aku mampu dianggap lebih sehat.
Terimakasih karena Kau telah ciptakan orang yang kurang beruntung sehingga aku mampu dianggap lebih beruntung.

Ya Allah, 
Jika memang kehadiran mereka Engkau gariskan untuk memberi pelajaran bagi kami, maka jadikanlah kami menjadi hambaMu yang peka terhadap apa yang Kau sisipkan melalui mereka.

Ya Allah,
Jika memang segala kesulitan, kekurangan, kesempitan, dan kesakitan yang mereka terima adalah peringatan untuk kami agar lebih bersyukur, maka sudilah kiranya Engkau membayar mereka dengan kekuatan, kesabaran, dan kebahagiaan.

Ya Allah,
Jika memang kami diperkenankan merasa tidak adil, marah bahkan merasa bersalah dengan segala perbedaan yang ada, maka kami mohon perkenankan kami mengungkapkan apa yang kami rasakan tersebut dengan sesuatu yang baik. Perkenanlah kami mengungkapkan apa yang kami anggap sebagai ketidakadilan dengan rasa syukur yang tiada henti, dengan sikap dan perilaku ingin terus berbagi. Jangan jadikan kami sebagai hambaMU yang mengungkapkan perasaan yang kami rasakan dengan justru menjauhiMU.

Ya Allah,
Begitu beratnya yang harus mereka terima yang mana semua itu semata-mata hanya untuk memberikan pelajaran berharga bagi kami.
Maafkan kami yang masih sangat kurang mensyukuri nikmatMu ya Allah. Maafkan kami…… Sudilah kiranya Engkau membimbing kami agar kami menjadi hambaMu yang pandai bersyukur agar tidak ada murkaMU karena sebuah kufur, Ya Rabb..

--------------------------------------------

Tulisanku kali ini memang berbeda dengan tulisan yang sudah aku tulis sebelumnya.
Pada tulisan ini aku tekankan pada "aku". Ya, ini adalah tentang aku. Tentang apa yang aku rasakan, apa yang aku alami, dan apa yang aku pikirkan.
Bukan, ini bukan semata-mata menjual pikiran dan pendapatku akan sesuatu. Benar-benar aku niatkan semua untuk berbagi. Tidakkah aku mengharapkan sesuatu? Tentu saja aku mengharapkan sesuatu dari apa yang aku tulis ini untuk siapapun yang membacanya.

Setiap orang memiliki kehidupannya sendiri. Memiliki cerita yang membentuk kepribadian serta pola pikirnya masing-masing.
Itulah sebabnya kenapa ada satu hal yang ingin aku tekankan; AKU TIDAK MENUNTUT ORANG LAIN MENYETUJUI APA YANG MENJADI NILAI DAN PENDAPATKU. Semua karena kita memiliki pendapatnya masing-masing.

Disini aku hanya ingin mengajak serta mengingatkan bagi siapapun yang membaca ini khususnya diriku sendiri untuk selalu menjadi orang yang peka terhadap setiap apa yang terjadi baik pada diri kita sendiri maupun orang lain. Kenapa harus peka? Karena yang tersurat berbeda dengan yang tersirat, bukan? Kita harus mampu mencari apa yang tersembunyi. 

Semoga kita semua adalah orang yang peka terhadap apa yang terjadi. Semoga kita semua adalah orang yang tidak enggan untuk berbagi sebagai wujud rasa syukur atas nikmat dan anugrah yang tiada henti. Aamiin Aamiin Ya Rabbal'alamiin…. 

Rabu, 20 Agustus 2014

Pemaknaan mengubah kenyataan.

Sudah sepatutnya kita menyadari bahwa diri kita adalah sepenuhnya tanggung jawab kita. Kalau bukan kita yang menjaga hati dan pikiran kita, siapa lagi?

Apa yang terjadi tidaklah sama dengan apa reaksi kita terhadapnya. Berbeda pula dengan bagaimana kita memaknainya. Selain (mau tidak mau) menerima yang terjadi, kita juga harus bijaksana untuk menyikapi dan memaknai. Apa yang terjadi, apa yang kita terima, apa yang kita rasakan adalah sesuatu yang sudah menjadi  bagian kita. Menyakitkan? Menyedihkan? Mematahkan semangat? Menguras emosi dan air mata? Ya! Mungkin semua itu kita rasakan saat kita mengalami sesuatu. Tapi sebenarnya bagaimana reaksi kita selanjutnya terhadap sesuatu itulah yang paling penting.

Kita kehilangan sesuatu. Marah? Sedih? Jengkel? Itulah yang terjadi. Tapi mari kita maknai. Siapa tau dari kehilangan ini kita harus belajar untuk lebih berhati-hati. 

Hubungan kita harus berakhir dengan orang yang kita sayangi. Marah? Sedih? Merasa kehilangan bahkan habis harapan? Wajar. Kehilangan memang bukanlah hal mudah. Apapun bentuknya. Tapi mari kita maknai. Siapa tau dari kehilangan ini justru pintu untuk orang lain yang lebih baik untuk kita terbuka lebar.

Kita harus jauh dari orang tua untuk alasan pekerjaan ataupun pendidikan. Sedih? Berat hati? Pasti. Tapi mari kita maknai. Siapa tau itu mengajarkan kita untuk menyadari bahwa semakin kedepan, kehidupan semakin menuntut kita untuk mandiri. None of us are going to be here forever. 

Saat kita membutuhkan telinga untuk mendengar keluh kesah, tak satupun orang yang ada disamping kita. Marah karena merasa mereka tidak menyempatkan waktu? Sedih? Pasti kita rasakan itu. Tapi mari kita maknai. Siapa tau, Tuhan memang mengatur sedemikian rupa segala urusan mereka sehingga mereka bahkan sedetikpun tidak mampu meluangkan waktunya untuk kita. Supaya apa? Supaya kita tau bahwa ada yang selalu ada untuk mendengar keluh kesah dan resah kita. Siapa? Ya, DIA. Tuhan Yang Maha Kuasa. Ternyata, dari ketidakhadiran mereka itulah cara Tuhan meminta kita untuk mengingatNYA.

Sudah berusaha sekuat tenaga tapi tetap saja ditempat yang sama, tetap saja tidak bisa menjadi seperti orang lain. Merasakan ketidakadilan? Merasa sia-sia? Wajar. Itu pasti dirasakan oleh setiap kita yang mengharapkan hasil usaha kita selalu sesuai dengan harapan. Tapi mari kita maknai. Siapa tau, Tuhan tidak mengubah keadaan kita menjadi lebih seperti apa yang kita kehendaki karena Tuhan menjaga kita dari sifat tinggi hati. Bukankah kita manusia sering lupa bersyukur? Mungkin itulah cara Tuhan menjaga kita supaya tidak menjadi hambaNYA yang kufur. Sedikit tapi mencukupi adalah lebih baik daripada banyak tapi membuat kita lupa diri. Toh, apa yang orang lain punya, tidak akan mengurangi jatah kita. Begitu juga sebaliknya. Apa yang kita punya tidak akan menambah jatah orang lain. Semua punya porsinya masing-masing.

Itu adalah beberapa contoh dari sekian banyak hal yang terjadi dalam hidup ini yang sebenarnya selalu bisa dilihat dari sisi yang berbeda. 

Jangan terima utuh semua perasaan yang kita rasakan atas apa yang terjadi, terlebih membiarkannya menguasai hidup kita. Mari kita maknai. Dengan memaknai, waktu dan perasaan kita tidak akan terbuang sia-sia karena kita mampu mengambil hikmah dan pelajaran yang berarti dari apa yang terjadi. Dengan memaknai, yang menyakitkan akan terasa menjadi sesuatu yang menguatkan. Dengan memaknai, kegagalan akan menjadi motivasi untuk terus berusaha meraih keberhasilan. Dengan memaknai, yang berat akan menjadi ringan, yang sukar akan menjadi mudah, dan yang hitam akan menjadi putih.

Hidup bukan sekedar apa yang terjadi tetapi juga apa dan bagaimana kita menyikapi serta memaknai.


Senin, 21 April 2014

Tentang harapan, angan, dan perasaan..


Dalam hidup ini, tentu kita sering menjumpai hal yang membuat kita merasa sangat bahagia karena kita "menganggap" bahwa kita memiliki kesempatan dan harapan. Entah hal itu berupa kesempatan waktu, materi, atau harapan yang datang karena hadirnya seseorang. Senang sekali, bukan?

Tapi…..
KITA HARUS MENYADARI BEBERAPA HAL….

Kita harus menyadari bahwa, walaupun hidup harus memiliki sebuah harapan karena itulah salah satu yang akan membuat kita termotivasi, tapi ternyata kita tidak boleh terbuai dengan harapan itu sampai akhirnya kita lupa menjaga hati kita sendiri.

Kalau kita mau menyadari, sebenarnya kita pernah bahkan sering menjumpai waktu dimana kita merasa memiliki kesempatan dan harapan, namun disisi lain kita juga sangat menyadari bahwa sedang berhadapan dengan ketidakpastian dan ketidakmungkinan. Dan sebenarnya, kita tahu bahwa peluang terjadinya ketidakpastian dan ketidakmungkinan itu justru lebih besar. Lalu, bagaimana bisa kita tetap merasa senang, bahkan menggebu-gebu seolah kita memiliki kesempatan mendapatkan hal tersebut? Yaaaa.. itulah yang disisakan harapan dan angan yang kita bangun sendiri, sebenarnya.

Semuanya memang mungkin dalam hidup ini, tapi kita harus ingat bahwa dalam hidup inipun ada yang disebut PERKIRAAN.
Semuanya memang mungkin, tapi juga tidak menutup kemungkinan, kita mampu memperkirakan mana yang bisa kita dapatkan dan kita raih serta mana yang tidak bisa.

Lalu apa yang harus kita lakukan dengan harapan yang ternyata kesempatan untuk mendapatkannya hanyalah sebuah angan?

JANGAN TAKUT UNTUK MEMATAHKAN HARAPAN KITA SENDIRI.

Dengan apa? Dengan sengaja mengajak diri kita melihat ketidakpastian yang sebenarnya itulah yang akan kita temui nantinya. Mungkin sebenarnya bukan untuk mematahkan harapan dan angan yang sudah terlanjur ada, namun setidaknya itu bisa sedikit mengurangi. Dengan cara inilah kita bisa menjaga hati dan perasaan kita sendiri yang mana mungkin akan lebih berat jika kita tetap berharap dan menciptakan angan, padahal yang akan kita temui nanti adalah ketidaksesuaian harapan.

Ini bukan tentang larangan berharap. Ini bukan tentang tidak percaya bahwa segalanya itu mungkin.
Tapi ini tentang KEBIJAKSANAAN menjaga hati dan perasaan untuk sesuatu yang bisa saja kita temui, yaitu ketidakpastian..

Selasa, 11 Maret 2014

Bukan apa, tapi bermakna!


Sebenernya, banyak banget hal yang membawa pelajaran berharga untuk kita. Sekecil apapun itu. Sesuatu yang ga pernah kita anggap bermakna, bahkan.

1. Bolpen favorit

Kalo aku sih punya satu bolpen favorit yang kalo ga nulis pake bolpen itu, rasanya ga enaaaakkkk banget.   Tulisannya jadi ga rapilah, terlalu tipislah, ketebelan lah, dll. Kalian punya? Kita bisa belajar satu hal tentang hidup lho. Coba deh, kita nulis pake bolpen yang paling ga kita suka. Walaupun ada bolpen favorit kita, jangan ganti. Buat keadaan seolah-olah kita ga punya pilihan lain selain bolpen yang ga kita suka itu. Apapun jadinya tulisan kita, mau jadi jelek, ketebelan, ketipisan atau apapun itu, biarin aja. Apapun hasilnya, terima. Coba terus cara ini. 

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari ini?
Kita bakal tau bahwa kadang dalam hidup ini kita dihadapkan pada satu pilihan yang ga sesuai dengan harapan dan keinginan. Dan….. kita ga punya pilihan lain selain menjalani apa yang harus kita terima (itulah kenapa tadi jangan ganti bolpen walaupun ada bolpen favorit yang bisa dipake. buat seolah-olah kita ga punya pilihan lain). Prosesnya? Mungkin ga akan sesuai sama yang kita harapkan. Tapiiiiiii, apapun itu, walaupun harus dengan sesuatu yang ga kita suka, tetap menghasilkan sesuatu kan?

2. Kertas kosong

Coba deh, ambil selembar kertas kosong. Tulis apa aja yang pengen kita tulis dikertas itu. Pake bolpen ya, jangan pake pensil. Dan gaboleh pake tip-ex. Apapun yang kita mau, tulisin disitu. Teruuuusss nuliiiiss. Nah, nanti kalo ada salah nulis, typo gitu, dicoret aja tulisannya. Diulang terus ya. Kalo bisa sih nulisnya yang panjang biar nanti jelas hasilnya. Kalo udah selesai, liat tulisan itu. Tau ga apa yang barusan kita tulis? GAMBARAN KEHIDUPAN. 

Kesalahan dalam penulisan yang kita lakukan, tidak akan bisa terhapus. Tapi, kita punya kesempatan untuk memperbaiki dibait atau dibaris selanjutnya. Begitu juga kehidupan. 
Apa yang sudah kita lakukan, tidak akan bisa terhapus. Kita memang diciptakan dengan kekurangan sehingga pasti melakukan kesalahan. Tapi, kita harus ingat satu hal bahwa kita diberi kemampuan dan kesempatan untuk memperbaikinya.

3. Pilih jalan yang macet!

Pernah ga kita sengaja pilih jalan yang macet? Selagi emang ga ada agenda lagi, sesekali perlu lho sengaja lewat jalan yang macet. Buang waktu? Engga kok sebenernya kalo kita mau ambil pelajarannya. Macet? Lama & rumit, tapi sampe juga. Tapi sadar ga kita kalo ada pelajaran hidup dari macet?

Hidup kita kan emang? Kadang kita harus nglewatin proses yang ga enak buat bisa mencapai sesuatu. Sama kayak macet itu tadi. Ga peduli selama apapun macetnya, kita akan sampe ke tempat yang kita tuju. Ga peduli gimana prosesnya, kita akan sampai pada tujuan kita.

4. Nah, dinomor ini aku mau cerita pengalaman liburanku ke Bali ya.

Waktu di Bali, aku jalan gitu di atas karang-karang sama mama. Aku yang di depan, gandeng mama. Tapi mama di belakang kasih komando, harus ke sana, ke sini, jangan nginjek karang yang ini, jangan yang itu, dll. Seketika aku tersadar. Begitulah kehidupan.
Akan ada saatnya anak di depan. Dihadapkan perjalanan yang ga mudah, harus bisa menentukan pilihan dengan baik karena ada orang yang bergantung sama kita. Iya kan? Kalo salah napak di karang, yang bakal jatoh ga cuma aku, tapi juga mama ku. Tapi walaupun anak di depan, bukan berarti orang tua berhenti mengarahkan jalan mana yang sebaiknya kita pilih. Ketika kita harus mampu menjadi pribadi yang mandiri, kita tetap membutuhkan nasehat orang tua. Harus dan perlu dinasehati. Tidak bisa menutup telinga dan mata untuk hal yang satu ini.
Hmmmm.. apalagi ya??? Banyak kok sebenernya. Banyak banget. Belajar jadi pribadi yang tidak mengabaikan hal yang tampak ga bermakna yuk, siapa tau ada pelajaran besar di baliknya :)

Minggu, 02 Maret 2014

Anggap saja begitu....


Ketika realita tidak sama seperti apa yang kita harapkan, jangan memperburuk keadaan dengan keluhan.
Ketika realita tidak sama seperti apa yang kita inginkan, jangan semakin dalam kita membawa diri kita pada kekecewaan.

Ya, anggap saja begitu..

"Kenapa sih ini pake hujan segala malem minggu, pengen keluar tau! bosen dirumah!"
Ssttt… di luar sana banyak sekali orang yang dengan susah payah menerjang hujan demi membawa hasil untuk keluarga mereka di rumah. Mungkin Tuhan meminta kita belajar untuk tidak hanya membuang waktu dan uang untuk hanya sekedar senang dan penghilang rasa bosan. Anggap saja begitu.

"Kenapa sih harus sakit? Ada yang harus aku kerjain nih!"
Siapa tau, Tuhan meminta kita untuk sejenak saja beristirahat. Tubuh kita memiliki haknya untuk diistirahatkan, bukan? Anggap saja begitu.

"Ini apa-apaan sih pake ga ada duit segala, pengen nyalon tau! pengen beli baju, pengen beli sepatu"
Siapa tau, Tuhan tidak memberi rezekiNya kepada kita karena kita hanya akan menggunakannya untuk sebuah keinginan. Di luar sana, bahkan untuk makan hari ini saja mereka tidak dapat mencukupi. Apalagi esok hari. Anggap saja begitu.

"Ini kenapa lagi mobil pake gabisa dipake? Harus naik motor kan jadinya?!"
Bukankah yang naik motor masih patut disyukuri daripada yang naik sepeda? Bukankah yang naik sepeda masih patut disyukuri daripada yang jalan kaki? Anggap saja begitu.

"Kenapa siiiiihhhh aku disini-sini ajaaa. Berusaha udah, berdoa udah, semua udah. Tapi ga bisa kayak orang-orang itu. Sedikit aja dong pengen lebih tinggi kayak mereka!"
Siapa tau, kita akan lupa diri di tingginya posisi, itulah sebabnya kita tetap di sini. Bukan untuk disesali kok. Dimanapun kita berada, ketika kita memaksimalkan semuanya, tidak akan pernah menjadi sia-sia. Anggap saja begitu.

"Punya badan kok ngga banget sih ya. Ini perut gede banget, betis juga, bahu juga lebar banget. Ga ada bagusnya diliat!"
Hey…. Siapa tau, Tuhan menjaga kita dari hal yang tidak diinginkan, justru dari apa yang kita anggap sebagai kekurangan. Bayangkan kalau tubuh kita seindah yang kita mau, belum tentu kita bisa menutupinya. Mungkin saja kita akan dengan bangga memamerkan keelokan tubuh kita. Oh bukan, bukan soal agama yang membolehkan atau melarang kita memakai baju terbuka, tapiiiii bukankah wanita akan selalu menjadi mutiara di depan para pria? Anggap saja begitu.

"Kenapa waktu itu aku harus ngalamin hal yang ga enak banget kayak gitu? Sumpah! Jatuh tu ga enak banget!"
Tuhan memang menjatuhkan kita lewat dinamika kehidupan, agar kita mengambil pelajaran. Meminta kita menjadi pribadi yang lebih paham melalui pelajaran tersebut. Lebih paham apa? Lebih paham dalam segala hal. Bukan seberapa sering kita jatuh, namun seberapa banyak pelajaran yang kita ambil dari kegagalan yang kita alami. Kalau tidak sesakit itu, mungkin kita tidak akan sehebat ini sekarang. Anggap saja begitu.

Intinya…
Ketika ketidaksesuaian terjadi antara harapan dengan kenyataan dan kita masih bisa mengubahnya, maka usahakanlah. Ketika tidak, cara kita memandang suatu hal lah yang harus diubah. Semua hanya soal persepsi.

Rabu, 26 Februari 2014

Selamat jalan, Adikku...


Setiap dari kita, sebelum terlahir ke dunia ini, sudah membuat perjanjian dengan Sang Pencipta. Tawar-menawar mungkin lebih tepatnya.
Sanggup atau tidak kita akan segala sesuatu yang akan kita terima di dunia, suka duka, tangis bahagia, perbincangan tentang jodoh, rezeki dan maut sekalipun, kita sudah berbincang dengan Tuhan tanpa mengingatnya, ternyata…...

TERIMAKASIH, DEK…..

Kamu sudah menyanggupi banyak hal..
Kamu menyanggupi terlahir untuk menjadi anak yang jauh lebih dewasa dari anak seumurmu lainnya…
Kamu menyanggupi terlahir untuk menjadi penolong bagi ibumu kelak di akhirat..
Kamu menyanggupi terlahir untuk menjadi temanku, sahabatku..
Kamu menyanggupi terlahir ikhlas menerima sakit yang harus kau derita…
Kamu menyanggupi terlahir untuk menjadi anak yang membawa pelajaran berharga bagi kami semua..

2 tahun terakhir ini, aku melihatmu harus terus berteman dengan obat-obatan, kesana kemari mencoba segala pengobatan, menahan sakit yang kau bungkus dengan senyuman dan tawamu yang renyah terdengar di telinga...
Umurmu masih begitu muda, dek.. 13 tahun………
Umur dimana harusnya kamu sedang mengepakkan sayapmu selebar mungkin, terbang setinggi mungkin..
Tapi, tidak dengan kamu dek……

Sebelum atau sesudah sakit itu ada di tubuhmu, kamu tetaplah kamu..
Kamu yang sangat dewasa, yang sangat sopan, sangat perhatian, sangat teliti, dan ceria….
Di tengah rasa jenuhmu harus berteman dengan segala obat-obatan itu, satu hal yang membuat kami kagum dek…

"Sakit ini anugrah buat aku, ini yang mbuat aku lebih deket sama Allah. Kalo aku ga sakit, mungkin aku sekarang jadi anak ga bener. Pergaulan jaman sekarang kan serem…."

Subhanallah……. Begitu mulianya dirimu… Anak sekecil kamu,dek……
Kamu membawa pelajaran yang begitu berharga untuk kami semua..
Setiap hari harus selalu ada obat yang masuk ke tubuhmu, dan setiap hari pula selalu terpikir bagaimana memenuhinya..
Itu membuat kami TERSADAR….. Bahwa ternyata tidak hanya kesenangan yang harus dipikirkan di dunia ini..
Tidak hanya bagaimana mencari materi untuk memenuhi keinginan-keinginan duniawi.
Menyadarkan kita bahwa hidup tidak hanya sekedar dibohongi, tidak hanya sakit ditinggal kekasih, bukan hanya membesarkan masalah yang kecil namun melupakan hal yang sangat penting.

Apa hubungannya dengan kami yang tidak mengalami? Ada….
Ketika kami tidak mengalami, setidaknya ini bisa membuat kami menyeimbangkan hidup kami..
Setidaknya kami bisa sedikit mengingat bahwa hidup bukan hanya tentang duniawi..

Selamat jalan adikku….
Selamat jalan kamu, temanku bercerita..
Selamat jalan kamu, yang selalu mengajakku sholat bersama..
Selamat jalan kamu, yang tidak pernah lupa mengingatkan aku akan semua kebutuhanku..

Terimakasih untuk pelajaran berharga ini..
Tidurlah nyenyak dipelukan Sang Pencipta.. Tawamu, senyummu, candamu, semua tentangmu tidak akan pernah kami lupakan..
Kami begitu menyayangimu, dek. Tapi kiranya Allah lebih menyayangimu.

--Semoga kita mampu menjadi orang yang tidak hanya memikirkan kesenangan, banyak hal yang lebih sulit yang harus disiapkan--

Minggu, 16 Februari 2014

Di sana, belum tentu ringan..


"Kalo tau kayak gini, mending kemaren pilih yang itu aja! YANG INI GA ENAK!!!"
"Kalo tau ini susah, ga bakal deh aku mau…."
"Harusnya aku ga gitu kemaren, biar ga jadi kayak gini sekarang!!! AKU JENGKEL!!! NYESEL!!!"

Seringkali keluhan-keluhan itu keluar dari mulut kita. Keluhan yang muncul karena ketidaksesuaian kenyataan dengan apa yang kita harapkan.
Salahkah? Tidakkkk… Marah, mengeluh, sedih, dan apapun yang kita rasakan karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan itu wajar. Sah-sah saja.

Namun….. Mungkin ada satu yang kita lupa sehingga emosi -khususnya emosi negatif- yang keluar dari ketidaksesuaian itulah yang menguasai hati dan pikiran kita. Coba renungkan ini………

Apapun yang sedang kita jalani saat ini yang mana mungkin adalah pilihan kita sendiri, mungkin memang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Sulit ya? Berat ya? Rasanya kalau bisa, ingin memilih yang lain, bukan?

--Setiap jalan, memiliki likunya sendiri--

Itu yang harus kita ingat, setiap jalan memiliki likunya sendiri..
Memang benar, andaikan kita memilih jalan lain kala itu, mungkin akan lebih baik dari ini.. Tapi, hanya sisi baiknya saja kan? Sisi sulitnya, sisi cobaannya, belum tentu lebih ringan dari apa yang kita alami sekarang. Pilihan yang lain juga akan menemui rintangannya sendiri. Kita tidak tahu kan akan seberat apa di jalan yang lain? Pun, kita tidak akan tahu akan seperti apa perjalanan yang kita tempuh saat ini. Siapa tahu akan menjadi lebih mudah. 

Kalau apa yang kita alami saat ini dianggap berat, maka jangan membuatnya lebih berat dengan keluhan.
Tuhan tidak akan pernah lupa memberi bekal untuk kita saat kita harus menjalani kehidupan ini. Bekal apa? Bekal itu berupa keberanian, kekuatan, kesabaran, dan hal baik yang lainnya lagi. Semua tinggal bagaimana kita. Mau menggunakannya atau tidak.

--Disini, di jalan ini kita ditempatkan. Maka,  akan selalu ada kekuatan, kemudahan, dan kemampuan untuk menempuh perjalanan--

Jumat, 14 Februari 2014

Makna disetiap ada..


Kenapa harus ada orang sombong?
Mereka ada agar kita tahu bahwa rendah hati dan rendah diri adalah jauh lebih mulia.

Kenapa harus ada orang yang tidak juga paham setelah berulang kali diajarkan dan diingatkan?
Mereka ada agar kita tahu bahwa mengajarkan itu membutuhkan kesabaran. Mereka ada agar kita tahu bahwa tidak boleh ada kata berhenti untuk menyebarluaskan kebaikan dan selalu mengingatkan.
 
Kenapa harus ada orang bodoh?
Mereka ada agar kita tahu bahwa Tuhan mengizinkan kita menjadi bermanfaat bagi sesama dengan mengajarkan. Ketika kita merasa lebih mampu, ajarkanlah.

Kenapa harus ada orang pintar? Malu terkadang melihat kemampuan diri sendiri.
Mereka ada agar kita termotivasi untuk memperkaya diri dengan ilmu.

Kenapa harus ada orang yang hidupnya serba kurang namun tanpa berat hati, ia berbagi sana sini?
Mereka ada agar kita tahu bahwa memberi tidak akan mengurangi yang kita miliki.

Kenapa harus ada orang yang hidupnya bergelimang harta, serba berkecukupan namun enggan membuka tangan? Harta selalu digenggamnya.
Mereka ada agar kita tahu bahwa harta bukanlah apa kalau tidak membaginya dengan sesama. Kita tentu enggan dekat dengan orang yang kikir, bukan? Darimana kehangatan bisa dirasakan?

Kenapa harus ada orang yang gemar memamerkan yang dimilikinya?
Mereka ada agar kita tahu bahwa sederhana lebih bersahaja.

Kenapa Tuhan tidak menciptakan kita di ruang hampa? Karena Tuhan meminta kita untuk mengambil pelajaran dihadirnya sesama.

--Carilah makna disetiap kehadiran yang ada. Maka pelajaran yang dibawa olehnya, akan memberi ruang kepada kita untuk mensyukurinya. Dan karenanya, semoga hebatlah kita dalam memaknai segala sesuatu yang ada--

Kamis, 13 Februari 2014

Bakti ini harga mati..


"Aku ini sudah dewasa, Bapak Ibu tidak perlu lagi mencampuri urusanku"

Kita, terkadang lupa bahwa.. 

Seorang anak tidak akan mampu menutup mata dan telinga dari nasehat dan bimbingan orang tua. Sampai kapanpun. Apapun.

Posisikan orang tua diatas kita, agar saat kita melihat keatas, kita melihat bintang, muncul rasa ingin meraihnya utk mereka.

Posisikan mereka diarah pandangan kita saat menunduk, agar kita ingat, dalam tunduk pilu, ada mereka disana dengan doa dan kasihnya.

Posisikan mereka didepan mata kita, agar kita tahu ada mereka yg slalu membimbing kita.

Posisikan mereka dibelakang kita, agar kita tahu ada mereka yg slalu mendukung kita.

Posisikan mereka disamping kita, agar kita tahu mereka slalu mendampingi kita.

Posisikan mereka dihati kita, agar kita selalu ingat bahwa kita harus selalu berbakti kepada mereka, orang yang doa dan restunya bisa membuka pintu langit dimana mungkin doa dan harapan kita tertahan disana. 

"Lalu, bagaimana dengan orangtua yang tidak bersikap baik terhadap anaknya?"

Bagaimana mereka memperlakukan anaknya, itu tanggung jawab mereka terhadap Tuhan. Biarlah itu menjadi urusan mereka. Tapi sebagai anak, sudah seharusnya tetap bersikap baik. Tidak berbicara seolah mereka tidak berarti lagi untuk kita, contohnya. Serta, yang tidak boleh terlupa; doa. Itulah wujud tanda bakti.

Rabu, 12 Februari 2014

Mendengar dengan bijaksana..


Mereka memintaku untuk tidak mendengar apa yang orang katakan. Namun saat ini, mereka memintaku untuk tidak menuruti pikiranku sendiri. Dengarkan orang lain, katanya.

--Hidup akan selalu membuat kita serba salah, kalau kita tidak melihat apa yang dibawanya dengan lebih jauh dan bijaksana--

Tuhan, tidak menciptakan kita seorang diri di dunia ini karena sebuah alasan. Salah satunya adalah karena kita membutuhkan orang lain. Mendengarkan orang lain, itu perlu. Lalu, kenapa lewat orang-orang itu, hidup juga meminta kita untuk mengabaikan mereka?

Lihatlah lebih jauh dan bijaksanalah. Orang yang seperti apa yang harus kita dengarkan dan seperti apa yang harus kita abaikan, kita harus tahu persis akan itu.

Dengarkan mereka! Siapa???
Mereka yang hebat dalam perjuangannya. Mereka yang ceritanya dapat memotivasi. Mereka yang dengan ketulusannya, memberi arahan agar langkah tak kehilangan arah. Mereka yang berpengalaman. Mereka yang mengerti. Mereka yang memahami. 

Kenapa mereka harus kita dengarkan? Karena kita sadari atau tidak, langsung atau tidak langsung, apa yang mereka sampaikan akan membawa energi positif dalam hidup kita. Entah menjadi motivasi, bahan pertimbangan ataupun pedoman.

Jangan dengarkan mereka! Siapa???
Mereka yang hanya menyalahkan langkah kita tanpa mau memberikan solusi. Mereka yang hanya berkomentar tanpa tahu alasan. Mereka yang memaksa kita mengikuti pendapatnya seakan dia lupa bahwa kitalah sang pengambil keputusan. Mereka yang terus mencaci seakan mereka berhak mencampuri. 

Kenapa kita tidak perlu mendengarkan mereka? Karena mereka memang tidak ada hubungannya dengan apa yang kita lakukan. Berhasil tidaknya, teraih atau tidaknya, tidak akan mempengaruhi hidup mereka pula. Apa yang mereka katakan hanyalah bukti bahwa dalam hidup ini, setiap orang memang mempunyai hak untuk berkomentar atas apa yang kita lakukan.

--Tidak semua yang tersampaikan, harus didengarkan--

Lag-lagi tentang semut..


Terpikir olehku, kenapa semut-semut ini mati didalam sebuah botol berisikan gula yang sepertinya itu adalah santapannya, ya?

Ah……. aku tahu! Segala yang berlebihan itu tidak baik, ya?

Iya, benar. Gula selalu identik dengan semut. Semut cinta sekali menikmati manisnya. Lalu, kenapa semut itu mati di tengah manis santapannya?
Mungkin, fenomena itu terjadi karena diizinkan Tuhan untuk memberi gambaran akan kehidupan. Ya, yang berlebihan itu tidak baik.
Terlalu menikmati harta, terlena dengan kesenangan dunia, akan membuat kita mati. Mati yang seperti apa? Seperti semut itu? Mati yang benar-benar nyawa meninggalkan raga?

Bukan, bukan……. Tapi hati kita yang akan mati. Kemampuan untuk memaknai kita yang akan mati. Kemampuan untuk sekedar menyadari pun, juga akan ikut mati. Menyadari apa?

Menyadari bahwa…..
Terlalu menikmati harta, terlalu menikmati kesenangan dunia, akan membuat kita lupa. Lupa bersyukur, lupa menahan diri, lupa mendekatkan diri kepada sang Ilahi, lupa bahwa apa yang kita miliki tidak sepatutnya kita nikmati sendiri. Namun juga untuk dibagi……

--Cukup adalah salah satu cara untuk dapat memaknai hidup--

Peribahasa itu, benar adanya..


Ada gula, ada semut…..

Kugigit donat manis itu, lalu aku tinggalkan karena handphoneku berdering.
Setelah selesai asyik mengobrol dengan temanku, aku ingin kembali menikmati lembut dan manisnya donatku. Ah….. Kudapati donatku penuh dengan semut yang sepertinya ingin juga menikmati manisnya donat itu. Sama sepertiku.

Darimana datangnya semut-semut ini, pikirku. Tak ku lihat satupun semut dimeja tempat aku meninggalkan santapanku siang itu. Begitulah kehidupan sepertinya. 

--Tuhan akan selalu melangkahkan kaki makhlukNya menuju nikmat rezekiNya--

Jangan takut akan kekurangan. Kesulitan untuk memenuhi kebutuhan, mungkin selalu kita temukan dalam hidup ini. Tapi kita harus percaya, bahwa Tuhan tidak pernah ingkar janji. Sedikit atau banyak yang kita terima, itu masalah bagaimana kita menganggapnya. Tapi satu yang pasti, apapun yang kita terima, itulah anugerah dan nikmatNya. 

Ketidakbaikan itu, baik ternyata..


"Ah… Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik itu omong kosong!" keluh wanita dengan 3 anak kepadaku.

Rasa-rasanya tidak pernah aku tidak menuruti katanya. Aku juga tidak pernah melakukan sesuatu di luar kodratku sebagai wanita. Aku tidak mengenal dunia malam, minuman keras ataupun hal yang tidak sepantasnya. Tapi kenapa, aku mendapatkan suami seperti ini? Mendengar pendapatku pun tidak. 

Coba kenali dirimu saat ini dengan dirimu yang dulu, kataku. Apa yang berbeda?
Dia termenung lama, mencoba mengenali dirinya.

"Aku lebih taat terhadap Tuhanku, sepertinya" katanya dengan nada mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

"Sejak kapan?" tanyaku untuk membantunya meyakinkan keraguannya.
Sejak aku dipusingkan sikap suamiku, jawabnya.

Nah! Tidak kah kamu sadar bahwa suamimu adalah suami yang baik dengan segala kekurangannya? Kekurangannya menjadikanmu lebih baik lagi dari sebelumnya, bukan? Pernahkah terbayang jika kamu mempunyai suami yang tidak seperti suamimu? Pernahkah terbayang jika kamu mempunyai suami yang semua sikapnya sesuai dengan keinginanmu? Mungkin saja, mungkin, kamu tidak akan setaat ini karena kamu terlena oleh terpuasnya keinginanmu. Nyatanya, kamu bisa menjadi lebih baik karena ketidakbaikan suamimu.

Begitulah kehidupan……

Apa yang menjadikan kita baik, tidak harus berasal dari hal yang baik. Pun, tidak semua hal yang mengecewakan, tidak membawa pelajaran. Selalu ada hal yang bisa dipetik dalam kehidupan ini. Selalu ada pelajaran berharga dibalik tidak terpenuhinya keinginan yang berujung kekecewaan itu.

--Maknai setiap hal yang terjadi dalam hidup ini, agar kita mengerti, agar kita memahami, agar kita mensyukuri--

Kita tahu kapan kita harus berhenti....


Sedang duduk termenung menikmati senja. Tetiba datang kawan dengan keluhannya.

"Kata orang aku harus terus berusaha, lalu kenapa sekarang aku dimintanya pasrah?"

Pesanlah dulu segelas teh hangat, suruhku dengan nada seperti seorang Ibu yang dengan lembut meminta anaknya mencuci kakinya sepulang sekolah.

Kamu harus mampu menerjemahkan kata usaha dan pasrah itu dengan tepat, kataku. Tidak ada pencapaian tanpa sebuah perjuangan. Itulah kehidupan. Itulah yang menjadikan pinta mereka agar kamu terus berusaha itu benar. Jangan takut gagal. Ketika kamu gagal, cobalah lagi. Dan ketika kamu ingin menyerah, berpikirlah bagaimana kalau ternyata yang kamu inginkan, akan teraih jika kamu mencobanya sekali lagi. 

"Lalu, kenapa aku dimintanya pasrah?"

Aku mengelus pipinya seperti seorang Ibu yang mengelus pipi anaknya dengan manja. Hey….. Jangan lupakan satu hal; Tuhan. Bagianmu, akan tetap menjadi bagianmu. BagianNya pun, akan selalu menjadi bagianNya.

Berusaha itu kewajiban kita sebagai manusia. Sebagai makhluk bernyawa yang mencari sebuah jawaban atas apa yang kita usahakan. Tapiiii…. teraihnya keinginanmu bukan karena peranmu sendiri. Izinkan Tuhan berperan.

--Setelah kita berusaha, biarkan Tuhan mengerjakan yang menjadi bagianNya--

Bagaimana kalau ternyata Tuhan akan mengabulkan apa yang kita inginkan saat kita ada dititik pasrah? Bagaimana kalau Tuhan akan mengabulkan apa yang kita inginkan saat kita sudah sangat lelah karena kita berusaha selama ini?

"Lalu, tunggu dulu. Bagaimana caranya aku tahu, bahwa saat aku memilih pasrah justru saat itulah aku harus mencoba lagi? Bukan kah tadi katamu, aku harus berpikir bagaimana kalau ternyata yang aku inginkan, akan teraih jika aku mencobanya sekali lagi?"

Tuhan adalah penggerak hati. Ketika kamu dan kita semua masih berusaha, itu karena Tuhan memang meminta kita untuk masih dan terus berusaha. Saat kita mulai lelah dan akhirnya pasrah, pun karena Tuhan meminta kita untuk mengizinkanNya melakukan yang menjadi bagianNya. Entah kita sadari atau tidak, begitulah adanya.

--Kita akan tahu kapan kita harus berhenti--